160 x 600 PASANG IKLAN
160 x 600 PASANG IKLAN
160 x 600 PASANG IKLAN
160 x 600 PASANG IKLAN

IMIP Topang Fiskal Negara, Tingkatkan Ekspor dan Ekonomi

Kontribusi industri pengolahan mineral logam di IMIP terhadap pertumbuhan ekonomi di Morowali sekaligus negara. Foto: Dok. IMIP.
750 x 100 PASANG IKLAN

Morowali,corebusiness.co.id-Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Morowali, Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng), memasuki triwulan I 2026 sekitar 10,81 persen, setelah Morowali Utara di posisi teratas dengan angka 19,97 persen. Secara nasional, pertumbuhan ekonomi Sulteng tertinggi ke-2 setelah Maluku Utara.

Sektor industri pengolahan di Kabupaten Morowali menjadi penggerak utama yang memacu surplus neraca perdagangan Sulawesi Tengah (Sulteng). Selain meningkatkan nilai ekspor, aktivitas manufaktur khususnya di kawasan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) juga memberikan multiplier effect terhadap perekonomian lokal. Termasuk peningkatan aktivitas usaha, mobilitas tenaga kerja, serta potensi penerimaan pajak daerah.

Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Provinsi Sulteng, Andi Irman, mengakui struktur ekonomi daerah tidak sepenuhnya bergantung pada sektor industri. Komoditas pertanian dan perkebunan seperti kakao, kelapa, serta bidang perikanan tetap berperan sebagai penopang daerah, terutama dalam menjaga keseimbangan dan diversifikasi jangka panjang.

Namun, Andi Irman juga mengakui bahwa aktivitas hilirisasi mineral berbasis nikel di kawasan industri Morowali telah mendorong perubahan struktur dari berbasis mentah menjadi produk bernilai tambah tinggi. Feronikel, nickel pig iron, dan berbagai turunan logam lainnya kini menjadi komoditas utama ekspor Sulawesi Tengah.

750 x 100 PASANG IKLAN

“Dari sisi perdagangan luar negeri, Sulawesi Tengah mencatatkan kinerja yang solid dengan dominasi ekspor produk hasil hilirisasi industri. Nilai ekspor tinggi terutama berasal dari kawasan industri di Morowali dan Morowali Utara sebagai pusat produksi logam berbasis nikel untuk pasar global,” kata Andi Irman dalam pernyataan resminya.

Di sisi lain, kata dia, impor daerah didominasi barang modal dan bahan baku industri.

Sementara sektor industri pengolahan mencatatkan kinerja perdagangan luar negeri yang signifikan sepanjang 2025. Data terbaru menunjukkan nilai ekspor Sulteng menembus angka US$ 22,32 miliar, tumbuh 5,14 persen dibandingkan tahun 2024 sebesar US$ 21,22 miliar.

Aktivitas impor juga meningkat menjadi US$ 11,31 miliar sebagai respons atas kebutuhan bahan baku dan barang modal dalam mendukung ekspansi industri. Data tersebut diperkuat oleh Posisi Kabupaten Morowali sebagai pusat aktivitas perdagangan luar negeri di Sulteng.

750 x 100 PASANG IKLAN

Di aspek bandar muat, Pelabuhan Bahodopi dan Morowali mencatatkan nilai ekspor gabungan sebesar US$ 18,08 miliar. Angka ini mencerminkan dominasi kuat, dengan 81 persen dari total ekspor Sulteng bersumber dari kegiatan industri dan perdagangan luar negeri yang berpusat di Morowali.

Dari sisi struktur komoditas, ekspor didominasi produk besi dan baja dengan pangsa sebesar 61,31 persen, disusul oleh nikel sebesar 16,59 persen. Ketangguhan sektor ini terlihat dari daya tahan ekspor yang tetap tumbuh hingga 17,41 persen dalam tiga tahun terakhir (2023–2025), meskipun harga nikel di pasar global (London Metal Exchange/LME) mengalami tren menurun hingga 40,82 persen sejak 2022.

Dua Komoditas Andalan Ekspor 

Dari capaian itu, pihak Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulteng memperkirakan, prospek perdagangan luar negeri hingga tiga tahun mendatang tetap positif, yang sangat dipengaruhi dinamika permintaan global, khususnya Tiongkok sebagai mitra dagang utama.

Tim ekonom BI Sulteng menekankan, dua komoditas andalan ekspor berbasis nikel dari kawasan industri IMIP ialah baja tahan karat (stainless steel) dan mixed hydroxide precipitate (MHP) sebagai prekursor baterai kendaraan listrik (EV battery).

750 x 100 PASANG IKLAN

Kinerja ekspor daerah Sulteng diyakini tetap resilien dan berdaya tahan di tengah gejolak pergerakan harga komoditas global. Arah kebijakan nasional pada tahap penguatan hilirisasi sumber daya mineral juga berpengaruh pada keberagaman struktur komoditas ekspor Sulteng yang tidak didominasi bahan setengah jadi.

Perkembangan rantai pengolahan pun membuat nilai tambah produk yang diekspor berpotensi meningkat. Permintaan global terhadap material EV battery dan stainless steel diprediksi akan terus membuka ruang bagi pertumbuhan ekspor produk turunan nikel dari Sulteng.

Di sisi lain, data Direktorat Jenderal Bea dan Cukai menyebutkan, nilai impor bahan baku atau penolong industri Sulteng mencapai US$ 8,82 miliar atau 79 persen dari total impor. Sedangkan impor barang modal meningkat 14,4 persen menjadi US$ 2,33 miliar. Barang modal dan bahan baku industri ini diperuntukan menyokong operasional 52 perusahaan yang beroperasi di kawasan IMIP.

Tren impor ini menjadi indikator positif pertumbuhan industri yang mencerminkan fase ekspansi dan penguatan kapasitas produksi. Juga menunjukkan adanya investasi berkelanjutan dalam pembangunan fasilitas produksi dan infrastruktur pendukung.

BI Sulteng menyebut, Kabupaten Morowali berkontribusi signifikan terhadap perekonomian regional, melalui peran dominan sektor industri pengolahan dalam struktur Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Dari tinjauan BI merujuk pada data Badan Pusat Statistik (BPS), kontribusi Kabupaten Morowali mencapai 47,6 persen total PDRB Sulteng.

BPS mencatat, laju pertumbuhan ekonomi Morowali hingga Maret 2026 berada pada posisi kedua tertinggi di antara 13 kabupaten/kota di Provinsi Sulawesi Tengah. Memasuki triwulan I 2026, Morowali menunjukkan pertumbuhan ekonomi 10,81 persen, setelah Morowali Utara di posisi teratas dengan angka 19,97 persen.

Secara nasional, pertumbuhan ekonomi Sulteng tertinggi ke-2 setelah Maluku Utara. Laju peningkatannya mencapai 8,47 persen, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,11 persen.

Meski fluktuatif, kontribusi Morowali tetap menjadi tulang punggung stabilitas ekonomi regional. Surplus neraca perdagangan Sulawesi Tengah tidak hanya mencerminkan kinerja ekspor yang kuat, tetapi juga memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi regional.

Memasuki tahun 2026, BI Sulteng optimis ekonomi daerah tetap tumbuh tinggi di angka digit dobel (12–13 persen). Diketahui, hingga Desember 2025, total investasi yang masuk ke kawasan IMIP tercatat mencapai US$ 41,483 miliar atau setara Rp696,91 triliun. Angka ini meningkat signifikan dibandingkan tahun 2022 sebesar US$ 29,6 miliar. Ini mencerminkan tingginya kepercayaan investor global terhadap ekosistem industri berbasis nikel terintegrasi yang berkembang di kawasan tersebut.

Deputi Direktur Operasional PT IMIP, Yulius Susanto, menyampaikan, pertumbuhan investasi ini berjalan seiring dengan peningkatan aktivitas industri dan penyerapan tenaga kerja. (Syarif)

750 x 100 PASANG IKLAN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait
930 x 180 PASANG IKLAN
DELTA SYSTECH INDONESIA

Tutup Yuk, Subscribe !