Jakarta,corebusiness.co.id– Pengamat Ekonomi Energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Dr. Fahmy Radhi berpandangan, keputusan Uni Emirat Arab (UEA) untuk mengakhiri keanggotaannya di OPEC dan OPEC+ tidak berdampak signifikan terhadap organisasi negara-negara pengekspor minyak tersebut.
Fahmy justru menilai keputusan UEA keluar dari keanggotaan OPEC merupakan strategi yang tepat. Pasalnya, kata dia, sejak beberapa tahun belakangan ini, peran OPEC sudah tidak begitu signifikan dalam mengatur produksi dan menstabilkan harga minyak dunia agar tetap adil bagi produsen serta efisien bagi konsumen global.
“Seperti kondisi saat ini, terjadi perang di Timur Tengah, tanpa OPEC melakukan apapun, harga minyak mentah global bisa naik, bisa juga turun,” ujar Fahmi ketika dihubungi corebusiness.co.id, Rabu, 29 April 2026.
Fahmy mengungkapkan, selama UEA menjadi anggota OPEC, dia harus mengikuti ketentuan bersama dari hasil konferensi atau pertemuan rutin anggota dalam menentukan kuota produksi minyak di negaranya.
“Saya menduga keluarnya UEA dari OPEC karena dia ingin bebas menentukan kuota produksi minyak sendiri, sesuai kapasitas yang dimiliki negaranya. Pasti UEA cenderung akan menargetkan kuota produksi dalam jumlah lebih besar dibandingkan angka produksi semasih menjadi anggota OPEC,” papar Fahmy.
Ketika UEA meningkatkan kuota produksi, lanjutnya, maka terjadi jumlah pasokan minyak. Ketika jumlah pasokan minyak bertambah, justru bisa menurunkan harga minyak global pada saat kondisi normal. Kondisi ini bisa semakin mengurangi kekuatan OPEC dalam skala jumlah pasokan minyak ke negara-negara importir.
Selain itu, Fahmy mengungkapkan bahwa selama ini dalam penentuan kuota produksi maupun harga minyak, kerap tidak dipatuhi secara konsisten oleh anggota-anggota OPEC. Sehingga peran OPEC dalam hal penentuan harga minyak global semakin berkurang.
Menurutnya, justru negara-negara seperti Rusia dan Amerika yang produksi minyaknya cukup besar bisa memengaruhi harga minyak global.
Sementara itu, pada Selasa, 28 April 2026, dalam pernyataan resminya, Kantor Berita Pemerintah UEA, Wakalat Anba’a al Emarat (WAM), menjelaskan alasan di balik keputusan keluar dari OPEC dan aliansinya OPEC+, yang berlaku efektif mulai 1 Mei 2026.
“Keputusan ini diambil setelah peninjauan komprehensif terhadap kebijakan produksi UEA serta kapasitas saat ini dan masa depan, dan didasarkan pada kepentingan nasional kami serta komitmen untuk berkontribusi secara efektif dalam memenuhi kebutuhan pasar yang mendesak,” demikian pernyataan Kantor Berita UEA, WAM, dikutip dari laman The National
Selain itu, WAM menyoroti kondisi pasar energi global yang masih bergejolak. Meski volatilitas jangka pendek, termasuk gangguan di Teluk Arab dan Selat Hormuz, masih memengaruhi dinamika pasokan, tren yang mendasari menunjukkan pertumbuhan berkelanjutan dalam permintaan energi global dalam jangka menengah hingga panjang.
WAM menyebut keputusan ini mencerminkan evolusi berbasis kebijakan dalam pendekatan UEA, meningkatkan fleksibilitas untuk merespons dinamika pasar sekaligus tetap berkontribusi terhadap stabilitas secara terukur dan bertanggung jawab.
Langkah ini diambil di tengah upaya besar UEA untuk mengurangi ketergantungan pada sektor migas. Saat ini, sektor nonminyak disebut telah menyumbang sekitar 75 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) negara tersebut. (Rif)