Morowali,corebusiness.co.id-Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Morowali, Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng), memasuki triwulan I 2026 sekitar 10,81 persen, setelah Morowali Utara di posisi teratas dengan angka 19,97 persen. Secara nasional, pertumbuhan ekonomi Sulteng tertinggi ke-2 setelah Maluku Utara.
Sektor industri pengolahan di Kabupaten Morowali menjadi penggerak utama yang memacu surplus neraca perdagangan Sulawesi Tengah (Sulteng). Selain meningkatkan nilai ekspor, aktivitas manufaktur khususnya di kawasan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) juga memberikan multiplier effect terhadap perekonomian lokal. Termasuk peningkatan aktivitas usaha, mobilitas tenaga kerja, serta potensi penerimaan pajak daerah.
Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Provinsi Sulteng, Andi Irman, mengakui struktur ekonomi daerah tidak sepenuhnya bergantung pada sektor industri. Komoditas pertanian dan perkebunan seperti kakao, kelapa, serta bidang perikanan tetap berperan sebagai penopang daerah, terutama dalam menjaga keseimbangan dan diversifikasi jangka panjang.
Namun, Andi Irman juga mengakui bahwa aktivitas hilirisasi mineral berbasis nikel di kawasan industri Morowali telah mendorong perubahan struktur dari berbasis mentah menjadi produk bernilai tambah tinggi. Feronikel, nickel pig iron, dan berbagai turunan logam lainnya kini menjadi komoditas utama ekspor Sulawesi Tengah.
“Dari sisi perdagangan luar negeri, Sulawesi Tengah mencatatkan kinerja yang solid dengan dominasi ekspor produk hasil hilirisasi industri. Nilai ekspor tinggi terutama berasal dari kawasan industri di Morowali dan Morowali Utara sebagai pusat produksi logam berbasis nikel untuk pasar global,” kata Andi Irman dalam pernyataan resminya.
Di sisi lain, kata dia, impor daerah didominasi barang modal dan bahan baku industri.
Sementara sektor industri pengolahan mencatatkan kinerja perdagangan luar negeri yang signifikan sepanjang 2025. Data terbaru menunjukkan nilai ekspor Sulteng menembus angka US$ 22,32 miliar, tumbuh 5,14 persen dibandingkan tahun 2024 sebesar US$ 21,22 miliar.
Aktivitas impor juga meningkat menjadi US$ 11,31 miliar sebagai respons atas kebutuhan bahan baku dan barang modal dalam mendukung ekspansi industri. Data tersebut diperkuat oleh Posisi Kabupaten Morowali sebagai pusat aktivitas perdagangan luar negeri di Sulteng.
Di aspek bandar muat, Pelabuhan Bahodopi dan Morowali mencatatkan nilai ekspor gabungan sebesar US$ 18,08 miliar. Angka ini mencerminkan dominasi kuat, dengan 81 persen dari total ekspor Sulteng bersumber dari kegiatan industri dan perdagangan luar negeri yang berpusat di Morowali.
Dari sisi struktur komoditas, ekspor didominasi produk besi dan baja dengan pangsa sebesar 61,31 persen, disusul oleh nikel sebesar 16,59 persen. Ketangguhan sektor ini terlihat dari daya tahan ekspor yang tetap tumbuh hingga 17,41 persen dalam tiga tahun terakhir (2023–2025), meskipun harga nikel di pasar global (London Metal Exchange/LME) mengalami tren menurun hingga 40,82 persen sejak 2022.