Selain itu, pemerintah juga akan melakukan langkah-langkah strategis lain untuk meningkatkan produksi migas. Pertama, percepatan pelaksanaan eksplorasi melalui penawaran 61 wilayah kerja baru bagi pelaku usaha. Kedua, pemanfaatan teknologi mutakhir seperti Enhanced Oil Recovery (EOR) dan horizontal fracking untuk meningkatkan perolehan minyak. Ketiga, penyederhanaan regulasi di sektor hulu migas, termasuk evaluasi insentif dan integrasi perizinan agar proses investasi dan produksi berjalan lebih cepat dan efisien.
Capaian Sektor Lain
Selama 14 bulan memimpin Kementerian ESDM, tidak hanya lifting minyak yang menembus target ABPN 2025. Target Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) pun signifikan. Kementerian ESDM mencatat PNBP mencapai Rp138,37 triliun atau 108,56 persen dari target APBN 2025.
Capaian ini terdiri dari PNBP Sumber Daya Alam (SDA) mineral dan batubara (minerba), panas bumi, serta sektor lainnya, yakni dari layanan Badan Layanan Umum (BLU), iuran badan usaha hilir migas, DMO migas, kompensasi DMO Batubara, denda smelter, denda Penertiban Kawasan Hutan (PKH), jasa layanan ketenagalistrikan, museum, pemanfaatan Barang Milik Negara (BMN), dan jasa lainnya.
“Saya harus jujur mengatakan bahwa ini kerja tim. Kerja-kerja yang membutuhkan inovasi, konsentrasi, dan totalitas. Kenapa ini kita harus lakukan? Karena negara membutuhkan dana untuk bagaimana bisa membiayai program-program kerakyatan,” ujar Bahlil.
Sementara dari sektor investasi, total investasi sektor ESDM mencapai US$ 31,7 miliar. Angka ini terdiri dari investasi subsektor minerba sebanyak US$ 6,7 miliar, subsektor migas US$ 18 miliar, subsektor listrik US$ 4,6 miliar, dan subsektor EBTKE US$ 2,4 miliar.
Untuk meningkatkan investasi, Bahlil menyampaikan pihaknya akan menugaskan PT PLN (Persero) untuk mendorong percepatan pembangunan pembangkit-pembangkit baru yang telah disetujui dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL).
Dari subsektor minerba, Kementerian ESDM mencatat total produksi batubara mencapai 790 juta ton. Dari seluruh produksi tersebut, 32 persen dimanfaatkan untuk kebutuhan domestik kelistrikan dan nonkelistrikan. Sebanyak 514 juta ton atau 65,1 persen untuk diekspor, dan sisanya 22 juta ton atau 2,8 persen untuk stok dalam negeri.
Sementara bauran energi dari EBT sepanjang tahun 2025 mencapai 15,75 persen, mengalami peningkatan dari capaian tahun 2024. Capaian Total kapasitas terpasang EBT sampai Desember 2025 sebesar 15.630 MW. Tambahan kapasitas di tahun 2025, merupakan yang terbesar selama 5 tahun terakhir.
Secara rinci realisasi kapasitas pembangkit EBT dari hidro sebesar 7.587 MW, bioenergi 3.148 MW, panas bumi 2.744 MW, surya 1.494 MW, gasifikasi batubara 450 MW, angin 152 MW, sampah 36 MW, dan lainnya sebanyak 18 MW.