Jakarta,corebusiness.co.id-Harga minyak mentah Brent berjangka naik $2,38, atau 2,3%, menjadi $104,96 per barel pada Jumat, 22 Mei 2026, pukul 00.34 GMT, dan harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS berjangka naik $1,73, atau 1,8%, menjadi $98,08.
Pada perdagangan Kamis, 21 Mei, harga minyak mentah dunia ditutup melemah, dengan minyak mentah Brent berada di level $ 102,58 per barel dan WTI di angka $6,35 per barel. Bahkan untuk harga minyak mentah Brent terjadi kontraksi signifikan dibandingkan harga pada 30 April 2026, yang berada di level $ 120 per barel.
“Dengan prospek perundingan perdamaian yang masih belum jelas, harga minyak naik karena ekspektasi yang terkait dengan Selat Hormuz akan terus berlanjut,” kata Satoru Yoshida, analis komoditas di Rakuten Securities, dikutip Reuters.
Yoshida memperkirakan harga WTI akan tetap berada di kisaran $90-$110 minggu depan, seperti tren yang terjadi sejak akhir Maret.
Terpisah, informasi yang diterima Reuters dari empat orang sumber memperkirakan tujuh negara penghasil minyak utama OPEC+ kemungkinan akan menyetujui kenaikan moderat pada produksi Juli ketika mereka bertemu pada 7 Juni, meskipun pengiriman minyak untuk beberapa negara masih terganggu akibat konflik perang di Timur Tengah.
Meskipun keputusan akhir belum dibuat, sumber itu menyebutkan target bulanan yang ditetapkan oleh tujuh anggota inti OPEC+ diperkirakan akan dinaikkan sekitar 188.000 barel per hari.
OPEC+ mempertahankan produksi tetap stabil pada kuartal pertama 2026 . Meskipun telah menaikkan target produksi minyak setiap bulan sejak April, namun besaran kenaikan bulanan tersebut telah dipangkas sejak Mei, persisnya setelah Uni Emirat Arab (UEA) meninggalkan OPEC dan aliansinya OPEC+.
Menurut analis dan delegasi OPEC+, kepergian UEA telah mengurangi kekuatan kelompok tersebut di pasar minyak global.
Menurut data OPEC, produksi minyak OPEC+ turun menjadi 33,19 juta barel per hari pada April dari 42,77 juta barel per hari pada Februari, menurut data OPEC. Karena itu, angota OPEC yang memiliki kapasitas cadangan minyak, seperti Arab Saudi, Irak, dan Kuwait, disarankan untuk memompa lebih banyak jika diperlukan.
Adapun tujuh dari 21 anggota OPEC+ yang dijadwalkan bertemu pada 7 Juni adalah Arab Saudi, Irak, Kuwait, Aljazair, Kazakstan, Rusia, dan Oman. Sementara dua pertemuan OPEC+ lainnya yang juga dijadwalkan pada 7 Juni diperkirakan dua sumber Reuters tidak akan menghasilkan perubahan kebijakan apa pun. (Rif)