Sementara itu, Indonesia sudah memulai melaksanakan impor minyak mentah dari Amerika Serikat (AS). Pengalihan impor ini ditempuh pemerintah untuk menutupi impor minyak yang terhenti dari Timur Tengah yang melewati Selat Hormuz.
Fahmi berpandangan, dalam kondisi AS sedang berkonflik dengan Iran, produksi minyak negara tersebut akan mengutamakan kebutuhan konsumen di dalam negerinya. Pasalnya, Amerika sebagai produsen minyak, tapi negara ini juga konsumen minyak terbesar dunia.
Selain itu, impor minyak mentah dari AS berpotensi tidak sesuai dengan spesifikasi kilang Pertamina yang umumnya dirancang untuk crude Timur Tengah. Kondisi ini memicu risiko ketidaksesuaian teknis dan biaya logistik lebih mahal, karena jarak angkut yang lebih lama (40 hari).
Persoalan lain, diungkapkan Fahmy, Indonesia masih sangat bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan Pertalite (RON 90), dengan estimasi mencapai 60% dari total kebutuhan nasional. Ketergantungan ini disebabkan oleh tingginya konsumsi domestik yang melebihi kapasitas produksi kilang dalam negeri, yang memaksa pemerintah melakukan blending komponen impor untuk mencukupi kebutuhan.
Fahmi menekankan, karena itu, perlu diperhitungkan terkait teknis blending ini, apakah dilakukan di AS atau di Indonesia, termasuk teknis hitungan biayanya. Karena, jika di-blending di AS tentu harga BBM menjadi lebih mahal. (Rif)