160 x 600 PASANG IKLAN
160 x 600 PASANG IKLAN
160 x 600 PASANG IKLAN
160 x 600 PASANG IKLAN
INFO Lebih Lanjut Klik: https://www.dfskmotors.co.id/id

Dirut Pertamina Drilling Beberkan Tantangan Operasi Pengeboran Sumur HPHT dan Deepwater

Direktur Utama PT Pertamina Drilling Services Indonesia (Pertamina Drilling), Avep Disasmita saat menjadi pembicara utama dalam Workshop HPHT and Deepwater Wells: Drilling Challenges, Technologies, and Applications yang diselenggarakan oleh Society of Petroleum Engineers (SPE) di Jakarta, Selasa (23/6/2026).
750 x 100 PASANG IKLAN

Jakarta,corebusiness.co.id–Direktur Utama PT Pertamina Drilling Services Indonesia (Pertamina Drilling), Avep Disasmita, menegaskan bahwa keselamatan kerja dan keunggulan operasional menjadi faktor utama dalam menghadapi tantangan pengeboran migas berisiko tinggi, khususnya pada sumur High Pressure High Temperature (HPHT) dan deepwater.

Hal tersebut disampaikan Avep saat menjadi pembicara utama dalam Workshop HPHT and Deepwater Wells: Drilling Challenges, Technologies, and Applications yang diselenggarakan oleh Society of Petroleum Engineers (SPE) di Jakarta, Selasa (23/6/2026). Acara ini dihadiri oleh peserta dari berbagai Negara di Asia hingga Eropa.

Dalam keynote bertajuk “Leading Safety and Performance in High-Risk Drilling Environments”, Avep mengatakan bahwa industri migas saat ini menghadapi perubahan besar karena sumber daya migas yang mudah dieksploitasi semakin berkurang, sementara kebutuhan energi global terus meningkat.

“Keberhasilan dalam operasi HPHT dan deepwater tidak hanya diukur dari kecepatan pengeboran atau kemampuan mencapai target kedalaman sumur. Keberhasilan diukur dari kemampuan kita menghadirkan operasi yang aman, andal, efisien, dan berkelanjutan sambil melindungi pekerja, lingkungan, dan aset perusahaan,” ujar Avep.

750 x 100 PASANG IKLAN

Avep menjelaskan, permintaan energi global diproyeksikan meningkat sekitar 15 persen hingga 2035. Di sisi lain, lebih dari 70 persen sumber daya migas baru yang ditemukan pada 2025 berasal dari wilayah deepwater dan ultra-deepwater. Bahkan, sekitar dua pertiga sumur eksplorasi berdampak tinggi yang direncanakan pada 2026 berada di area laut dalam.

Menurut dia, tren tersebut menunjukkan bahwa kemampuan pengeboran di lingkungan yang semakin kompleks akan menjadi pembeda utama bagi perusahaan jasa pengeboran di masa depan.

Future growth lies deeper, hotter, and more complex. Kapabilitas pengeboran kini menjadi strategic differentiator bagi perusahaan yang ingin tetap kompetitif,” katanya.

Avep juga menyoroti sejumlah temuan migas strategis di Indonesia yang berada pada kategori deepwater maupun HPHT, seperti Tangkulo, Kutai Basin, dan Masela. Menurut dia, pengembangan lapangan-lapangan tersebut membutuhkan investasi besar sekaligus pengalaman teknis yang mumpuni.

750 x 100 PASANG IKLAN

Ia menyampaikan, pengalaman Pertamina Drilling dalam menangani sumur panas bumi atau geothermal juga menjadi modal penting untuk mendukung pengembangan sumur HPHT di Indonesia.

“Geothermal memberikan pengalaman berharga dalam menangani kondisi temperatur tinggi yang relevan dengan tantangan HPHT,” ucapnya.

Operasi HPHT dan deepwater, ungkapnya, menghadirkan kompleksitas teknis maupun bisnis yang jauh lebih tinggi dibanding pengeboran konvensional. Dari sisi teknis, sumur HPHT dapat menghadapi tekanan hingga 20.000 psi dengan temperatur lebih dari 177 derajat celsius, margin pengeboran yang sempit, tantangan pengendalian sumur, hingga desain sumur yang kompleks.

Sementara dari sisi bisnis, proyek deepwater membutuhkan biaya investasi dan operasional hingga tiga kali lebih besar dibanding proyek perairan dangkal. Selain itu, biaya nonproductive time (NPT) dapat mencapai US$ 1,5 juta per hari.

750 x 100 PASANG IKLAN

“Dalam proyek seperti ini, satu kesalahan operasional dapat menghapus nilai proyek yang dibangun selama bertahun-tahun,” bebernya.

Ia menekankan, keselamatan bukan sekadar prosedur atau kewajiban kepatuhan, melainkan perilaku kepemimpinan yang harus hadir di seluruh level organisasi. Menurut dia, budaya keselamatan yang kuat akan membentuk disiplin operasional, kualitas pengambilan keputusan, kesadaran risiko, serta budaya organisasi yang sehat.

Safety is a leadership behavior. Keselamatan harus dimulai dari kepemimpinan dan tidak bisa didelegasikan,” tegasnya.

Terkait hal tersebut, Avep mendorong terciptanya budaya kerja yang memberi ruang bagi setiap pekerja untuk menyampaikan kekhawatiran, menantang asumsi yang berisiko, hingga menghentikan pekerjaan ketika kondisi tidak aman.

Avep menilai transformasi digital telah membawa perubahan besar dalam industri pengeboran melalui pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intellegence/AI), machine learning, digital twin, hingga pusat operasi realtime. Teknologi tersebut mampu meningkatkan visibilitas terhadap kondisi bawah permukaan, performa peralatan, tren operasional, serta potensi risiko yang muncul.

Namun demikian, dirinya menyatakan bahwa teknologi tidak dapat menggantikan peran manusia.

Technology enhances decision quality. People make decisions. Teknologi meningkatkan kualitas keputusan, tetapi manusialah yang mengambil keputusan,” katanya.

Karena itu, investasi pada teknologi harus berjalan seiring dengan penguatan kompetensi tenaga kerja, pengembangan kepemimpinan, kolaborasi lintas fungsi, dan peningkatan aspek human factors engineering. (Rif)

 

 

750 x 100 PASANG IKLAN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait
750 x 100 PASANG IKLAN