
Jakarta,corebusiness.co.id-Persepsi masyarakat awam bisa jadi liar begitu mendengar kata “nuklir”. Di balik kesan angker, nuklir bisa dimanfaatkan untuk membantu berbagai aktivitas manusia. Salah satunya, untuk energi listrik yang murah, aman, dan bersih terhadap lingkungan.
Berdasarkan catatan sejarah, Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) pertama di dunia adalah EBR-I yang beroperasi pada 20 Desember 1951 di dekat Arco, Idaho, Amerika Serikat. Sesudahnya, dibangun PLTN APS-1 Obninsk (Pembangkit Listrik Tenaga Atom 1 Obninsk) di Obninsk, Uni Soviet, yang beroperasi pada 27 Juni 1954. Sementara PLTN skala komersial pertama adalah Calder Hall di Inggris yang dibuka pada 17 Oktober 1956. Hingga kini, PLTN sudah dibangun dan beroperasi di beberapa negara.
Bagaimana di Indonesia? Sudah ada keinginan membangun PLTN. Setidaknya Pemerintah Indonesia telah menerbitkan Undang-Undang Nomor 59 Tahun 2024 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) Tahun 2025-2045. Undang-undang ini mengamanatkan PLTN pertama beroperasi antara tahun 2030-2034.
Pemerintah Indonesia juga menargetkan Net Zero Emission (NZE) tahun 2060. Lantaran itu, beberapa tahun belakangan ini digaungkan penggunaan raw material selain fosil, yang diolah menjadi produk setengah jadi (intermediate goods) atau produk jadi (end product) untuk komponen energi hijau (green energy).
Saat ini sudah berkembang penggunaan energi intermiten atau disebut sebagai variable renewable energy (VRE) atau intermittent renewable energy sources (IRES), seperti dari surya dan angin. Di jalan raya bahkan sudah banyak kendaraan listrik (electric vehicle), yang menggunakan energi baterai berbasis lithium, ferro, phosphate (LFP). Pemerintah sedang mengembangkan baterai kendaraan listrik berbasis nikel, mangan, cobalt (NMC), yang dinilai lebih ramah lingkungan.
Pun raw material thorium dan uranium yang dimiliki Indonesia, bisa dijadikan bahan baku energi PLTN, yang dinilai paling bersih dari karbon. Sehingga bisa dijadikan salah satu energi untuk menekan pemanasan global akibat penggunaan bahan bakar fosil, deforestasi, dan kegiatan industri.
“Perubahan iklim mengharuskan energi nuklir hadir di Indonesia,” kata Deputi Bidang Pengkajian Keselamatan Nuklir, Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten), Haendra Subekti, S.T., M.T., kepada corebusiness.co.id di ruang kerjanya, Selasa (12/11/2024).