Informasi Lengkap DFSK E5 Plus, Klik: https://www.dfskmotors.co.id/Passenger/E5Plus.html
Jakarta,corebusiness.co.id-Penjualan kendaraan listrik (electric vehicle/EV) meningkat pesat di sebagian besar Eropa pada Juli 2026. Harga harga minyak yang tinggi, subsidi, dan ketersediaan model yang lebih terjangkau, mendorong konsumen beralih menggunakan EV. Bagaimana di Indonesia?
Penjualan EV telah melonjak di seluruh Eropa sejak perang Iran melawan AS-dan Israel dimulai 28 Februari 2026, dan menyebabkan kenaikan harga bahan bakar. Warga Eropa mencari cara untuk melindungi diri dari volatilitas harga bahan bakar. Salah satunya adalah beralih menggunakan EV dan meninggalkan kendaraan konvensional berbasis bahan bakar.
“Kita berada di titik kritis di mana kendaraan listrik menjadi bagian dari arus utama,” kata Direktur Pelaksana Renault Inggris, Adam Wood, kepada Reuters di dealer produsen mobil Prancis tersebut di Letchworth, 64 km di utara London.
Adam menyebutkan, dua tahun lalu, Renault hanya mampu menjual 10 persen produk EV di Inggris. Sebaliknya, pada Juli tahun ini, penjualan EV mencapai lebih dari 50 persen dari pesanan perusahaan.
Menurut data industri, penjualan EV di Uni Eropa (UE) meningkat 40,5 persen pada semester pertama tahun ini dibandingkan periode yang sama tahun 2025, menjadi lebih dari 1,2 juta mobil, yang mewakili 20,7 persen dari total penjualan.
Data yang diberikan kepada Reuters oleh kelompok riset New Automotive dan kelompok industri E-Mobility Europe menunjukkan pendaftaran EV meningkat 13 persen dari tahun ke tahun pada Juli di 16 pasar, mencakup lebih dari 90 persen penjualan mobil di UE dan Asosiasi Perdagangan Bebas Eropa. Artinya, EV mencakup 25,7 persen dari seluruh penjualan mobil baru di pasar-pasar tersebut.
Di Belanda, pasar online yang berbasis di Amsterdam, OLX, mengatakan bahwa sejak perang Iran dimulai, permintaan pelanggan untuk EV telah melonjak di seluruh pasar mobil online mereka di Prancis (84 persen), Rumania (59 persen), Portugal (30 persen), dan Polandia (19 persen). Merek-merek Tiongkok yang dikenal dengan model-model terjangkau merupakan bagian yang semakin besar dari daftar EV.
“Orang-orang menjadi jauh lebih percaya diri dengan teknologi baru ini,” kata CEO OLX, Christian Gisy.
Dalam jajak pendapat akhir Juli terhadap 1.000 pengguna oleh pasar online Jerman, Carwow, sebanyak 62 persen responden mengatakan bahwa beralih ke EV adalah respons jangka panjang terbaik terhadap biaya bahan bakar yang terus tinggi.
Di Eropa, diberitakan Reuters, produsen mobil tradisional dan pesaing Tiongkok sama-sama telah meluncurkan semakin banyak model yang lebih terjangkau yang juga didukung oleh subsidi.
Hingga Juli 2026, sebanyak 29 persen mobil baru di Prancis adalah EV, dan menyumbang rekor 35 persen dari pendaftaran mobil baru, dibandingkan dengan 17 persen pada tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini terjadi seiring dengan dimulainya program subsidi EV “leasing sosial” negara tersebut untuk pembeli mobil berpenghasilan rendah.
Kepala analisis pasar otomotif di perusahaan riset AAA DATA, Marie-Laure Nivot, mengatakan, program tersebut menciptakan lingkungan yang mempercepat transisi ke EV.
Situasinya agak berbeda di AS, di mana pemerintahan Trump menghapus keringanan pajak federal untuk kendaraan listrik tahun lalu. Jadi, meskipun penjualan EV pada kuartal kedua naik 15 persen dibandingkan kuartal pertama, penjualan tersebut turun lebih dari 20 persen secara tahunan.
Cox Automotive memproyeksikan penjualan kendaraan listrik di AS akan turun 23 persen tahun ini dibandingkan tahun 2025, dengan pangsa pasar hanya 6,2 persen, yang juga mencerminkan kurangnya model yang terjangkau.
Kurangnya fasilitas pengisian daya publik tetap menjadi hambatan bagi kepemilikan EV bagi jutaan warga Eropa yang tinggal di apartemen.
“Kondisi ini menjadi masalah yang perlu diatasi agar penjualan terus tumbuh. Kita sedang mendekati titik jenuh karena ada orang yang mungkin ingin beralih ke kendaraan listrik, tetapi tidak bisa,” ungkap Ian Henry dari perusahaan konsultan AutoAnalysis.
Wholesales Kendaraan Konvensional Unggul di Indonesia
Bergeser ke Indonesia, berdasarkan data yang diterima corebusiness.co.id dari Ketua Pengembangan Pasar Gaikindo, Jongkie D. Sugiarto, penjualan mobil nasional (mobnas) teratas periode Juli 2026 masih ditempati kendaraan kategori bahan bakar minyak (BBM).
Gaikindo mencatat wholesales (pabrik ke diler) mobil nasional (mobnas) pada Juli 2026 sebanyak 81.115 unit atau meningkat 4,5 persen dibandingkan satu bulan sebelumnya, sebanyak 77.603 unit.
Untuk jenisnya, kendaraan Internal Combustion Engine (ICE) Non-Kendaraan Bermotor Roda Empat Hemat Energi dan Harga Terjangkau (KBH2), baik untuk kendaraan penumpang (passenger car/PC) maupun komersial (commercial vehicle/CV). Wholesales jenis kendaraan ini sebanyak 48.274 unit, meningkat 3.444 unit dibandingkan Juni, yang menyentuh angka 44.830 unit.
ICE Non-KBH2 adalah klasifikasi industri otomotif yang merujuk pada semua kendaraan berbahan bakar bensin atau diesel (nonlistrik) di luar kategori mobil murah ramah lingkungan (Low Cost Green Car/LCGC).
Sementara wholesales EV berada di posisi kedua, ditempati jenis Battery Electric Vehicle (BEV), sebanyak 13.962, meningkat 1.309 unit dibandingkan periode satu bulan sebelumnya, sebanyak 12.653 unit.
BEV adalah jenis mobil listrik murni yang 100 persen bergantung pada baterai dan motor listrik. Mobil EV jenis ini tidak memiliki mesin pembakaran internal (mesin bensin/solar) dan tidak menghasilkan emisi gas buang.
Mobil jenis ICE KBH2 kategori LCGC berbasis energi BBM berada di posisi ketiga. Pada Juli 2026 mobil jenis ini di tingkat wholesales menyentuh angka 9.127 unit. Namun, angka ini merosot 324 unit dibandingkan periode Juni, sebanyak 9.451 unit.
Di bawah ICE KBH2 LCGC, di tempati EV jenis Hybrid Electric Vehicle (HEV), yang menggabungkan mesin pembakaran internal (mesin bensin) dengan motor listrik dan baterai. Di tingkat wholesales, mobil jenis ini terjual 7.769 unit pada Juli 2026, ikut terjungkal 446 unit dibandingkan periode Juni 2026, yang menyentuh 8.215 unit.
Posisi kelima ditempati EV jenis Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV). Di tingkat wholesales pada Juli 2026 mentok di angka 1.973 unit, juga mengalami penurunan sebanyak 430 unit dibandingkan periode Juni, yang berhasil menjual 2.403 unit. PHEV adalah mobil yang menggabungkan mesin bensin dan motor listrik (EV). (Rif)