Oleh: Leigh McKiernon
SETIAP beberapa bulan, lembaga-lembaga internasional berdeham. Para politisi merapikan dasi mereka. Sekelompok kecil miliarder yang berbasis di Jakarta mengangguk dengan serius. Indonesia, kita diberitahu, sekarang adalah negara berpenghasilan menengah atas. Mereka tersenyum seolah-olah mereka secara pribadi berjabat tangan dengan sejarah dan menegosiasikan peningkatan kemakmuran umat manusia. Dan inti dari perayaan ini? Sebuah angka yang begitu disalahpahami, begitu agresif disalahgunakan, sehingga bisa dianggap sebagai zodiak ekonomi: PDB per kapita.
Anda pasti pernah mendengar ceritanya. “PDB per kapita Indonesia meningkat! Hampir mencapai US$ 5.000! Kita sedang menuju negara maju!”.
Bayangkan pesta meriah, iringan marching band, dan seseorang membaca laporan McKinsey terbalik. Lalu, Anda melihat sekeliling dan menyadari bahwa meskipun PDB per kapita meningkat, gaji Anda tidak.
Jika Anda bertanya kepada orang Indonesia, apakah mereka merasa kaya dengan pendapatan 5.000 dolar per kapita, sekitar dua pertiga akan menjawab: “Saya ingin sekali bertemu dengan orang yang memiliki 4.000 dolar saya yang hilang.”
Ini karena PDB per kapita, terutama dalam ekonomi yang didominasi oleh sumber daya alam, konsentrasi kekayaan oligarki, dan kantong-kantong besar pekerjaan informal bergaji rendah, bukanlah ukuran bagaimana orang hidup. Ini adalah ukuran bagaimana nilai dihasilkan dan di mana nilai tersebut terakumulasi. Ini seperti dongeng. Bayangkan Cinderella, kecuali saudara tirinya adalah pengusaha batubara dan ibu peri adalah Kementerian Keuangan.
Jadi, meskipun PDB per kapita tidak sepenuhnya berbohong, angka tersebut menceritakan kisah tentang output, sambil melewatkan bagian di mana sebagian besar orang tinggal.Dan itulah kisah yang layak untuk dikaji.
Apa Sebenarnya yang Diukur oleh PDB Per Kapita
Pemerintah Indonesia menyukai PDB per kapita karena angka ini meningkat, bahkan ketika tidak ada hal lain yang meningkat. Investor menyukainya karena angka ini merangkum seluruh kompleksitas ekonomi suatu negara ke dalam satu angka yang rapi. Dan para ekonom LinkedIn menyukainya karena tidak memerlukan pertanyaan lanjutan.
PDB per kapita tampak sederhana: PDB per kapita = total output ÷ jumlah penduduk.
Masalah dengan PDB per kapita adalah:
Namun, angka ini sering disajikan seolah-olah merupakan indikator standar hidup, kesempatan, atau kesehatan ekonomi. Ini seperti mengukur kesehatan keluarga dengan merata-ratakan berat badan setiap anggota keluarga.
Tentu, seorang kakek yang beratnya 120 kg dan bayinya beratnya 8 kg, tetapi rata-rata kami normal!
PDB per kapita Indonesia pada tahun 2024 berada di sekitar $4.925, atau sekitar US$16.448 dalam istilah PPP. Kedengarannya… terhormat. Ini menempatkan negara ini dengan nyaman di wilayah negara berpendapatan menengah.
Kemudian Anda melihat pendapatan median, yang pada dasarnya setara dengan menanyakan kepada penduduk, “Jadi bagaimana sebenarnya kehidupan mereka?”
Artinya, pendapatan median penduduk Indonesia hanya sekitar 15 persen dari apa yang tersirat dalam PDB per kapita. Ini adalah jejak matematis dari ekonomi di mana sebagian besar nilai dikuasai oleh modal, pendapatan dari sumber daya alam, dan kepemilikan terkonsentrasi, bukan oleh tenaga kerja.
PDB per kapita menghitung output dari tambang batubara, pabrik peleburan nikel, perkebunan kelapa sawit, kantor pusat keuangan, dan perusahaan milik negara. Angka ini tidak menanyakan ke mana keuntungan itu mengalir. Angka ini tidak menanyakan berapa banyak orang yang dibutuhkan untuk menghasilkan output tersebut. Dan angka ini tidak menanyakan apakah keuntungan tersebut diterjemahkan menjadi lapangan kerja yang stabil, kenaikan upah, atau peningkatan keamanan rumah tangga.
Jadi, PDB per kapita menceritakan kisah kemajuan, konvergensi, dan mobilitas sosial ke atas. Sementara pendapatan median menceritakan kisah peningkatan yang lambat, kerentanan yang tinggi, dan sistem distribusi yang bocor sebelum mencapai sebagian besar orang. Kedua angka tersebut secara teknis benar. Hanya satu yang menggambarkan realitas ekonomi yang dialami.
PDB Per Kapita per Provinsi Mengisahkan Kisah yang Salah
Jika PDB per kapita melebih-lebihkan kebenaran di tingkat nasional, angka tersebut sepenuhnya melenceng di tingkat provinsi.
Di atas kertas, angka-angka tersebut menunjukkan bahwa Indonesia bukanlah satu ekonomi tunggal, melainkan sebuah multiverse. Tengok saja data di bawah ini:
Jika dibaca seperti ini, Jakarta tampak lebih kaya daripada beberapa bagian Eropa Selatan, sementara Papua Tengah tampaknya berada di luar ekonomi modern sama sekali. Godaan yang muncul adalah untuk menyimpulkan bahwa Indonesia terbagi antara pusat-pusat perkotaan yang sangat makmur dan daerah-daerah yang sangat miskin. Kesimpulan itu salah.
Ketika Anda berhenti melihat produksi dan mulai melihat orang-orang, upah rata-rata di provinsi-provinsi yang sama ini tidak berbeda 30 kali lipat. Perbedaannya hanya 2–3 kali lipat. Ini datanya:
Perhatikan baik-baik! Itu bukan berarti “Kalimantan Timur 8 kali lebih kaya daripada NTT,” meskipun PDB per kapita menunjukkan demikian. Intinya adalah: “Pendapatan semua orang rendah, tetapi beberapa orang tinggal di dekat lokasi penambangan sumber daya.”
Kesenjangan ini ada karena PDB per kapita provinsi mengukur di mana nilai dicatat, bukan di mana nilai itu berada. Provinsi yang kaya sumber daya menghasilkan output yang sangat besar dengan jumlah pekerja yang relatif sedikit. Keuntungan mengalir ke perusahaan, pemegang saham, dan pemerintah pusat, seringkali jauh dari lokasi penambangan.
Jadi, apakah Kalimantan Timur kaya? Ya, dalam arti menghasilkan nilai ekonomi yang sangat besar. Namun, bagi orang awam, “provinsi kaya” biasanya berarti “paman tetangga Anda mengenal seseorang yang mengendarai Hilux perusahaan,” daripada berpartisipasi dalam kekayaan.
Siapa sebenarnya yang mendapat manfaat dari pertumbuhan Indonesia? Struktur ekonomi Indonesia dapat diringkas sebagai: Beberapa konglomerat, beberapa sumber daya alam, 100 juta pekerja informal, dan sebuah mimpi.
Ketika produksi meningkat, sebagian besar peningkatan tersebut secara matematis telah dialokasikan untuk sekelompok kecil orang. Bagi yang lain, angkanya terlihat berbeda.
Inilah realitas ekonomi rumah tangga rata-rata. Cukup stabil untuk bertahan hidup, tetapi jauh dari kemakmuran yang tersirat dalam angka PDB utama.
PDB per kapita dengan senang hati menggabungkan semuanya:
PDB per kapita ingin bersifat demokratis. Ia ingin berbicara untuk semua orang. Tetapi menurut definisinya, ia tidak bisa. Itu adalah rata-rata dalam ekonomi di mana orang rata-rata tidak ada.
Ada pepatah lama di Indonesia: “Rezeki sudah ada yang atur.” PDB per kapita pun setuju. Mengapa PDB per kapita mendapat perhatian semua pihak?
Para politisi tertarik pada PDB per kapita seperti ngengat (serangga) tertarik pada api. Mengapa? Karena PDB per kapita memiliki beberapa kualitas yang membuatnya ideal untuk narasi politik. Narasinya adalah:
PDB per kapita meningkat, ekonomi tumbuh, dan tidak ada yang perlu menentukan pendapatan siapa yang sebenarnya berubah.
Lebih baik lagi, PDB per kapita tidak mempertanyakan apakah pertumbuhan itu inklusif, berkelanjutan, atau merata. PDB per kapita hanya mengumumkan angka dan membiarkan audiens bertepuk tangan. Para pemilih, pada bagian mereka, kesulitan untuk menghubungkannya. Tidak ada yang bangun tidur dengan memikirkan output per kapita, yang membuatnya sulit untuk ditantang dalam konteks sehari-hari.
Sekarang bandingkan ini dengan indikator yang jauh lebih jarang dibahas.
Metrik-metrik ini akurat, spesifik, dan secara politis tidak nyaman.
Namun, PDB per kapita sangat tepat karena angka ini mengatakan segalanya dan tidak mengatakan apapun pada saat yang bersamaan. Ini setara dengan mengatakan, “Saya baik-baik saja!” Pernyataan ini disampaikan kepada kerabat Anda sambil menyembunyikan rekening bank Anda.
Narasi ekonomi Indonesia tampak indah dari kejauhan. Ya, PDB per kapita Indonesia meningkat. Ya, Indonesia adalah negara berpenghasilan menengah ke atas. Ya, PDB per kapita Jakarta terlihat seperti negara-negara OECD. Namun data tersebut menunjukkan satu hal yang sangat jelas.
Kisah makro Indonesia memberi tahu Anda apa yang dihasilkan ekonomi. Kisah itu tidak memberi tahu Anda apa yang diterima oleh rakyat Indonesia.
Jika Anda mempertimbangkan hal-hal berikut:
Menjadi jelas bahwa PDB per kapita adalah metrik yang paling tidak “manusiawi” yang dapat dibayangkan.
Ini berguna bagi analis. Sangat bagus untuk kementerian. Dan sama sekali tidak membantu jika Anda ingin mengetahui apakah keluarga biasa mampu membayar sewa, membeli protein, atau menghindari spiral utang.
Pertumbuhan Indonesia itu nyata. Tetapi kesenjangan antara “pertumbuhan” dan “masyarakat yang merasakan pertumbuhan” juga nyata.
Dan itulah mengapa PDB per kapita akan terus menjadi bintang dalam setiap laporan kebijakan dan pidato politik:
Dan yang terbaik dari semuanya, angka ini sama sekali tidak menggambarkan bagaimana keadaan masyarakat Indonesia pada umumnya. (Tulisan ini diterjemahkan dari rilis yang diterbitkan 12 Januari 2026. Penulis adalah StratEx-Indonesia Business Advisory, mantan analis Korn Ferry (sebuah firma konsultansi manajemen yang berkantor pusat di Los Angeles, California)).