Jakarta,corebusiness.co.id-Harga properti residensial di pasar primer pada triwulan II 2026 secara tahunan meningkat terbatas. Dari sisi penjualan mulai membaik meskipun masih mengalami kontraksi 2,36 persen.
Bank Indonesia baru saja mengumumkan Indeks Harga Hasil Survei Harga Properti. Hasil survei menunjukkan harga properti residensial di pasar primer pada triwulan II 2026 secara tahunan meningkat terbatas. Kondisi ini tecermin dari Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) pada triwulan II 2026 yang tercatat sebesar 110,89 atau tumbuh sebesar 0,69 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan I 2026 sebesar 0,62 persen (yoy).
Peningkatan tersebut terutama dipengaruhi oleh pertumbuhan harga rumah tipe besar. Indeks harga rumah tipe besar tercatat sebesar 108,41 atau tumbuh sebesar 0,68 persen (yoy), meningkat dibandingkan triwulan I 2026 sebesar 0,50 persen (yoy).
Di sisi lain, indeks harga rumah tipe kecil tercatat sebesar 113,89 atau tumbuh melambat sebesar 0,49 persen (yoy) dari triwulan I 202 6 sebesar 0,61 persen (yoy). Sementara itu, indeks harga rumah tipe menengah tercatat sebesar 114,01 dengan pertumbuhan relatif stabil dibandingkan dengan triwulan I 2026.
Secara spasial, dari 18 kota yang disurvei, sepuluh kota mengalami peningkatan pertumbuhan IHPR secara tahunan, tujuh kota mengalami penurunan pertumbuhan, dan satu kota mencatatkan pertumbuhan yang relatif stabil. Peningkatan pertumbuhan harga rumah salah satunya tercatat di Banjarmasin pada triwulan II 2026 sebesar 1,29 persen (yoy) dari sebelumnya 0,52 persen (yoy). Pertumbuhan harga rumah juga terjadi di Pekanbaru, tercatat mengalami perbaikan menjadi 3,23 persen (yoy) dari sebelumnya terkontraksi sebesar 0,03 persen (yoy).
Sebaliknya, harga rumah di Padang dan Balikpapan melambat masing-masing menjadi 0,63 persen (yoy) dan 1,19 persen (yoy) pada triwulan II 2026 dari sebelumnya sebesar 1,21 persen (yoy) dan 1,44% (yoy).
Secara triwulanan, IHPR di pasar primer pada triwulan II 2026 tumbuh sebesar 0, 26 persen (qtq), meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 0,04 persen (qtq). Peningkatan tersebut terutama didorong oleh harga rumah tipe menengah yang tumbuh sebesar 0,40% (qtq).
Penjualan
Penjualan properti residensial di pasar primer pada triwulan II 2026 secara tahunan mengalami perbaikan. Pertumbuhan penjualan properti residensial meningkat meski masih terkontraksi sebesar 2,36 persen (yoy), dari sebelumnya terkontraksi lebih dalam sebesar 25,67 persen (yoy) pada triwulan I 2026.
Peningkatan pertumbuhan penjualan rumah tersebut dipengaruhi oleh pertumbuhan penjualan rumah tipe kecil meski masih terkontraksi sebesar 2,88 persen (yoy) dari sebelumnya terkontraksi lebih dalam sebesar 45,59 persen (yoy). Selain itu, peningkatan tersebut juga didorong oleh perbaikan pertumbuhan penjualan rumah tipe besar yang tercatat sebesar 13,08 persen (yoy) dari sebelumnya terkontraksi sebesar 8,03 persen (yoy).
Di sisi lain, penjualan rumah tipe menengah turun dari sebelumnya 8,28 persen (yoy) menjadi terkontraksi sebesar 10,51 persen (yoy) pada triwulan II 2026.
Secara triwulanan, pertumbuhan penjualan rumah pada triwulan II 2026 mencatatkan perbaikan sebesar 9,39 persen (qtq) dari sebelumnya terkontraksi sebesar 7,69 persen (qtq) pada triwulan I 2026. Peningkatan tersebut terutama disebabkan oleh penjualan rumah tipe kecil dan besar yang mencatatkan perbaikan masing-masing sebesar 30,33 persen (qtq) dan 24,41 persen (qtq), dari sebelumnya terkontraksi sebesar 14,68 persen (qtq) dan 20,38 persen (qtq).
Sementara itu, penjualan rumah tipe menengah mengalami perbaikan meski masih terkontraksi sebesar 8,59 persen (qtq), sedikit lebih kecil dari kontraksi di triwulan sebelumnya sebesar 10,72 persen (qtq).
Berdasarkan hasil survei, tantangan utama pengembangan dan penjualan properti residensial pada pasar primer meliputi kenaikan harga bahan bangunan (27,10 persen), suku bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR) (15,96 persen), masalah perizinan/birokrasi (14,87 persen), proporsi uang muka yang tinggi dalam pengajuan KPR (11,53 persen), dan perpajakan (9,75 persen).
Sumber Pembiayaan
Sumber pembiayaan utama pengembang dalam pembangunan properti residensial masih berasal dari dana internal perusahaan dengan pangsa 73,28 persen dari total kebutuhan pembiayaan. Sumber pembiayaan lainnya berasal dari pinjaman perbankan sebesar 17,89 persen dan pembayaran dari konsumen sebesar 8,83 persen. Dari sisi konsumen, mayoritas pembelian rumah di pasar primer dilakukan melalui skema KPR dengan pangsa sebesar 70,05 persen dari total skema pembelian.
Sementara itu, pembelian rumah primer melalui pembayaran tunai bertahap dan tunai masing-masing memiliki pangsa sebesar 20,60 persen dan 9,35 persen.
Pada triwulan I I 2026, total nilai KPR secara tahunan tumbuh sebesar 4,70 persen (yoy), melambat dibandingkan 4,79 persen (yoy) pada triwulan sebelumnya. Secara triwulanan, nilai KPR tumbuh sebesar 1,24 persen (qtq), lebih tinggi dibandingkan 0,37 persen (qtq) pada triwulan I 2026. (Gaska)