Oleh: Khudori
BULOG menapaki tahun 2026 dengan optimisme tinggi. Optimisme itu berangkat dari eksekusi yang relatif baik terhadap aneka penugasan sepanjang tahun lalu. Apakah target menyerap gabah semua kualitas di level petani dan beras setara 3 juta ton beras, menyalurkan bantuan pangan beras kepada 18,3 juta keluarga hingga menjaga harga gabah di petani Rp6.500/kg. Salah satu catatan penting adalah realisasi operasi pasar beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) yang hanya 53%.
Meski baru disampaikan secara lisan, tahun ini Bulog mendapatkan penugasan lebih menantang. Pertama, pengadaan 4 juta ton setara beras, 1 juta ton jagung, 70 ribu ton kedelai, dan 720 ribu kiloliter minyak goreng. Cakupan komoditas ditambah. Kedua, penyaluran beras SPHP 1,5 juta ton dan bantuan pangan beras 10 kg kepada 18,3 juta keluarga selama 4 bulan. Yang paling menantang adrenalin adalah penjualan beras (medium dan premium) di luar uar SPHP sebesar 2,5 juta ton dan ekspor beras 1 juta ton.
Tahun lalu dari target penyaluran 1,5 juta ton beras SPHP hanya terealisasi 803 ribu ton. Realisasi itu mendekati penyaluran tahun 2021: 767 ribu ton. Tapi jauh lebih rendah dibandingkan realisasi 2022 (1,261 juta ton), 2023 (1,196 juta ton), dan 2024 (1,401 juta ton). Realisasi yang rendah itulah yang antara lain membuat stok beras Bulog akhir tahun 2025 mencapai 3,2 juta ton. Boleh jadi ini stok akhir tahun tertinggi sepanjang sejarah. Jika benar demikian berarti telah pecah rekor lagi.
Stok akhir tahun yang menjadi stok awal 2026 sebesar 3,2 juta ton itu tidak jauh berbeda dari perkiraan saya sebelumnya: 3,292 juta ton (baca analisis: ‘Bom Waktu’ Stok Jumbo Beras Bulog, 10 November 2025). Di satu sisi, stok awal tahun yang besar bisa dianggap prestasi membanggakan karena menjadi instrumen penting buat jaga-jaga. Agar tidak ada pihak yang coba main-main, misalnya menahan stok. Di sisi lain, stok 3,2 juta ton menyisakan PR tak mudah. Bisa-bisa malah berefek domino panjang.
Pertama, mayoritas beras itu telah berumur. Sekitar 80% usianya lebih 6 bulan. Bahkan, masih ada ratusan ribu ton beras sisa impor tahun 2024. Ini berarti beras tersebut sudah berusia setahun, bahkan lebih. Beras itu barang tidak tahan lama. Sebaik apapun perawatan, risiko turun mutu tidak dapat dihilangkan sama sekali karena yang disimpan barang mudah rusak. Idealnya beras hanya disimpan 4 bulan.
Kedua, selama dalam penyimpanan beras akan susut volume, berpotensi turun mutu, bahkan bisa rusak. Ketiga, semakin lama disimpan biaya perawatan dan pengelolaan semakin besar. Ini membebani Bulog sebagai korporasi. Hemat saya, ada keperluan mendesak untuk segera menentukan ‘nasib’ 3,2 juta ton beras ini. SEGERA! Kian cepat diputuskan kian baik. Agar gerak-langkah Bulog lebih lincah. Diakui atau tidak, opsi penyaluran tahun ini tak menjamin ada penuntasan segera nasib stok jumbo itu.
Mengapa? Pertama, penyaluran SPHP 1,5 juta ton baru dimulai Februari 2026. Januari 2026 ini masih menuntaskan sisa SPHP tahun lalu (697 ribu ton) yang tidak mencapai target. Apakah mudah melepas beras SPHP dalam jumlah besar? Tidak. Capaian penjualan beras SPHP tahun lalu hanya 4.000-an ton per hari. Kalau tidak ada kenaikan signifikan penjualan harian, tahun ini diperkirakan SPHP terjual 1,46 juta ton dari 2,2 juta ton. Itu dengan asumsi operasi pasar SPHP dilakukan sepanjang tahun.
Kedua, bantuan pangan beras belum akan disalurkan dalam waktu dekat. Kemungkinan mulai Juni 2026. Ketiga, rencana menjual beras (medium dan premium) diluar SPHP sebesar 2,5 juta ton belum jelas konkretnya seperti apa. Apakah cadangan beras pemerintah (CBP) direproses dulu? Tanpa reproses, menjual beras berumur adalah tantangan tersendiri. Apalagi kalau harganya sesuai harga eceran tertinggi (HET).
Keempat, rencana ekspor beras 1 juta ton pun idem ditto. Bagaimana cara ekspor sebesar ini? Harga beras Indonesia saat ini sekitar 2x harga beras dunia. Harga beras dunia cukup rendah. Pasar dunia ‘banjir’ beras karena membaiknya produksi negara-negara produsen utama dan eksportir utama. India, penguasa 40% pangsa pasar beras dunia, tidak lagi membatasi ekspor. Lalu, beras Indonesia mau dijual dengan harga berapa? Satu lagi: CBP itu tidak comply dengan kualifikasi beras di pasar dunia. Apakah akan ekspor jalur G to G ke Timor Leste, Papua Nugini, dan Malaysia?
Artinya, dalam waktu dekat ini belum ada solusi konkret ihwal stok 3,2 juta ton itu. Kian lama tersalur beras kian berumur dengan risiko mengintip: susut volume, turun mutu, potensi rusak, dan beban pengelolaan. Di sisi lain, Bulog tidak bisa berlama-lama ‘puasa’ tidak menyerap gabah/beras domestik. Hari-hari ini harga gabah di petani di sebagian wilayah di Sumatera Selatan dan di Lampung jatuh di bawah harga pembelian pemerintah (HPP): Rp6.500/kg. Bukan mustahil di wilayah lain pun terjadi.
Merujuk Kerangka Sampel Area (KSA) BPS, 5 Januari 2026, produksi beras di Januari dan Februari 2026 masing-masing diperkirakan sebesar 1,8 juta ton dan 2,98 juta ton. Produksi Januari itu tertinggi sejak 2018 dan produksi Februari tertinggi sejak 2019. Tahun lalu, produksi pada Januari 1,26 juta ton dan Februari 2,28 juta ton beras. Tahun 2024, produksi pada Januari dan Februari lebih rendah lagi. Jika panen raya didefinisikan produksi melebihi konsumsi, Februari 2026 sudah panen raya.
Pada 18 Februari 2026 diperkirakan mulai puasa Ramadan. Karena beririsan dengan panen raya, tidak perlu ada kekhawatiran pasokan kurang dan harga beras naik tinggi. Justru yang harus dikhawatirkan adalah harga gabah di petani jatuh di bawah HPP. Panen besar bersamaan di musim hujan membuat penanganan gabah krusial. Tak mungkin mengandalkan sinar matahari. Masalahnya, mesin pengering (dryer) terbatas. Modal cekak membuat penggilingan tak mampu menyerap semua produksi gabah. Ini semua potensial membuat harga gabah jatuh. Jika itu terjadi, Bulog harus masuk pasar.
Dalam 2-3 bulan awal 2026 Bulog ditargetkan menyerap 2-2,5 juta ton beras. Pertanyaannya, pertama, mau disimpan di mana gabah/beras serapan baru itu? Tahun lalu Bulog menyewa gudang filial 1,5 juta ton. Tahun ini kapasitasnya diperbesar jadi 2 juta ton. Yang krusial: Apakah gudang-gudang itu layak dan bukan dipaksakan? Jika pun gudang tak ada masalah, ada pertanyaan kedua: Buat apa beras serapan baru itu? Stok 3,2 juta ton saja masih belum ada kepastian akan tersalur berapa banyak.
Kisruh disposal CBP 20 ribu ton akhir 2019 patut jadi cermin. Beras hasil pengadaan 2016-2017 itu rusak dan tidak bisa direproses untuk konsumsi manusia atau hewan. Akar masalahnya, pengadaan waktu itu dari gabah semua kualitas dengan ada rafaksi harga. Tahun 2025 pengadaan gabah semua kualitas tanpa rafaksi harga. Lalu, penyaluran pasti beras Bulog turun drastis: dari 3,295 juta ton pada 2014-2016 tinggal 350-an ribu pada 2019. Ini terjadi seiring perubahan Raskin ke bantuan pangan nontunai (BPNT) pada 2017. Tahun 2019 adalah tahun terakhir transisi Raskin ke BPNT.
Kerugian makin besar karena setelah terjual melalui lelang, pembayaran pemerintah ke Bulog berlarut-larut. Tidak ada pejabat yang mau jadi kuasa pengguna anggaran. Bulog membiayai pengadaan itu dari kredit bank berbunga komersial. Kejadian 2019 ada peluang terulang akibat penyaluran beras Bulog tidak pasti saat ini. Analog dengan judul pidato kenegaraan Bung Karno pada 17 Agustus 1964, Tahun Vivere Pericoloso, yang saat itu hendak mengobarkan semangat rakyat bertepatan dengan aksi Ganyang Malaysia dan ketegangan dunia, tahun ini Bulog memasuki tahun vivere pericoloso. (Penulis adalah Pengurus Pusat PERHEPI dan Anggota Ketahanan Pangan INKINDO)