Informasi Lengkap DFSK E5 Plus, Klik: https://www.dfskmotors.co.id/Passenger/E5Plus.html
Jakarta,corebusiness.co.id-Belum genap sepekan menjabat Menteri Perindustrian (Menperin), Muhammad Sarmuji sudah “belanja masalah” melalui rapat kerja internal bersama jajaran Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Senin (5/10/2026). Rapat ini sebagai langkah awal untuk mengidentifikasi berbagai persoalan yang dihadapi sektor industri nasional.
Melalui agenda “belanja masalah”, Kemenperin akan memetakan berbagai tantangan di lapangan sekaligus merumuskan langkah penyelesaian yang konkret dan tepat sasaran.
Sekretaris Jenderal Partai Golkar periode 2024–2029 yang dilantik Presiden Prabowo Subianto sebagai Menperin pada Kamis (1/10/2026) mengatakan, upaya memajukan industri nasional perlu diawali dengan pemahaman yang utuh terhadap berbagai persoalan yang dihadapi pelaku industri. Karena itu, seluruh jajaran Kemenperin diminta untuk menginventarisasi berbagai hambatan yang muncul, baik yang berkaitan dengan regulasi, bahan baku, energi, sumber daya manusia, pasar, investasi, teknologi, maupun persoalan lain yang memengaruhi daya saing industri.
“Pada tahap awal ini, kami ingin melakukan belanja masalah. Kita petakan secara menyeluruh persoalan yang dihadapi industri, kemudian kita identifikasi mana yang bisa segera diselesaikan oleh Kemenperin dan mana yang membutuhkan koordinasi dengan kementerian atau lembaga lainnya. Yang terpenting, setiap masalah harus kita carikan jalan keluarnya,” kata Sarmuji di Jakarta, Senin (5/10) melalui keterangan tertulis.
Menurutnya, pemetaan persoalan industri diperlukan agar kebijakan yang disusun pemerintah benar-benar menjawab kebutuhan dunia usaha. Kemenperin tidak hanya perlu mengetahui indikator makro mengenai perkembangan industri, tetapi juga memahami secara lebih detail persoalan yang dihadapi masing-masing subsektor industri.
“Setiap sektor memiliki karakteristik dan tantangan yang berbeda. Karena itu, kita perlu mendengarkan dan mengidentifikasi persoalannya secara detail. Dari situlah kita dapat menentukan prioritas kebijakan dan langkah penyelesaiannya,” ujarnya.
Sarmuji menekankan bahwa berbagai persoalan yang ditemukan nantinya perlu dikelompokkan berdasarkan tingkat urgensi, kewenangan, serta dampaknya terhadap kinerja industri. Persoalan yang dapat ditangani secara langsung oleh Kemenperin akan didorong penyelesaiannya secepat mungkin, sedangkan persoalan yang bersifat lintas sektor akan dikoordinasikan dengan kementerian dan lembaga terkait.
Salah satu sektor yang mendapat perhatian dalam rapat tersebut adalah industri permesinan. Sarmuji memberikan penekanan terhadap pentingnya mendorong pertumbuhan industri permesinan nasional agar kebutuhan mesin dan peralatan industri dapat semakin banyak dipenuhi dari produksi dalam negeri.
Direktur Jenderal ILMATE Kemenperin Setia Diarta mengatakan, penguatan industri permesinan menjadi salah satu perhatian Menperin dalam pembahasan bersama jajaran Ditjen ILMATE. Menurutnya, terdapat berbagai isu aktual dan program pengembangan sektor ILMATE yang disampaikan kepada Menperin dalam pertemuan tersebut.
“Banyak hal yang dibicarakan. Namun, beliau sangat ingin mendorong industri permesinan kita tumbuh. Itu yang menjadi salah satu perhatian utama dalam pembahasan,” kata Setia.
Setia menjelaskan, penguatan industri permesinan diarahkan untuk meningkatkan kemampuan industri di dalam negeri dalam memenuhi kebutuhan mesin dan peralatan berbagai sektor. Langkah ini sekaligus diharapkan dapat memperbesar pemanfaatan produk industri nasional.
Untuk itu, Ditjen ILMATE akan melakukan pemetaan dan peninjauan lebih lanjut terhadap kebutuhan mesin di berbagai sektor industri. Tahapan tersebut diperlukan untuk menentukan jenis mesin maupun sektor yang perlu mendapatkan prioritas pengembangan.
“Kami diminta untuk melakukan review dan menyiapkan prioritasnya. Yang penting dilakukan audit terlebih dahulu, kemudian kami review untuk menentukan prioritas yang perlu menjadi perhatian,” ujar Setia.
Seusai raker dengan Dirjen ILMATE, Menperin Sarmuji melanjutkan raker dengan Ditjen Industri Agro. Pada kesempatan yang sama, Plt. Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Putu Juli Ardika mengatakan, arahan Menperin menjadi momentum untuk melihat kembali subsektor industri agro yang memiliki daya ungkit besar terhadap kinerja industri pengolahan. Subsektor potensial tersebut akan didorong agar dapat tumbuh lebih cepat dan memberikan kontribusi yang semakin signifikan terhadap perekonomian nasional.
“Dari sektor industri agro, kami akan melihat subsektor mana yang bisa memberikan kontribusi besar, kemudian itu yang kita akselerasi. Jadi, potensi-potensi yang memiliki daya ungkit terhadap pertumbuhan industri akan kita dorong lebih kuat,” ujar Putu.
Ditjen Industri Agro juga akan menginventarisasi berbagai pending matters atau persoalan yang masih tertunda di sektor industri agro. Persoalan yang memungkinkan untuk segera dituntaskan akan menjadi perhatian agar tidak menghambat aktivitas maupun ekspansi industri.
“Selain melakukan akselerasi, kami juga melihat berbagai pending matters yang ada. Mana yang bisa segera diselesaikan, akan kita percepat penyelesaiannya. Jadi, arahnya bukan hanya mendorong sumber-sumber pertumbuhan, tetapi juga menyelesaikan persoalan yang masih menjadi hambatan bagi industri,” jelas Putu.
Langkah tersebut sejalan dengan arahan Menperin agar agenda “belanja masalah” tidak berhenti pada inventarisasi persoalan, tetapi dilanjutkan dengan penentuan prioritas dan penyelesaian konkret. Dengan pendekatan tersebut, setiap unit di lingkungan Kemenperin diharapkan dapat mengidentifikasi sektor yang berpotensi memberikan kontribusi lebih besar sekaligus menyelesaikan hambatan yang dapat mengganggu pertumbuhan industri. (Rif)