Oleh Khudori
PUNCAK panen padi diperkirakan terjadi pada Maret 2026. Ini merujuk Kerangka Sampel Area (KSA) Badan Pusat Statistik (BPS) 2 Februari 2026, bahwa produksi padi mencapai 9,29 juta ton gabah kering giling (GKG) dari panen seluas 1,71 juta ha. Februari 2026 sendiri, seperti diulas pada analisis 31 Januari 2026, telah memasuki panen raya. Diperkirakan panen besar bulanan tahun ini berlangsung lebih panjang dari tahun lalu: Februari-April 2026.
Ini kabar baik sekaligus warta buruk. Panen besar adalah kabar baik bagi pemerintah dan Badan Urusan Logistik (Bulog). Panen yang baik dan besar memungkinkan pemerintah mengulang swasembada beras seperti tahun lalu. Bagi Bulog, produksi yang besar memudahkan dalam mencapai target penyerapan 4 juta ton setara beras. Kabar buruknya, produksi gabah dalam jumlah besar bersamaan dengan musim penghujan menciptakan tantangan krusial.
Bagi Bulog dan mitranya, tugas seperti ini menciptakan kerumitan tersendiri. Pada puncak panen produksi gabah melimpah, penggilingan dan pedagang bakal kewalahan. Bukan saja karena kapasitas mesin pengering (dryer) dan penggilingan terbatas, tapi juga keterbatasan modal. Terutama penggilingan padi skala kecil. Harga gabah di petani berpeluang terjun bebas. Bulog dan mitra harus menyerap besar sebagai penyelamat. Agar harga tidak jatuh di bawah harga pembelian pemerintah (HPP): Rp6.500 per kilogram (kg) gabah kering panen (GKP).
Masalahnya, infrastruktur dryer dan penggilingan Bulog terbatas. Saat ini Bulog memiliki 10 sentra pengolahan padi (SPP) dan 7 sentra pengolahan beras di berbagai wilayah. Tiap SPP dilengkapi dryer berkapasitas 120 ton GKP per hari dan 3 unit silo berkapasitas 6.000 ton. Dengan kapasitas giling 6 ton per jam dan asumsi kerja 10 jam sehari dan 25 hari per bulan total produksi hanya 18 ribu ton per bulan atau 306 ribu ton beras per tahun. Hanya 7,65% dari target penyerapan atau 0,98% dari konsumsi nasional.
Bulog mau tidak mau menjalin mitra. Ada mitra pengadaan dan mitra makloon. Jumlahnya sekitar 3.000-an mitra. Karena kapasitas penggilingan hampir 4 kali kemampuan produksi gabah (Alimoeso, 2025), kapasitas giling gabah relatif tidak masalah. Yang krusial adalah kapasitas dryer. Tahun lalu, kapasitas dryer mitra makloon Bulog hanya berkisar 59 ribu ton hingga 77 ribu ton GKP per hari (Bulog, 2026). Tidak jelas apakah semuanya mesin pengering mekanis atau ada sebagian pengering berbentuk lantai jemur.
Kapasitas pengering ini tentu tidak memadai, terutama untuk mengeringkan gabah yang diserap pada saat puncak panen. Jika diasumsikan dryer bekerja 25 hari per bulan, kapasitas pengering antara 0,9 juta ton hingga 1,15 juta ton GKP per bulan. Pada tiga bulan panen besar tahun lalu, Maret-April 2025, penyerapan setara beras (termasuk komersial) masing-masing 0,533 juta ton di Maret, 1,068 juta ton di April, dan 0,68 juta ton di April. Penyerapan dalam bentuk GKP kira-kira dua kali penyerapan beras.
Angka-angka kapasitas pengeringan itu dengan asumsi semua fasilitas pengering gabah mitra berupa mesin mekanis, bukan lantai jemur. Jika sebagian atau sebagian besar fasilitas pengering itu berupa lantai jemur, tantangannya semakin tidak mudah. Kalau puncak panen bersamaan musim hujan, matahari tak bisa diandalkan untuk mengeringkan gabah. Gabah basah yang tidak segera dikeringkan bisa dipastikan bakal turun mutu.
Ini juga belum memetakan distribusi infrastruktur dryer dan penggilingan antarwilayah. Jawa, Lampung, Sumatera Selatan, dan Sulawesi Selatan, sebagai sentra utama produksi padi juga merupakan tempat berdirinya fasilitas dryer dan penggilingan. Di provinsi lain, kedua infrastruktur itu masih terbatas. Wilayah-wilayah seperti ini perlu dipetakan rinci. Agar ketika ada panen dalam jumlah besar bisa segera ditangani: segera dikirimkan ke wilayah dengan infrastruktur yang memadai.
Langkah ini juga membutuhkan pemetaan fasilitas transportasi: apakah memadai atau tidak? Untuk wilayah produksi yang hanya bisa ditransportasikan melalui laut, bagaimana memastikan gabah hasil panen tidak terlambat dikeringkan? Dalam SOP kerja sama Bulog dengan mitra, gabah harus dikeringkan maksimal 1 x 24 jam setelah diterima. Jika terlambat dikeringkan, gabah akan menghitam, bahkan berkecambah.
Titik krusial berikutnya adalah gudang, baik gabah atau beras. Cara penanganan GKP setelah dikeringkan jadi GKG ada dua: disimpan di gudang atau digiling jadi beras. Baik disimpan dalam bentuk gabah (GKG) atau beras sama-sama membutuhkan gudang. Gudang Bulog mencapai 1.529 unit dengan kapasitas 3.237.579 ton. Selain itu, Bulog menyewa gudang 893 unit berkapasitas 1.608.234 ton. Total kapasitas 4,68 juta ton.
Saat ini beras yang dikelola Bulog sekitar 3,2 juta ton. Dengan target menyerap 4 juta ton setara beras, total beras yang dikelola Bulog mencapai lebih 7 juta ton. Dengan asumsi puncak serapan dan sisa stok beras yang dikelola Bulog mencapai 5,5-6 juta ton, berarti perlu tambahan gudang baru berkapasitas antara 0,8 juta ton hingga 1,32 juta ton. Apakah ada gudang baru sebanyak itu?Wallahu’alam.
Jika pun tersedia, yang krusial adalah: Apakah gudang-gudang itu layak, bukan dipaksakan? Jika pun kebutuhan gudang tidak ada masalah, ada pertanyaan kedua: Buat apa serapan baru setara 4 juta ton beras itu? Sisa stok 3,2 juta ton saja masih belum ada kepastian akan tersalur berapa banyak. Pada titik ini, ada kebutuhan mendesak untuk memastikan penyaluran beras 3,2 juta ton itu. Agar, pertama, gerak Bulog lebih lincah. Kedua, potensi susut volume dan turun mutu bisa dihindari. (Penulis adalah Pengurus Pusat PERHEPI dan Anggota Ketahanan Pangan INKINDO).