Jakarta,corebusiness.co.id-Harga batu bara acuan (HBA) pada periode pertama Mei 2026 masih menunjukkan keperkasaannya. Semua jenis kalori batu bara kompak menguat. Komoditas tambang yang dijuluki ‘emas hitam’ ini dibutuhkan global untuk energi.
HBA terbaru ditetapkan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia lewat Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 179.K/MB.01/MEM.B/2026 tentang Harga Mineral Logam Acuan dan Harga Batubara Acuan Untuk Periode Pertama Bulan Mei Tahun 2026.
Berdasarkan keputusan tersebut, HBA untuk batu bara kalori tinggi dalam kesetaraan nilai kalori 6.322 kcal per kg GAR pada periode pertama Mei 2026 naik 3,03% menjadi US$106,57 per ton.
Pada periode kedua April 2026, HBA kalori ini berada di level US$103,43 per ton. Sementara HBA untuk batu bara nilai kalori 5.300 kcal per kg GAR menguat ke level US$79,56 per ton. HBA jenis batu bara ini naik tipis dibandingkan periode kedua April 2026 senilai US$77,71 per ton.
Untuk batu bara dengan kesetaraan nilai kalori 4.100 kcal per kg GAR, HBA dipatok sebesar US$55,66 per ton. Menguat 5,34% dibandingkan harga acuan pertengahan April 2026 di angka US$52,84 per ton.
Berikutnya, HBA batu bara dengan kesetaraan nilai kalori 3.400 kcal per kg GAR juga naik ke level US$38,76 per ton. Harga acuan itu naik dari posisi periode pertengahan April 2026 di angka US$38,30 per ton.
Analis Kebijakan di Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara, Kementerian ESDM Juanda Volo Sinaga mengungkap masih berjayanya komoditas batu bara. Menurutnya, di tengah gejolak geopolitik global, energi dan mineral kritis saat ini tidak lagi hanya sekadar komoditas ekonomi. Dua-duanya sudah bertransformasi menjadi instrumen kekuatan geopolitik.
“Jika dahulu pengaruh negara ditentukan oleh cadangan devisa dan kebijakan suku bunga, hari ini kendali atas energi dan mineral kritis menjadi penentu posisi tawar global. Sehingga perubahan dalam sektor energi global tersebut memaksa banyak negara meninjau ulang kebijakan dasarnya,” tuturnya, seperti dikutip.
Meski transisi menuju energi bersih terus berjalan, menurutnya, pada saat yang sama kebutuhan energi dunia masih sangat besar dan belum seluruhnya dapat dipenuhi oleh sumber terbarukan. Dalam situasi seperti ini, batu bara masih digunakan oleh banyak negara, termasuk Indonesia, dengan segala keterbatasan dan risikonya.
Ia menyebutkan, sepanjang tahun 2024, konsumsi batu bara dunia meningkat, terutama di kawasan Asia. Tiongkok dan India tetap menjadi konsumen utama. Proyeksi International Energy Agency menunjukkan permintaan batu bara global hingga 2027 relatif tidak banyak berubah.
Sementara itu, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia telah merevisi kuota produksi batu bara dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026. Realisasi produksi batu bara nasional yang mencapai 790 juta ton pada tahun 2025 dipangkas menjadi kurang lebih 600 juta ton.
Bahlil mengutarakan tujuan dari pemangkasan kuota batu bara.
“Produksi (batu bara) akan kita turunkan supaya harga bagus dan tambang ini kita harus wariskan kepada anak cucu kita. Jadi, jangan cara berpikir kita mengelola sumber daerah alam itu seolah-olah harus selesai semua sekarang. Bangsa ini harus berjalan terus, lingkungan kita harus jaga aspek-aspek keadilan juga kita harus jaga,” tutur Bahlil, ketika itu.
Bahlil menjelaskan bahwa dominasi Indonesia dalam pasokan batu bara global turut memengaruhi ketidakseimbangan pasar. Saat ini, volume perdagangan batu bara dunia mencapai sekitar 1,3 miliar ton, dengan Indonesia menyumbang porsi yang sangat besar.
“Batu bara yang diperdagangkan di global itu kurang lebih sekitar 1,3 miliar ton. Dari 1,3 miliar ton, Indonesia mensuplai 514 juta ton atau sekitar kurang lebih sekitar 43 persen. Akibatnya apa? supply dan demand itu tidak terjaga yang pada akhirnya membuat harga batu bara turun,” paparnya.
Belajar dari kondisi tersebut, pemerintah memutuskan untuk menata ulang kuota produksi melalui revisi RKAB agar lebih selaras dengan kebutuhan nasional maupun internasional. Salah satu langkah konkretnya adalah memangkas target produksi batu bara nasional.
Terpisah, Ketua Umum Asosiasi Pemasok Energi, Mineral, dan Batu Bara Indonesia (Aspebindo) Anggawira mengapresiasi program transisi menuju energi bersih oleh pemerintah.
Anggawira mengatakan, sebagai asosiasi pemasok energi mineral dan batu bara, Aspebindo mendukung penuh transformasi energi nasional yang inklusif dan terukur. Ia menyebutkan langkah nyata yang ditempuh Aspebindo dalam mendukung transisi energi.
Satu, mendorong hilirisasi batu bara seperti gasifikasi menjadi DME, metanol, dan syngas sebagai substitusi LPG dan bahan bakar industri.
Dua, mendukung co-firing biomassa di PLTU untuk mengurangi intensitas karbon.
Tiga, mempromosikan penggunaan teknologi Ultra Super Critical (USC) yang lebih efisien dan rendah emisi.
Empat, mengajak anggota mengadopsi standar Environmental, Social, and Governance (ESG) dalam rantai pasok batu bara.
“Kami meyakini bahwa transisi energi tidak bisa meninggalkan batu bara begitu saja, tetapi harus dilakukan dengan pendekatan yang adil (just transition) dan mempertimbangkan kesiapan infrastruktur nasional,” kata Anggawira kepada corebusiness.co.id.
Berdasarkan catatan Aspebindo, batu bara masih menjadi salah satu komoditas penyumbang devisa dan penerimaan negara terbesar untuk Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). Tahun 2023, misalnya, kontribusi batu bara mencapai lebih dari Rp 100 triliun untuk PNBP, atau hampir 40 persen dari total PNBP sektor ESDM. Sementara dari ekspor batu bara, menyumbang puluhan miliar dolar ke neraca perdagangan Indonesia, mendukung stabilitas nilai tukar dan APBN.
“Kami siap terus berkolaborasi dengan pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan untuk memastikan bahwa batu bara berperan dalam cara yang cerdas, efisien, dan bertanggung jawab,” pungkasnya. (Syarif)