INFO Lebih Lanjut Klik: https://www.dfskmotors.co.id/id
Jakarta,corebusiness.co.id-Pemerintah mendukung pengembangan gasifikasi batubara, salah satunya menjadi produk dimethyl ether (DME) sebagai bahan bakar substitusi liquefied petroleum gas (LPG) yang dibutuhkan sektor rumah tangga.
Presiden Prabowo Subianto memanggil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dan Chief Executive Officer PT Danantara Development Management Fund Sigit P. Santosa untuk membahas kondisi energi nasional di tengah dinamika geopolitik global di Istana Negara, Jakarta, Senin, 27 April 2026 lalu.
Usai pertemuan, Bahlil menyampaikan bahwa pemerintah terus memastikan stabilitas pasokan energi, termasuk bahan bakar minyak (BBM), tetap terjaga. Menurutnya, stabilitas pasokan energi nasional tetap terjaga meskipun terjadi ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, termasuk di sekitar Selat Hormuz yang memengaruhi rantai pasok energi global.
Dalam kesempatan tersebut, Bahlil juga menjelaskan langkah strategis pemerintah untuk mengurangi ketergantungan impor LPG. Ia menyebutkan, saat ini konsumsi LPG nasional mencapai sekitar 8,6 juta ton per tahun, sementara produksi dalam negeri baru sekitar 1,6 hingga 1,7 juta ton.
Medio Juli 2026, PT Pertamina Patra Niaga sukses mendatangkan kapal tanker Pertamina Gas 1 (PG1) yang membawa sekitar 45,9 ribu metrik ton LPG dari Freeport, Texas, Amerika Serikat. Langkah ini dilakukan untuk memperkuat keandalan pasokan LPG nasional di tengah dinamika pasar energi global.
Muatan yang diangkut kapal tersebut terdiri atas sekitar 23 ribu metrik ton propana (propane) dan 22,8 ribu metrik ton butana (butane). Jumlah tersebut setara dengan sekitar 15,2 juta tabung LPG ukuran 3 kilogram.
VP Corporate Communication PT Pertamina Patra Niaga, Kitty Andhora, menjelaskan bahwa diversifikasi sumber pasokan global merupakan strategi perusahaan untuk menjamin ketersediaan energi bagi masyarakat dan sektor produktif.
“Di tengah dinamika energi global, menjaga keandalan pasokan merupakan bagian penting dalam memperkuat ketahanan energi nasional,” ujar Kitty dalam keterangan tertulisnya.
Sementara Danantara, telah menandatangani Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) dengan perusahaan teknologi asal Amerika Serikat (AS), Latitude Energy, untuk pengembangan proyek gasifikasi di Indonesia. Penandatangan dilaksanakan di Kedutaan Besar AS di Jakarta, Rabu, 8 Juli 2026.
Melalui kemitraan itu, kedua pihak akan mengembangkan proyek gasifikasi batubara dengan memanfaatkan teknologi Transport Integrated Gasification (TRIG), yang mampu mengubah batubara menjadi gas sintetis.
Menukil laman id.usembassy.gov, CEO PT Danantara Development Management Fund Sigit P. Santosa mengatakan, kemitraan tersebut mendukung strategi Pemerintah Indonesia dalam mewujudkan kemandirian energi melalui pemanfaatan batubara berkalori rendah.
Teknologi TRIG yang akan diterapkan dalam proyek tersebut diharapkan membuka peluang bagi Indonesia untuk memproduksi gas sintetis di dalam negeri sehingga dapat mengurangi ketergantungan pada impor, sekaligus menciptakan peluang baru bagi pengembangan industri nasional.
Latitude Energy menawarkan kemitraan jangka panjang kepada Danantara dengan dukungan manajemen, keahlian teknis, dan fokus investasi yang dibutuhkan untuk membangun platform gasifikasi batubara yang dapat dikembangkan dalam skala yang lebih besar. Perusahaan memandang Indonesia bukan hanya sebagai pasar pertama, tetapi juga sebagai titik awal pengembangan proyek-proyek gasifikasi batubara di kawasan Asia Tenggara.
President & Chief Executive Officer Latitude Energy Holdings Inc., Jacob Thomas mengatakan bahwa MoU ini menjadi tonggak penting dalam kemitraan perusahaannya dengan Danantara untuk memajukan ketahanan energi dan pengembangan industri Indonesia.
Jacob menyatakan, dengan menggabungkan sumber daya domestik Indonesia yang melimpah dengan teknologi TRIG™ milik Latitude, teknologi gasifikasi batu barapaling maju di dunia, pihaknya berkomitmen menghadirkan teknologi unggulan AS ke Indonesia, mengembangkan kapasitas lokal, dan menciptakan nilai jangka panjang bagi industri hilir Indonesia.
“Kemitraan ini merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kedaulatan energi Indonesia,” ujar Jacob.