Jakarta,corebusiness.co.id-INDEF Green Transition Initiative (INDEF GTI) mencatat konsumsi bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi dan kompensasi sepanjang Januari-September 2026 sekitar 13,4 juta kiloliter (kl), meningkat 9,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025. Linier dengan angka pertumbuhan penjualan mobil berbasis BBM.
Meningkatnya konsumsi BBM di tanah air mendorong INDEF GTI meminta pemerintah untuk memprioritaskan insentif untuk mobil listrik murni berbasis baterai (Battey Electric Vehicle/BEV) dibandingkan kendaraan hybrid, Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV), dan Range-Extended Electric Vehicle (REEV).
Langkah tersebut dinilai lebih efektif menekan konsumsi BBM di tengah meningkatnya konsumsi BBM bersubsidi dan berkompensasi serta terbatasnya ruang fiskal APBN pemerintah.
“Kalau tujuannya mengatasi kelangkaan BBM, insentif harus diarahkan ke kendaraan yang tidak memakai BBM sama sekali. Mobil hybrid tetap mengisi bensin di SPBU. Mobil listrik tidak. Setiap mobil listrik yang terjual hari ini berarti satu kendaraan yang tidak lagi antre BBM,” ujar Head of Industrial and Transport Decarbonization INDEF GTI, Andry Satrio Nugroho Andry di Jakarta, dikutip.
Di sisi lain, rencana insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) untuk BEV yang diumumkan sebelumnya belum terealisasi. Pemerintah sebelumnya merencanakan insentif PPN DTP sebesar 100 persen untuk mobil listrik berbaterai nikel dan 40 persen untuk mobil dengan jenis baterai lainnya guna mendukung hilirisasi nikel. Namun, hingga pertengahan Oktober 2026, aturan pelaksanaannya belum terbit.
INDEF GTI menilai penerbitan insentif bagi kendaraan hybrid sebelum insentif BEV berjalan berpotensi mengurangi daya tarik mobil listrik. Pasalnya, insentif hybrid dapat mempersempit selisih harga kedua jenis kendaraan tersebut.
“Jika insentif hybrid terbit lebih dulu sementara insentif BEV masih tertunda, selisih harga keduanya menyempit. Pembeli yang tadinya siap beralih ke mobil listrik bisa kembali memilih kendaraan yang masih bergantung pada BBM. Hasilnya berlawanan dengan tujuan mengatasi kelangkaan BBM,” jelas Andry.
Kementerian ESDM mencatat, konsumsi minyak nasional mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari, sedangkan produksi baru sekitar 600-650 ribu barel per hari. Program biodiesel B50 menutup sekitar 250-300 ribu barel, sehingga sisa kebutuhan yang diimpor masih sekitar 700-750 ribu barel per hari.
Penjualan Mobil Januari-September 2026
Peningkatkan konsumsi BBM linier dengan pertumbuhan angka penjualan mobil berbasis BBM. Berdasarkan catatan Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan mobil di tanah air sepanjang Januari-September 2026 cukup signifikan. Total wholesales (pabrik ke diler) meningkat 117.615 unit (20,1 persen) dari 561.405 unit sepanjang Januari-September 2025 menjadi 679.020 unit pada periode yang sama tahun 2026.
Dari pertumbuhan wholesales tersebut, mobil jenis Internal Combustion Engine (ICE) Non-Kendaraan Bermotor Roda Empat Hemat Energi dan Harga Terjangkau (KBH2), baik untuk kendaraan penumpang dan komersial menempati urutan pertama.
Sepanjang Januari-September 2026, wholesales ICE Non-KBH2 sebanyak 401.573 unit, naik 10,8 persen dari 362.425 unit dibandingkan Agustus 2026. Angka ini setara 59,1 persen dari seluruh penjualan.
Dari angka wholesales yang dicapai ICE Non-KBH2, selisihnya, yakni 159.832 unit masing-masing diperebutkan mobil listrik murni (BEV), ICE KBH2 LCGC (Low Cost Green Car), Hybrid Electric Vehicle (HEV), dan PHEV.
Rinciannya masing-masing, wholesales BEV Januari-September 2026 mencapai 117.218 unit, KBH2 LCGC 83.997 unit, HEV 65.968 unit, dan PHEV sebanyak 10.264 unit.
Dari angka-angka itu menunjukkan bahwa daya beli masyarakat Indonesia masih memilih kendaraan konvensional berbasis energi BBM. Meskipun terus dibayang-bayangi capaian kinerja wholesales BEV dan hybrid. (Rif)