Jakarta,corebusiness.co.id-CEO Saudi Arabian Oil Company (Saudi Aramco) Amin Nasser mengungkapkan, dunia telah kehilangan sekitar 1 miliar barel minyak selama dua bulan terakhir dan pasar energi akan membutuhkan waktu untuk stabil bahkan jika aliran kembali normal.
Musababnya, kata Naseer, karena penutupan jalur Selat Hormuz oleh Iran, sehingga menghambat lalu lintas pengiriman minyak dari Timur Tengah ke berbagai negara importir.
“Tujuan kami (Aramco) sederhana, yaitu menjaga aliran energi tetap berjalan. Bahkan ketika sistem sedang dalam tekanan,” kata Nasser kepada Reuters, Minggu (10/5/2026), dalam sebuah pernyataan setelah Aramco melaporkan lonjakan laba bersih sebesar 25% pada kuartal pertamanya.
Pasokan energi global telah tertekan tajam oleh blokade Iran terhadap Selat Hormuz, yang telah membatasi pengiriman dan mendorong harga lebih tinggi setelah perang AS-Israel versus Iran.
“Membuka kembali rute tidak sama dengan menormalkan pasar yang telah kehilangan sekitar satu miliar barel minyak,” kata Nasser, seraya menambahkan bahwa kurangnya investasi selama bertahun-tahun telah memperburuk tekanan pada persediaan global yang sudah rendah.
Aramco telah menggunakan pipa timur-baratnya untuk melewati Selat Hormuz dan mengangkut minyak mentah ke Laut Merah, sebuah aset yang digambarkan Nasser sebagai “jalur kehidupan yang sangat penting” untuk mengurangi krisis pasokan global.
Terlepas dari perubahan rute pengiriman, Nasser menegaskan kembali bahwa Asia tetap menjadi prioritas utama bagi perusahaan dan merupakan pusat dari permintaan global. (Rif)