PDB Per Kapita per Provinsi Mengisahkan Kisah yang Salah
Jika PDB per kapita melebih-lebihkan kebenaran di tingkat nasional, angka tersebut sepenuhnya melenceng di tingkat provinsi.
Di atas kertas, angka-angka tersebut menunjukkan bahwa Indonesia bukanlah satu ekonomi tunggal, melainkan sebuah multiverse. Tengok saja data di bawah ini:
Jika dibaca seperti ini, Jakarta tampak lebih kaya daripada beberapa bagian Eropa Selatan, sementara Papua Tengah tampaknya berada di luar ekonomi modern sama sekali. Godaan yang muncul adalah untuk menyimpulkan bahwa Indonesia terbagi antara pusat-pusat perkotaan yang sangat makmur dan daerah-daerah yang sangat miskin. Kesimpulan itu salah.
Ketika Anda berhenti melihat produksi dan mulai melihat orang-orang, upah rata-rata di provinsi-provinsi yang sama ini tidak berbeda 30 kali lipat. Perbedaannya hanya 2–3 kali lipat. Ini datanya:
Perhatikan baik-baik! Itu bukan berarti “Kalimantan Timur 8 kali lebih kaya daripada NTT,” meskipun PDB per kapita menunjukkan demikian. Intinya adalah: “Pendapatan semua orang rendah, tetapi beberapa orang tinggal di dekat lokasi penambangan sumber daya.”
Kesenjangan ini ada karena PDB per kapita provinsi mengukur di mana nilai dicatat, bukan di mana nilai itu berada. Provinsi yang kaya sumber daya menghasilkan output yang sangat besar dengan jumlah pekerja yang relatif sedikit. Keuntungan mengalir ke perusahaan, pemegang saham, dan pemerintah pusat, seringkali jauh dari lokasi penambangan.
Jadi, apakah Kalimantan Timur kaya? Ya, dalam arti menghasilkan nilai ekonomi yang sangat besar. Namun, bagi orang awam, “provinsi kaya” biasanya berarti “paman tetangga Anda mengenal seseorang yang mengendarai Hilux perusahaan,” daripada berpartisipasi dalam kekayaan.
Siapa sebenarnya yang mendapat manfaat dari pertumbuhan Indonesia? Struktur ekonomi Indonesia dapat diringkas sebagai: Beberapa konglomerat, beberapa sumber daya alam, 100 juta pekerja informal, dan sebuah mimpi.
Ketika produksi meningkat, sebagian besar peningkatan tersebut secara matematis telah dialokasikan untuk sekelompok kecil orang. Bagi yang lain, angkanya terlihat berbeda.
Inilah realitas ekonomi rumah tangga rata-rata. Cukup stabil untuk bertahan hidup, tetapi jauh dari kemakmuran yang tersirat dalam angka PDB utama.
PDB per kapita dengan senang hati menggabungkan semuanya: