Jakarta,corebusiness.co.id-Kebijakan Presiden Donald Trump yang mengakhiri dukungan Pemerintah AS untuk mendukung kendaraan listrik (electric vehicle/EV) menjadi mimpi buruk para produsen mobil global.
Pemerintahan Presiden Trump lebih mendukung produksi dan penggunaan energi berbasis fosil, seperti minyak, gas, dan batubara untuk energi di AS. Kondisi ini memaksa perusahaan seperti Ford dan Stellantis untuk memikirkan kembali strategi mereka, lantaran mencatat penurunan nilai aset yang besar.
Nasib lebih memprihatinkan dialami Honda. Produsen mobil kedua terbesar di Jepang ini diperkirakan mengalami kerugian tahunan pertamanya dalam hampir 70 tahun sebagai perusahaan yang terdaftar di bursa saham, akibat terpukul oleh biaya restrukturisasi hingga 2,5 triliun yen ($15,7 miliar) di bisnis EV.
Analis otomotif Pelham Smithers Associates, Julie Boote memperkirakan Honda akan mengalami kerugian lebih lanjut terkait EV-nya. Menurutnya, besarnya penurunan nilai aset pada Kamis (12/3/2026), merupakan kejutan. Tapi, ada kejutan utamanya.
“Kejutan utamanya adalah program produksi EV di AS dibatalkan, bukan hanya dikurangi skalanya. Padahal Honda memiliki rencana ekspansi EV sangat ambisius, yang terpengaruh oleh perubahan lingkungan pasar,” kata Boote, seperti dikutip Reuters.
Sementara itu, Presiden & CEO Honda Motor Toshihiro Mibe mengungkapkan dalam konferensi pers bahwa permintaan EV telah turun tajam, sehingga “sangat sulit” untuk mempertahankan profitabilitas.
Honda juga menurunkan nilai bisnisnya di China, di mana perusahaan tersebut kesulitan bersaing dengan mobil-mobil canggih berbasis perangkat lunak dari para pesaingnya seperti BYD.
Beberapa produsen mobil global juga telah mencatat penurunan nilai yang menyakitkan, karena mengurangi ambisi EV mereka dalam beberapa bulan terakhir.
Diperkirakan total kerugian industri otomotif sekitar $67 miliar, di antaranya Honda $15,7 miliar, General Motor diperkirakan $7,6 miliar, Stellantis $25 miliar, dan Ford $19 miliar.
Selain pasar utamanya di Jepang dan AS, pihak Honda mengatakan akan memperkuat lini model dan daya saing biaya di India, di mana mereka melihat peluang untuk berekspansi.
Di bawah tekanan dari para pesaing Tiongkok di seluruh Asia dan tempat lain, produsen mobil Jepang semakin fokus pada India, pasar di mana produsen mobil Tiongkok secara efektif terpinggirkan. Seperti terpinggirkannya produsen mobil Tiongkok di AS.
Demi survival EV Honda, Mibe dan Wakil Presiden Eksekutif Noriya Kaihara akan secara sukarela melepaskan setara dengan 30% dari kompensasi mereka selama tiga bulan. Sementara beberapa eksekutif lainnya akan melepaskan 20%. Dan perusahaan berencana untuk mengumumkan strategi bisnis jangka menengah hingga panjang yang diperbarui pada tahun fiskal berikutnya. (Rif)