Informasi Lengkap DFSK E5 Plus, Klik: https://www.dfskmotors.co.id/Passenger/E5Plus.html
Jakarta,corebusiness.co.id-Sejak Uni Eropa (UE) memberlakukan tarif tambahan pada kendaraan listrik buatan Tiongkok tahun 2024, beberapa produsen mobil semakin beralih ke model hibrida plug-in— yang dikecualikan dari bea tambahan tersebut.
Ekspor hibrida Beijing ke 27 negara anggota UE meningkat tiga kali lipat menjadi US$ 7,5 miliar pada paruh pertama tahun 2026 dibandingkan tahun 2025 sebesar US$ 2,5 miliar, menurut data bea cukai Tiongkok. Angka tersebut hampir sembilan kali lipat dari US$ 845 juta yang diekspor sepanjang tahun 2021.
Infrastruktur pengisian daya yang lemah di beberapa bagian Eropa juga mendukung permintaan untuk hibrida plug-in, yang dipasarkan karena jangkauannya lebih jauh dan efisiensi bahan bakarnya tinggi.
Hibrida plug-in adalah mobil yang menggabungkan motor listrik bertenaga baterai dan mesin bensin. Berbeda dari hibrida biasa, baterai pada mobil jenis ini bisa diisi ulang melalui sumber listrik eksternal, seperti charger rumah atau stasiun pengisian daya.
Bisa dibilang, hibrida plug-in dianggap sebagai titik tengah antara mobil hibrida dan mobil listrik murni.
Produsen otomotif SAIC, BYD, dan Chery menyumbang lebih dari 90 persen volume penjualan hibrida China di UE, menurut Jefferies Financial Group, Inc.
Menurut Felipe Munoz dari Car Industry Analysis, meskipun pemberlakuan tarif UE sedikit mempersulit kehidupan bagi orang Tiongkok, tetapi tidak akan menghentikan mereka seperti yang terjadi pada mobil listrik.
“Eropa akan sampai pada titik di mana mereka perlu memutuskan: apakah mereka akan melakukan seperti yang dilakukan AS atau membiarkan seluruh industri dibeli oleh orang Tiongkok,” kata Felipe mengutip Reuters, Selasa (13/10/2026).