Informasi Lengkap DFSK E5 Plus, Klik: https://www.dfskmotors.co.id/Passenger/E5Plus.html
Beberapa Negara Eropa pun Butuh Migas Rusia
Terpisah, Pengamat Ekonomi Energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Dr. Fahmy Radhi mengutarakan, sejak pasukan militer Rusia gencar menyerang Ukraina, Trump mengecam keras Presiden Vladimir Putin. Trump bahkan menyerukan negara-negara Eropa untuk embargo semua produk-produk Rusia.
“Namun, Rusia sepertinya tidak menggubris sanksi tersebut, dia tetap menyerang Ukraina,” kata Fahmy Radhi kepada corebusiness.co.id, baru-baru ini.
Trump kemudian menjatuhkan sanksi terhadap Rusia. Ia menyerukan negara-negara Eropa dan negara-negara dari benua lainnya tidak mengimpor minyak dari dua perusahaan minyak terbesar Rusia, yakni Rosneft dan Lukoil.
“Toh, Putin sepertinya tidak bergeming. Ia merasa yakin minyaknya masih akan dibeli oleh negara-negara lain. Karena, Rusia menawarkan harga jual minyak dengan diskon cukup tinggi. Artinya lebih murah dari rata-rata harga pasar internasional. Negara-negara seperti Tiongkok dan India tetap saja membeli minyak dari Rusia,” tuturnya.
Bahkan sepengetahuan Fahmy Radhi, beberapa negara di Eropa, salah satunya Prancis, masih membeli minyak dari Rusia, dengan pertimbangan harganya lebih ekonomis. Beberapa negara di Eropa, kata dia, masih bergantung migas dari Rusia. Antara lain dipergunakan sebagai sumber energi listrik.
Karena, lanjutnya, ketika beberapa negara Eropa menghentikan impor migas dari Rusia, akibatnya negara-negara itu mengalami krisis listrik.
“Rusia juga telah membangun jaringan pipa untuk menyalurkan gas ke negara-negara importir di Eropa. Karena, gas sangat riskan diekspor menggunakan transportasi laut maupun darat,” ucapnya.
Fahmy Radhi berpandangan, kepentingan Trump di balik larangan membeli migas Rusia semacam peringatan saja. Karena, dinyatakan Fahmy Radhi, Trump tidak boleh mengatur dan melarang negara-negara lain agar tidak membeli migas dari Rusia. (Rif)