INFO Lebih Lanjut Klik: https://www.dfskmotors.co.id/id
Jakarta,corebusiness.co.id-Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) menerima audiensi PT IDSurvey (Persero) untuk membahas penguatan Technical Support Organization (TSO) sebagai bagian dari upaya memperkuat sistem pengawasan ketenaganukliran nasional dalam menghadapi pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Indonesia.
Audiensi yang berlangsung di Kantor Bapeten pada Selasa (23/6/2026) tersebut menjadi momentum memperkuat sinergi antara regulator dan BUMN jasa survei dalam mendukung pemanfaatan tenaga nuklir yang selamat, aman, dan sesuai dengan standar internasional.
Plt. Kepala Bapeten, Zainal Arifin, dalam sambutan menegaskan bahwa pengembangan PLTN di Indonesia memerlukan dukungan organisasi pendukung teknis (Technical Support Organization/TSO) yang kompeten dan independen untuk memperkuat fungsi pengawasan yang dilaksanakan Bapeten.
“Pembangunan PLTN tidak hanya membutuhkan regulator yang kuat, tetapi juga Technical Support Organization yang kompeten dan independen untuk mendukung evaluasi teknis, sehingga seluruh tahapan pembangunan dan pengoperasian PLTN dapat memenuhi standar keselamatan internasional,” kata Zainal.
Zainal menyampaikan, jumlah inspektur Bapeten saat ini sebanyak 178 orang. Karena itu, penguatan kapasitas melalui TSO menjadi kebutuhan strategis bagi para inspektur tersebut. Organisasi tersebut diharapkan mampu memberikan dukungan teknis dalam berbagai aspek, mulai dari evaluasi desain, verifikasi teknis, pengujian, sertifikasi, hingga analisis keselamatan.
“Pengalaman benchmarking Bapeten ke berbagai negara juga menunjukkan bahwa badan pengawas nuklir modern didukung oleh TSO yang memiliki kompetensi tinggi dan tetap menjaga independensi regulator,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Zainal menyampaikan bahwa pembangunan PLTN merupakan salah satu langkah strategis dalam mendukung ketahanan energi nasional dan pencapaian target Net Zero Emission (NZE). Energi nuklir kini dipandang sebagai salah satu alternatif utama energi bersih yang mampu mendukung transisi energi sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pembangkit listrik berbasis bahan bakar fosil.
Menurutnya, TSO harus memiliki kemampuan multidisiplin, menguasai berbagai teknologi reaktor, memahami standar internasional, serta didukung sumber daya manusia yang mampu menguasai bahasa asing untuk mengevaluasi dokumen teknis maupun komponen yang berasal dari berbagai negara pemasok.
Selain aspek teknis, Zainal mengingatkan bahwa integritas dalam pengadaan barang dan jasa untuk fasilitas nuklir harus menjadi perhatian utama. Pemilihan komponen tidak dapat semata-mata didasarkan pada harga terendah, melainkan harus mempertimbangkan mutu, keandalan, dan aspek keselamatan sebagai prioritas utama.
Zainal menyinggung pengalaman Bapeten dalam penanganan insiden kontaminasi Cesium-137 di Cikande yang menunjukkan bahwa insiden radiologi pada fasilitas nonreaktor sekalipun dapat memberikan dampak terhadap aktivitas perdagangan dan ekspor.
Ia menekankan, karena itu, keberadaan laboratorium pengujian radioaktivitas lingkungan yang andal serta sistem sertifikasi yang kredibel menjadi bagian penting dalam menjaga kepercayaan masyarakat maupun dunia usaha.