PDB per kapita ingin bersifat demokratis. Ia ingin berbicara untuk semua orang. Tetapi menurut definisinya, ia tidak bisa. Itu adalah rata-rata dalam ekonomi di mana orang rata-rata tidak ada.
Ada pepatah lama di Indonesia: “Rezeki sudah ada yang atur.” PDB per kapita pun setuju. Mengapa PDB per kapita mendapat perhatian semua pihak?
Para politisi tertarik pada PDB per kapita seperti ngengat (serangga) tertarik pada api. Mengapa? Karena PDB per kapita memiliki beberapa kualitas yang membuatnya ideal untuk narasi politik. Narasinya adalah:
PDB per kapita meningkat, ekonomi tumbuh, dan tidak ada yang perlu menentukan pendapatan siapa yang sebenarnya berubah.
Lebih baik lagi, PDB per kapita tidak mempertanyakan apakah pertumbuhan itu inklusif, berkelanjutan, atau merata. PDB per kapita hanya mengumumkan angka dan membiarkan audiens bertepuk tangan. Para pemilih, pada bagian mereka, kesulitan untuk menghubungkannya. Tidak ada yang bangun tidur dengan memikirkan output per kapita, yang membuatnya sulit untuk ditantang dalam konteks sehari-hari.
Sekarang bandingkan ini dengan indikator yang jauh lebih jarang dibahas.
Metrik-metrik ini akurat, spesifik, dan secara politis tidak nyaman.
Namun, PDB per kapita sangat tepat karena angka ini mengatakan segalanya dan tidak mengatakan apapun pada saat yang bersamaan. Ini setara dengan mengatakan, “Saya baik-baik saja!” Pernyataan ini disampaikan kepada kerabat Anda sambil menyembunyikan rekening bank Anda.
Narasi ekonomi Indonesia tampak indah dari kejauhan. Ya, PDB per kapita Indonesia meningkat. Ya, Indonesia adalah negara berpenghasilan menengah ke atas. Ya, PDB per kapita Jakarta terlihat seperti negara-negara OECD. Namun data tersebut menunjukkan satu hal yang sangat jelas.
Kisah makro Indonesia memberi tahu Anda apa yang dihasilkan ekonomi. Kisah itu tidak memberi tahu Anda apa yang diterima oleh rakyat Indonesia.
Jika Anda mempertimbangkan hal-hal berikut:
Menjadi jelas bahwa PDB per kapita adalah metrik yang paling tidak “manusiawi” yang dapat dibayangkan.
Ini berguna bagi analis. Sangat bagus untuk kementerian. Dan sama sekali tidak membantu jika Anda ingin mengetahui apakah keluarga biasa mampu membayar sewa, membeli protein, atau menghindari spiral utang.
Pertumbuhan Indonesia itu nyata. Tetapi kesenjangan antara “pertumbuhan” dan “masyarakat yang merasakan pertumbuhan” juga nyata.
Dan itulah mengapa PDB per kapita akan terus menjadi bintang dalam setiap laporan kebijakan dan pidato politik:
Dan yang terbaik dari semuanya, angka ini sama sekali tidak menggambarkan bagaimana keadaan masyarakat Indonesia pada umumnya. (Tulisan ini diterjemahkan dari rilis yang diterbitkan 12 Januari 2026. Penulis adalah StratEx-Indonesia Business Advisory, mantan analis Korn Ferry (sebuah firma konsultansi manajemen yang berkantor pusat di Los Angeles, California)).