160 x 600 PASANG IKLAN
160 x 600 PASANG IKLAN
160 x 600 PASANG IKLAN
160 x 600 PASANG IKLAN

Ekspor RI September 2026 Lebih Tinggi daripada Impor, Terpaut US$ 3,36 Miliar

Ilustrasi: aktivitas bongkar muat barang di pelabuhan.
750 x 100 PASANG IKLAN

Jakarta,corebusiness.co.id-Kementerian Perdagangan (Kemendag) menyampaikan kinerja ekspor dan impor Indonesia pada September 2026, masing-masing US$ 27,59 miliar dan US$ 24,23 miliar. Kinerja impor lebih tinggi US$ 3,36 miliar daripada impor.

Kemendag menyebut, kinerja ekspor Indonesia mencapai US$ 27,59 miliar atau tumbuh 3,68 persen dibandingkan Agustus 2026 (MtM), dan naik 11,87 persen dibandingkan September 2025 (YoY). Peningkatan ekspor secara bulanan ini didorong kenaikan ekspor sektor nonmigas sebesar 3,98 persen di tengah penurunan ekspor migas sebesar 4,08 persen (MtM).

Dari sisi pertumbuhan ekspor nonmigas, ekspor sektor industri pengolahan sendiri mencatatkan pertumbuhan 4,38 persen, sementara sektor pertambangan dan lainnya tumbuh 2,37 persen (MtM).

Tiga komoditas penopang utama ekspor nonmigas Indonesia pada September 2026 masih didominasi lemak dan minyak hewani atau nabati (HS 15) dengan US$ 4,43 miliar. Bahan bakar mineral (HS 27) menempati posisi kedua dengan nilai ekspor US$ 2,99 miliar, serta besi dan baja (HS 72) di posisi ketiga dengan US$ 2,70 miliar.

Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengatakan, ekspor Indonesia pada September 2026 secara konsisten tetap ditopang sektor industri pengolahan. Terdapat lonjakan ekspor pada logam mulia, perhiasan, dan permata (HS 71) yang naik sebesar 116,33 persen; mesin dan perlengkapan elektrik (HS 85) yang naik 19,91 persen; serta karet dan barang dari karet (HS 40) yang naik 14,87 persen (MtM).

“Kinerja ekspor nasional pada September 2026 yang tumbuh 3,68 persen dibanding bulan sebelumnya menjadi US$ 27,59 miliar mencerminkan resiliensi Indonesia di tengah dinamika global. Penguatan ini ditopang secara konsisten oleh sektor industri pengolahan yang sejalan dengan program hilirisasi untuk meningkatkan ekspor produk bernilai tambah,” kata Mendag Busan dalam keterangan resmi, dikutip Rabu (4/11/2026).

Busan memaparkan, pada Januari–September 2026, total ekspor Indonesia sebesar US$ 221,23 miliar tumbuh 5,58 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (CtC). Kinerja ini ditopang ekspor nonmigas yang tumbuh 6,30 persen dari US$ 199,69 miliar ke US$ 212,27 miliar. Sementara ekspor migas terkontraksi 9,11 persen (CtC) dari US$ 9,86 miliar ke US$ 8,96 miliar.

Sektor industri pengolahan juga tetap menjadi penopang utama ekspor Januari–September 2026 dengan nilai ekspor US$ 182,83 miliar, berkontribusi sebesar 82,64 persen terhadap total ekspor, dan tumbuh sebesar 8,93 persen (CtC). Sedangkan, ekspor sektor pertanian turun terdalam sebesar 18,42 persen, diikuti sektor migas yang turun 9,11 persen serta sektor pertambangan dan lainnya yang turun 5,46 persen (CtC).

Jika dilihat dari komoditasnya, tiga komoditas nonmigas dengan peningkatan ekspor tertinggi adalah aluminium dan barang daripadanya (HS 76) yang melonjak 104,88 persen, tembaga dan barang daripadanya (HS 74) naik 57,49 persen, serta nikel dan barang daripadanya (HS 75) naik 47,87 persen (CtC).

Berdasarkan negara tujuan utama ekspor nonmigas selama Januari–September 2026, Tiongkok menempati posisi pertama dengan nilai US$ 54,17 miliar dan pangsa ekspor sebesar 25,52 persen, disusul AS dengan US$ 25,39 miliar dan pangsa 11,96 persen, serta India sebesar US$ 15,00 miliar dengan pangsa 7,07 persen.

Tujuan ekspor nonmigas Indonesia dengan pertumbuhan terbesar meliputi Hong Kong dengan kenaikan 43,69 persen, Mesir dengan 26,90 persen, dan Tailan 20,50 persen (CtC).

Sementara kinerja impor Indonesia pada September 2026, mencatatkan nilai US$ 24,23 miliar, naik 5,09 persen dibandingkan Agustus 2026 (MtM) dan tumbuh 18,41 persen dibandingkan September 2025 (YoY). Kenaikan impor bulanan ini didominasi kuat oleh pertumbuhan impor barang modal sebesar 12,14 persen, disusul barang konsumsi yang naik 6,40 persen serta bahan baku dan penolong yang naik 3,12 persen (MtM).

Busan menilai, peningkatan impor September 2026 berbanding lurus dengan sektor manufaktur nasional yang ekspansif. Catatan ini selaras dengan Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia yang melonjak dari 49,8 pada Agustus 2026 ke 52,4 pada September 2026.

“Lonjakan impor September 2026 didorong impor barang modal serta bahan baku dan penolong untuk mendukung peningkatan produksi dan pesanan baru industri nasional. Hal ini membuktikan bahwa impor yang terjadi sifatnya produktif dan merupakan penyebab utama bagi ekspansi sektor pengolahan dalam negeri,” ungkapnya.

Secara kumulatif Januari–September 2026, total impor Indonesia mencapai US$ 210,63 miliar, meningkat 19,67 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (CtC) dengan US$ 176,01 miliar. Seluruh komponen impor pun mencatatkan pertumbuhan positif di periode tersebut. Peningkatan tertinggi tercatat pada impor bahan baku dan penolong yang naik 21,11 persen, diikuti barang modal sebesar 16,49 persen, dan barang konsumsi sebesar 15,54 persen (CtC).

Dari sisi komoditasnya, lonjakan impor nonmigas tertinggi selama Januari–September 2026 terjadi pada kendaraan udara dan bagiannya (HS 88) yang melonjak sebesar 241,60 persen. Selain itu, impor garam, belerang, batu, dan semen (HS 25) tumbuh 127,03 persen serta bijih logam, terak, dan abu (HS 26) naik 51,67 persen (CtC).

Berdasarkan negara asalnya, impor nonmigas Indonesia pada Januari—September 2026 masih didominasi Tiongkok, Jepang, dan Australia dengan kontribusi gabungan mencapai 52,94 persen dengan nilai impor sebesar US$ 94,27 miliar. Kemudian, negara asal impor nonmigas dengan pertumbuhan terbesar, antara lain, Prancis yang naik 122,95 persen, Rusia 54,78 persen dan Argentina 52,09 persen (CtC). (Rif)

 

750 x 100 PASANG IKLAN

Pemimpin Redaksi di corebusiness.co.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait
750 x 100 PASANG IKLAN