Dua Komoditas Andalan Ekspor
Dari capaian itu, pihak Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulteng memperkirakan, prospek perdagangan luar negeri hingga tiga tahun mendatang tetap positif, yang sangat dipengaruhi dinamika permintaan global, khususnya Tiongkok sebagai mitra dagang utama.
Tim ekonom BI Sulteng menekankan, dua komoditas andalan ekspor berbasis nikel dari kawasan industri IMIP ialah baja tahan karat (stainless steel) dan mixed hydroxide precipitate (MHP) sebagai prekursor baterai kendaraan listrik (EV battery).
Kinerja ekspor daerah Sulteng diyakini tetap resilien dan berdaya tahan di tengah gejolak pergerakan harga komoditas global. Arah kebijakan nasional pada tahap penguatan hilirisasi sumber daya mineral juga berpengaruh pada keberagaman struktur komoditas ekspor Sulteng yang tidak didominasi bahan setengah jadi.
Perkembangan rantai pengolahan pun membuat nilai tambah produk yang diekspor berpotensi meningkat. Permintaan global terhadap material EV battery dan stainless steel diprediksi akan terus membuka ruang bagi pertumbuhan ekspor produk turunan nikel dari Sulteng.
Di sisi lain, data Direktorat Jenderal Bea dan Cukai menyebutkan, nilai impor bahan baku atau penolong industri Sulteng mencapai US$ 8,82 miliar atau 79 persen dari total impor. Sedangkan impor barang modal meningkat 14,4 persen menjadi US$ 2,33 miliar. Barang modal dan bahan baku industri ini diperuntukan menyokong operasional 52 perusahaan yang beroperasi di kawasan IMIP.
Tren impor ini menjadi indikator positif pertumbuhan industri yang mencerminkan fase ekspansi dan penguatan kapasitas produksi. Juga menunjukkan adanya investasi berkelanjutan dalam pembangunan fasilitas produksi dan infrastruktur pendukung.
BI Sulteng menyebut, Kabupaten Morowali berkontribusi signifikan terhadap perekonomian regional, melalui peran dominan sektor industri pengolahan dalam struktur Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Dari tinjauan BI merujuk pada data Badan Pusat Statistik (BPS), kontribusi Kabupaten Morowali mencapai 47,6 persen total PDRB Sulteng.
BPS mencatat, laju pertumbuhan ekonomi Morowali hingga Maret 2026 berada pada posisi kedua tertinggi di antara 13 kabupaten/kota di Provinsi Sulawesi Tengah. Memasuki triwulan I 2026, Morowali menunjukkan pertumbuhan ekonomi 10,81 persen, setelah Morowali Utara di posisi teratas dengan angka 19,97 persen.
Secara nasional, pertumbuhan ekonomi Sulteng tertinggi ke-2 setelah Maluku Utara. Laju peningkatannya mencapai 8,47 persen, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,11 persen.
Meski fluktuatif, kontribusi Morowali tetap menjadi tulang punggung stabilitas ekonomi regional. Surplus neraca perdagangan Sulawesi Tengah tidak hanya mencerminkan kinerja ekspor yang kuat, tetapi juga memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi regional.
Memasuki tahun 2026, BI Sulteng optimis ekonomi daerah tetap tumbuh tinggi di angka digit dobel (12–13 persen). Diketahui, hingga Desember 2025, total investasi yang masuk ke kawasan IMIP tercatat mencapai US$ 41,483 miliar atau setara Rp696,91 triliun. Angka ini meningkat signifikan dibandingkan tahun 2022 sebesar US$ 29,6 miliar. Ini mencerminkan tingginya kepercayaan investor global terhadap ekosistem industri berbasis nikel terintegrasi yang berkembang di kawasan tersebut.
Deputi Direktur Operasional PT IMIP, Yulius Susanto, menyampaikan, pertumbuhan investasi ini berjalan seiring dengan peningkatan aktivitas industri dan penyerapan tenaga kerja. (Syarif)