
Ia mengemukakan, pada prinsip kerja reaktor PLTN tidak jauh berbeda dengan PLTU berbasis batubara. Perbedaannya, hanya bagian pembakaran pada boiler. Boiler PLTU menggunakan batubara, sementara boiler PLTN menggunakan reaksi nuklir sebagai sumber panas.
Menurutnya, bahan bakar nuklir yang mengalami reaksi fisi yang menghasilkan panas dalam skala temperatur tertentu, dan menimbulkan radiasi tinggi. Untuk mencegah bahaya radiasi, maka PLTN harus memiliki dan memenuhi standard keselamatan dan keamanan internasional.
“Semua teknologi PLTN ada risiko. Karena itu, sejak awal sudah dilakukan pencegahan atau dimitigasi supaya tidak menimbulkan risiko. Semua standar keselamatan dan keamanan berbicara pencegahan,” pungkasnya.
Berdasarkan catatan Haendra, ada tiga kecelakaan nuklir di dunia. Pertama, kecelakaan nuklir di Three Mile Island Unit 2 , Amerika Serikat tahun 1970-an. Kedua, kecelakaan Chernobyl di Uni Soviet pada 26 April 1986. Ketiga, gempa bumi dan tsunami yang melanda Jepang pada 11 Maret 2011 menyebabkan kecelakaan serius di PLTN Fukushima Daiichi di pantai timur laut Jepang.
Untuk kondisi PLTN sekarang ini, Haendra berpandangan potensi kecelakaannya sangat kecil. Faktornya, dari tiga PLTN yang mengalami kecelakaan tersebut, permasalahan berbeda-beda. Musibah nuklir di Three Mile Unit 2, Amerika Serikat, akibat human eror. Chernobyl di Uni Soviet pun kemungkinan akibat human eror. Selain itu, teknologi reaktor nuklir yang digunakan berbeda dengan teknologi yang digunakan di negara-negara Eropa. Sementara kejadian PLTN Fukushima Jepang, akibat bencana alam dan tsunami.
Berdasarkan pengalaman kejadian pada ketiga reaktor nuklir tersebut, masih menurut Haendra, potensi kecelakaan itu sudah direduksi dengan standardisasi keselamatan dan keamanan yang diberlakukan secara internasional.
Haendra mengungkapkan, saat ini hampir semua PLTN menggunakan uranium. PLTN berbasis thorium pernah digunakan Amerika Serikat di tahun 60-an, belakangan tidak dikembangkan.
“Uranium ada dua macam, yaitu uranium alam dan uranium diperkaya. Uranium alam adalah uranium dengan kadar uranium-235 sebesar 0,7 persen. Contohnya, reaktor PLTN di Kanada menggunakan uranium alam. Sementara PLTN berbasis uranium diperkaya, umumnya berkadar 4 persen dan 5 persen uranium-235. Rata-rata PLTN yang ada saat ini berbasis uranium diperkaya,” tuturnya.
Untuk memperkaya uranium dibutuhkan teknologi khusus. Saat ini, beberapa negara sudah mempunyai teknologi memperkaya uranium, salah satunya Jepang.
Thorium bisa digunakan untuk PLTN. Namun, kata Haendra, thorium tidak bisa menjadi bahan bakar sendiri, dia harus bersama-sama uranium. Karena uranium dapat memicu reaksi nuklir.
Menukil International Atomic Energy Agency (IAEA) atau Badan Tenaga Atom Internasional, yang berkantor pusat di Wina, Austria, menyebutkan, energi nuklir adalah bentuk energi yang dilepaskan dari nukleus, yakni inti atom yang terdiri dari proton dan neutron. Sumber energi ini dapat dihasilkan dengan dua cara. Pertama, dengan cara fisi, ketika inti atom terpecah menjadi beberapa bagian. Kedua, dengan cara fusi, ketika inti bergabung bersama.
Menurut IAEA, energi nuklir yang dimanfaatkan di seluruh dunia saat ini untuk menghasilkan listrik adalah melalui fisi nuklir, sedangkan teknologi untuk menghasilkan listrik dari fusi berada pada fase research and development (R&D).
Fisi nuklir adalah reaksi di mana inti atom membelah menjadi dua atau lebih, menjadi inti yang lebih kecil, sambil melepaskan energi. Misalnya, ketika terkena neutron, inti atom uranium-235 terpecah menjadi inti barium dan inti kripton ditambah dua atau tiga neutron.
Neutron ekstra ini akan mengenai atom uranium-235 lain di sekitarnya, yang juga akan membelah dan menghasilkan neutron tambahan dalam efek penggandaan, sehingga menghasilkan reaksi berantai dalam sepersekian detik. Setiap kali reaksi terjadi, terjadi pelepasan energi dalam bentuk panas dan radiasi. Panas dapat diubah menjadi listrik di pembangkit listrik tenaga nuklir, mirip dengan bagaimana panas dari bahan bakar fosil seperti batu bara, gas, dan minyak digunakan untuk menghasilkan listrik. (Syarif)