160 x 600 PASANG IKLAN
160 x 600 PASANG IKLAN
160 x 600 PASANG IKLAN
160 x 600 PASANG IKLAN

Angka PDB per Kapita: Indonesia Terlihat Kaya, tapi Masyarakat Merasa Miskin

750 x 100 PASANG IKLAN

PDB per kapita ingin bersifat demokratis. Ia ingin berbicara untuk semua orang. Tetapi menurut definisinya, ia tidak bisa. Itu adalah rata-rata dalam ekonomi di mana orang rata-rata tidak ada.

Ada pepatah lama di Indonesia: “Rezeki sudah ada yang atur.”  PDB per kapita pun setuju. Mengapa PDB per kapita mendapat perhatian semua pihak?

Para politisi tertarik pada PDB per kapita seperti ngengat (serangga) tertarik pada api. Mengapa? Karena PDB per kapita memiliki beberapa kualitas yang membuatnya ideal untuk narasi politik. Narasinya adalah:

  • Sederhana, yang jarang ditemukan dalam ekonomi dan karena itu berbahaya jika digunakan secara tidak tepat.
  • Sering menunjukkan tren naik sehingga dapat mendukung pidato tentang kemajuan.
  • Kurang memalukan dibandingkan gini ratio, angka kemiskinan, atau upah rata-rata.
  • Tidak jelas tentang siapa yang diuntungkan.

PDB per kapita meningkat, ekonomi tumbuh, dan tidak ada yang perlu menentukan pendapatan siapa yang sebenarnya berubah.

750 x 100 PASANG IKLAN

Lebih baik lagi, PDB per kapita tidak mempertanyakan apakah pertumbuhan itu inklusif, berkelanjutan, atau merata. PDB per kapita hanya mengumumkan angka dan membiarkan audiens bertepuk tangan. Para pemilih, pada bagian mereka, kesulitan untuk menghubungkannya. Tidak ada yang bangun tidur dengan memikirkan output per kapita, yang membuatnya sulit untuk ditantang dalam konteks sehari-hari.

Sekarang bandingkan ini dengan indikator yang jauh lebih jarang dibahas.

  • Koefisien gini ratio memiliki kebiasaan buruk mengungkapkan bahwa ketidaksetaraan tetap membandel, dengan tingkat perkotaan di atas 0,39 dan provinsi seperti Yogyakarta mencapai 0,43–0,45.
  • Pendapatan nasional bruto bahkan lebih buruk. Dengan mengurangi pendapatan yang mengalir keluar negeri. Hal ini menyoroti berapa banyak nilai yang diam-diam keluar melalui keuntungan, dividen, dan kepemilikan asing. Ini cenderung meredam suasana perayaan, sehingga jarang menjadi berita utama konferensi pers.
  • Pendapatan rumah tangga median secara langsung mengungkap stagnasi. Berbahaya.
  • Kemiskinan pada US$6,85 per hari (garis UMIC) mengungkapkan bahwa lebih dari 60% penduduk Indonesia masih “miskin” menurut standar negara-negara yang sering dibandingkan dengan Indonesia.
  • Rasio penyerapan rumah tangga menunjukkan betapa sedikit pertumbuhan yang mencapai keluarga. Lebih baik tidak pernah menyebutkan ini sama sekali.

Metrik-metrik ini akurat, spesifik, dan secara politis tidak nyaman.

Namun, PDB per kapita sangat tepat karena angka ini mengatakan segalanya dan tidak mengatakan apapun pada saat yang bersamaan. Ini setara dengan mengatakan, “Saya baik-baik saja!” Pernyataan ini disampaikan kepada kerabat Anda sambil menyembunyikan rekening bank Anda.

750 x 100 PASANG IKLAN

Narasi ekonomi Indonesia tampak indah dari kejauhan. Ya, PDB per kapita Indonesia meningkat. Ya, Indonesia adalah negara berpenghasilan menengah ke atas. Ya, PDB per kapita Jakarta terlihat seperti negara-negara OECD. Namun data tersebut menunjukkan satu hal yang sangat jelas.

Kisah makro Indonesia memberi tahu Anda apa yang dihasilkan ekonomi. Kisah itu tidak memberi tahu Anda apa yang diterima oleh rakyat Indonesia.

Jika Anda mempertimbangkan hal-hal berikut:

  • Upah rata-rata bergerak lambat.
  • Kesenjangan antarprovinsi tetap sangat besar.
  • Data konsumsi menunjukkan pembatasan daripada kelimpahan.
  • Kemiskinan, jika diukur berdasarkan ambang batas negara berpenghasilan menengah ke atas yang realistis, masih mencakup sebagian besar penduduk.
  • Ketidaksetaraan tetap tertanam secara struktural.
  • Sektor informal tenaga kerja adalah hal yang lazim.
  • Sebagian besar nilai tambah mengalir melalui pendapatan dari sumber daya alam dan konsentrasi kepemilikan elit, bukan melalui pendapatan rumah tangga.

Menjadi jelas bahwa PDB per kapita adalah metrik yang paling tidak “manusiawi” yang dapat dibayangkan.

750 x 100 PASANG IKLAN

Ini berguna bagi analis. Sangat bagus untuk kementerian. Dan sama sekali tidak membantu jika Anda ingin mengetahui apakah keluarga biasa mampu membayar sewa, membeli protein, atau menghindari spiral utang.

Pertumbuhan Indonesia itu nyata. Tetapi kesenjangan antara “pertumbuhan” dan “masyarakat yang merasakan pertumbuhan” juga nyata.

Dan itulah mengapa PDB per kapita akan terus menjadi bintang dalam setiap laporan kebijakan dan pidato politik:

  • Angka ini tampak bagus.
  • Angka ini sederhana.
  • Angka ini mudah dimanipulasi.

Dan yang terbaik dari semuanya, angka ini sama sekali tidak menggambarkan bagaimana keadaan masyarakat Indonesia pada umumnya. (Tulisan ini diterjemahkan dari rilis yang diterbitkan 12 Januari 2026. Penulis adalah StratEx-Indonesia Business Advisory, mantan analis Korn Ferry (sebuah firma konsultansi manajemen yang berkantor pusat di Los Angeles, California)).

 

Pages: 1 2 3Show All
750 x 100 PASANG IKLAN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait
930 x 180 PASANG IKLAN
DELTA SYSTECH INDONESIA

Tutup Yuk, Subscribe !