Bernard menyebutkan proses tersebut melalui tiga tahapan yang saling terhubung, yakni Sense, Think, dan Act.
Sense: ”Mata” Tambahan Kendaraan
Pandangan pengemudi tidak selalu mampu menjangkau seluruh area di sekitar kendaraan. Dalam kondisi ini, Multi-Purpose Camera membantu mengenali marka dan pengguna jalan lain, Radar Sensor mengukur jarak serta kecepatan objek, sementara Ultrasonic Sensor mendeteksi benda dalam jarak dekat. Ketiganya bekerja layaknya ”mata” tambahan yang terus membaca lingkungan sekitar.
Thing: ”Otak” yang Membaca Risiko
Setelah berbagai sensor mengenali kondisi di sekitar kendaraan, informasi dari berbagai sensor kemudian diolah oleh sistem komputasi. Perangkat lunak menganalisis perubahan situasi, memperkirakan potensi risiko, dan menentukan apakah diperlukan respons tertentu. Dalam hitungan milidetik, sistem komputasi mengolah seluruh informasi tersebut untuk memahami kondisi di sekitar kendaraan sebelum menentukan respons yang diperlukan.
Act: ”Refleks” saat Waktu Terbatas
Ketika risiko tabrakan meningkat, waktu pengemudi untuk bereaksi semakin sempit. Integrated Power Brake membantu menghasilkan respons pengereman yang cepat dan presisi untuk mengurangi kecepatan atau dampak benturan. Fungsinya menyerupai ”refleks” tambahan, tanpa menggantikan kendali pengemudi.
Bernard mengutarakan, melalui rangkaian proses tersebut, sistem keselamatan modern tidak lagi hanya dirancang untuk mengurangi dampak kecelakaan, tetapi juga membantu pengemudi mengantisipasi risiko sejak lebih dini. Semakin cepat risiko dikenali, semakin besar peluang kecelakaan dapat dihindari.
Menurutnya, arah tersebut sejalan dengan upaya peningkatan keselamatan jalan di tingkat global maupun nasional. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui Global Road Safety Target 5 mengatakan bahwa seluruh kendaraan memenuhi standar keselamatan yang lebih tinggi pada 2030. Di Indonesia, Rencana Umum Nasional Keselamatan (RUNK) Lalu Lintas dan Angkutan Jalan juga menempatkan keselamatan kendaraan dan pengguna jalan sebagai dua dari lima pilar utama keselamatan jalan.
Menyiapkan Ekosistem Keselamatan Menuju Industri Otomotif 2035
Menghadirkan teknologi saja tidak cukup. Seiring berkembangnya sistem keselamatan kendaraan, industri perlu memiliki kemampuan untuk memahami, mengembangkan, dan menguasai teknologi tersebut. Di saat yang sama, keselamatan juga bergantung pada pemeliharaan kendaraan agar seluruh sistem tetap bekerja secara optimal sepanjang masa pakainya.
Karena itu, kehadiran Bosch di GIIAS tidak hanya memperkenalkan solusi keselamatan, tetapi juga menjadi ruang edukasi mengenai cara kerja teknologi keselamatan modern sekaligus berbagi pengetahuan mengenai penerapannya di industri otomotif.
Komitmen tersebut juga diwujudkan melalui Divisi Mobility Aftermarket yang menghadirkan berbagai produk penunjang keselamatan berkendara, seperti wiper, klakson, busi, filter, lampu, dan komponen otomotif lainnya. Jika teknologi keselamatan pada kendaraan membantu mengenali dan merespons risiko, maka pemeliharaan kendaraan yang baik memastikan seluruh sistem tersebut tetap bekerja secara optimal sepanjang masa pakai kendaraan.
Pada GIIAS 2026, Bosch juga mengajak masyarakat berkontribusi terhadap keselamatan di jalan melalui program sosial. Setiap pembelian 1 pasang wiper Bosch Advantage dan Clear Advantage selama pameran akan dikonversikan menjadi donasi untuk mendukung peremajaan 100 unit ambulans di berbagai daerah di Indonesia.
Inisiatif ini menjadi bagian dari upaya Bosch untuk menghadirkan dampak nyata bagi keselamatan masyarakat, tidak hanya melalui inovasi teknologi, tetapi juga melalui kendaraan yang berperan penting dalam layanan kegawatdaruratan. (Rif)