160 x 600 PASANG IKLAN
160 x 600 PASANG IKLAN
160 x 600 PASANG IKLAN
160 x 600 PASANG IKLAN

Angka PDB per Kapita: Indonesia Terlihat Kaya, tapi Masyarakat Merasa Miskin

750 x 100 PASANG IKLAN

Oleh: Leigh McKiernon

SETIAP beberapa bulan, lembaga-lembaga internasional berdeham. Para politisi merapikan dasi mereka. Sekelompok kecil miliarder yang berbasis di Jakarta mengangguk dengan serius. Indonesia, kita diberitahu, sekarang adalah negara berpenghasilan menengah atas. Mereka tersenyum seolah-olah mereka secara pribadi berjabat tangan dengan sejarah dan menegosiasikan peningkatan kemakmuran umat manusia. Dan inti dari perayaan ini? Sebuah angka yang begitu disalahpahami, begitu agresif disalahgunakan, sehingga bisa dianggap sebagai zodiak ekonomi: PDB per kapita.

Anda pasti pernah mendengar ceritanya. “PDB per kapita Indonesia meningkat! Hampir mencapai US$ 5.000! Kita sedang menuju negara maju!”.

Bayangkan pesta meriah, iringan marching band, dan seseorang membaca laporan McKinsey terbalik. Lalu, Anda melihat sekeliling dan menyadari bahwa meskipun PDB per kapita meningkat, gaji Anda tidak.

750 x 100 PASANG IKLAN

Jika Anda bertanya kepada orang Indonesia, apakah mereka merasa kaya dengan pendapatan 5.000 dolar per kapita, sekitar dua pertiga akan menjawab: “Saya ingin sekali bertemu dengan orang yang memiliki 4.000 dolar saya yang hilang.”

Ini karena PDB per kapita, terutama dalam ekonomi yang didominasi oleh sumber daya alam, konsentrasi kekayaan oligarki, dan kantong-kantong besar pekerjaan informal bergaji rendah, bukanlah ukuran bagaimana orang hidup. Ini adalah ukuran bagaimana nilai dihasilkan dan di mana nilai tersebut terakumulasi. Ini seperti dongeng. Bayangkan Cinderella, kecuali saudara tirinya adalah pengusaha batubara dan ibu peri adalah Kementerian Keuangan.

Jadi, meskipun PDB per kapita tidak sepenuhnya berbohong, angka tersebut menceritakan kisah tentang output, sambil melewatkan bagian di mana sebagian besar orang tinggal.Dan itulah kisah yang layak untuk dikaji.

Apa Sebenarnya yang Diukur oleh PDB Per Kapita

750 x 100 PASANG IKLAN

Pemerintah Indonesia menyukai PDB per kapita karena angka ini meningkat, bahkan ketika tidak ada hal lain yang meningkat. Investor menyukainya karena angka ini merangkum seluruh kompleksitas ekonomi suatu negara ke dalam satu angka yang rapi. Dan para ekonom LinkedIn menyukainya karena tidak memerlukan pertanyaan lanjutan.

PDB per kapita tampak sederhana: PDB per kapita = total output ÷ jumlah penduduk.

Masalah dengan PDB per kapita adalah:

  • Angka ini tidak mengukur pendapatan.
  • Angka ini tidak mengukur upah.
  • Angka ini tidak mengukur bagaimana uang didistribusikan.
  • Angka ini tidak mengukur siapa yang menerimanya.
  • Angka ini tidak mengukur apakah uang tersebut pernah melewati rumah tangga sama sekali.

Namun, angka ini sering disajikan seolah-olah merupakan indikator standar hidup, kesempatan, atau kesehatan ekonomi. Ini seperti mengukur kesehatan keluarga dengan merata-ratakan berat badan setiap anggota keluarga.

750 x 100 PASANG IKLAN

Tentu, seorang kakek yang beratnya 120 kg dan bayinya beratnya 8 kg, tetapi rata-rata kami normal!

PDB per kapita Indonesia pada tahun 2024 berada di sekitar $4.925, atau sekitar US$16.448 dalam istilah PPP. Kedengarannya… terhormat. Ini menempatkan negara ini dengan nyaman di wilayah negara berpendapatan menengah.

Kemudian Anda melihat pendapatan median, yang pada dasarnya setara dengan menanyakan kepada penduduk, “Jadi bagaimana sebenarnya kehidupan mereka?”

  • Pendapatan median (PPP): sekitar US$2.510.
  • PDB per kapita (PPP): US$16.448

Artinya, pendapatan median penduduk Indonesia hanya sekitar 15 persen dari apa yang tersirat dalam PDB per kapita. Ini adalah jejak matematis dari ekonomi di mana sebagian besar nilai dikuasai oleh modal, pendapatan dari sumber daya alam, dan kepemilikan terkonsentrasi, bukan oleh tenaga kerja.

PDB per kapita menghitung output dari tambang batubara, pabrik peleburan nikel, perkebunan kelapa sawit, kantor pusat keuangan, dan perusahaan milik negara. Angka ini tidak menanyakan ke mana keuntungan itu mengalir. Angka ini tidak menanyakan berapa banyak orang yang dibutuhkan untuk menghasilkan output tersebut. Dan angka ini tidak menanyakan apakah keuntungan tersebut diterjemahkan menjadi lapangan kerja yang stabil, kenaikan upah, atau peningkatan keamanan rumah tangga.

Jadi, PDB per kapita menceritakan kisah kemajuan, konvergensi, dan mobilitas sosial ke atas. Sementara pendapatan median menceritakan kisah peningkatan yang lambat, kerentanan yang tinggi, dan sistem distribusi yang bocor sebelum mencapai sebagian besar orang. Kedua angka tersebut secara teknis benar. Hanya satu yang menggambarkan realitas ekonomi yang dialami.

Pages: 1 2 3
750 x 100 PASANG IKLAN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait
930 x 180 PASANG IKLAN
DELTA SYSTECH INDONESIA

Tutup Yuk, Subscribe !