INFO Lebih Lanjut Klik: https://www.dfskmotors.co.id/id
Kendala Pendanaan
Sebagai salah satu produsen batubara terbesar di dunia, Indonesia memiliki potensi besar untuk mengoptimalkan sumber daya batubara. Salah satunya dengan memanfaatkan batubara kalori rendah untuk dikonversi menjadi syngas atau produk turunan seperti dimethyl ether (DME) sebagai bahan bakar subsitusi LPG. Proses gasifikasi ini umumnya menggunakan batubara kalori pada rentang 3.000 hingga 5.000 kcal/kg (GAR).
Pada tahun 2020, proyek gasifikasi batubara sempat ingin direalisasikan PT Bukit Asam Tbk (PTBA) dan PT Pertamina (Persero) dengan menggandeng perusahaan dari AS, Air Products and Chemicals Inc. PTBA, Pertamina, dan Air Products and Chemicals Inc akan bekerja sama dalam proyek pabrik gasifikasi batu barasenilai US$2,1 miliar atau sekitar Rp30 triliun.
Dalam proyek ini, Air Product akan menanggung semua biaya baik dalam penyediaan teknologi dan membangun pabrik gasifikasi batubara menjadi DME. PTBA berperan sebagai pemasok batubara, penyedia infrastuktur dan lahan di kawasan Tanjung Enim, Sumatra Selatan. Sementara Pertamina menjadi offtaker atau pembeli DME yang dihasilkan. Adapun Air Products merupakan investor dan penyedia teknologi dalam pembangunan pabrik.
Namun di tengah jalan Air Procuct memutuskan hengkang dari proyek ini. Padahal sudah sempat dilakukan groundbreaking pembangunan pabrik gasifikasi.
Ditinggal pergi Air Product, baik PTBA maupun Pertamina tetap berusaha untuk melanjutkan proyek yang sempat gagal tersebut. Perkembangannya, pada Kamis, 29 April 2026, kedua perusahaan pelat merah tersebut bersama Danantara melaksanakan groundbreaking proyek hilirisasi fase II untuk pengembangan DME di Tanjung Enim.
Sementara itu, Vice President PT Amir Brother Gasification (ABG) Jamil Amir Baduwi mengungkapkan, salah satu kendala perusahaan batubara melakukan hilirisasi adalah persoalan biaya. Karena, proyek hilirisasi batubara membutuhkan biaya besar.
ABG adalah perusahaan konsultan manajemen proyek bagi pemilik pabrik gasifikasi, penyedia teknologi, kontraktor utama, dan EPC (engineering, procurement, and construction).
Jamil mencontohkan, untuk membangun pabrik pengolahan raw material batubara menjadi DME, investasinya dari low budgeting 600 juta dolar AS hingga 1 miliar dolar AS untuk tipe pabrik full gasifikasi. Dana sebesar itu penyediaan infrastruktur teknologi pabrik pengolahan bahan baku batubara untuk diproses gasifikasi.
“Teknologi gasifikasi sebenarnya tidak menjadi kendala, karena sudah banyak yang proven. Kendalanya adalah biaya untuk penyediaan teknologi tersebut,” kata Jamil kepada corebusiness.co.id.
Jamil menyampaikan bahwa Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah, salah satunya adalah batubara dengan berbagai jenis, dari batubara kalori rendah hingga kalori tinggi.
“Cadangan batubara di negara ini sangat besar dan perlu dikelola sebaik mungkin. Jika raw material batubara diproses lebih lanjut untuk menghasilkan varian produk turunan, maka akan memberikan nilai ekonomi yang sangat tinggi,” terangnya.
Jamil mengklaim potensi market produk turunan hasil gasifikasi batubara sangat besar. Bahkan, untuk skala kebutuhan dalam negeri peluang marketnya sangat menjanjikan. Karena, Indonesia hingga saat ini masih impor metanol, amonia, DME, dan produk turunan gasifikasi batubara lainnya.
Melihat potensi-potensi tersebut, Jamil berharap Pemerintah Indonesia membuat kebijakan dan regulasi untuk memudahkan para pengusaha dan investor yang ingin membangun industri hilir batubara di Indonesia. (Rif)