INFO Lebih Lanjut Klik: https://www.dfskmotors.co.id/id
Morowali,corebusiness.co.id-Model pengembangan kawasan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) dipandang sangat relevan dalam membangun zona manufaktur terintegrasi berbasis kemitraan. Satu pengakuan terbaru tersebut datang dari Zimbabwe Investment Development Agency (ZIDA).
Badan Koordinasi Penanaman Modal negara yang terletak di Benua Afrika bagian Selatan tersebut berkunjung ke kawasan IMIP sejak 8 hingga 12 Juni 2026 dalam rangka studi banding di kawasan industri hilirisasi nikel terintegrasi itu. IMIP dianggap menjadi destinasi benchmarking dalam memerkuat posisi Indonesia sebagai mitra pembangunan yang relevan dan berpengalaman di tingkat global.
Dalam keterangan pers IMIP, delegasi ZIDA yang berkunjung ke kawasan IMIP adalah Kepala Bisnis Development, Noel Mahombera; Research Manager, Robin Musonza; Investment Manager Bidang Ekonomi, Pardon Nyandoro; Investmen Manager Bidang Persiapan dan Pembangunan, Davison Vandira; Analis Investasi Nyasha Makuni; serta perwakilan dari Kementerian Luar Negeri RI dan Kedutaan Besar RI di Harare. Mereka mengunjungi sejumlah area kawasan industri IMIP. Mulai dari bandara, jetty, area produksi, dan area di luar kawasan seperti Politeknik Industri Logam Morowali.
Kepala Bisnis Development ZIDA, Noel Mahombera, mengakui fokus kunjungan delagasinya untuk mempelajari konsep pengembangan kawasan industri berbasis sumber daya alam, hilirisasi industri baja, tata kelola kawasan terpadu, integrasi rantai pasok, fasilitasi investasi, serta sistem logistik dan ekspor. Menurutnya, model pengembangan kawasan IMIP sangat relevan bagi upaya Pemerintah Zimbabwe dalam memperkuat sektor baja nasional dan meningkatkan nilai tambah industri berbasis sumber daya mineral.
“Zimbabwe ingin membuka peluang kerja sama antarnegara dan melihat investasi China dengan Indonesia pada jenis model usaha di IMIP. ZIDA ingin mengetahui bagaimana sistem kerja sama yang terjalin diantara kedua negara ini,” kata Noel saat kunjungan yang diterima perwakilan manajamen IMIP.
Dalam pertemuan tersebut, delegasi Zimbabwe juga memertanyakan nilai investasi sejumlah fasilitas penunjang di IMIP seperti bandara, jetty, serta akomodasi. Antusiasme tinggi dan pertanyaan teknis yang diajukan delegasi mengindikasikan ketertarikan serius Zimbabwe untuk mengadaptasi model IMIP dalam konteks pembangunan industri nasional mereka. Terutama dalam hal struktur investasi, kapasitas logistik, serta pengelolaan sumber daya manusia.
Kunjungan ini membuka peluang nyata bagi penguatan hubungan bilateral Indonesia–Zimbabwe di bidang penanaman modal, khususnya dalam promosi investasi, hilirisasi mineral, dan pengembangan kawasan industri berbasis sumber daya alam. Kemudian, menguatkan positioining dan citra Indonesia sebagai mitra pembangunan industrialisasi Afrika. Indonesia juga mendapatkan keuntungan geopolitik dan ekonomi sekaligus, terutama di tengah meningkatnya kompetisi global atas critical minerals di Afrika. (Rif)