Jakarta,corebusiness.co.id-Institute for Demographic and Affluence Studies (IDEAS) memperkirakan perputaran ekonomi kurban pada Iduladha 2026 mencapai Rp 26,89 triliun. Angka tersebut diproyeksikan sedikit menurun dibanding tahun 2025 sebesar Rp 27,10 triliun, atau menurun sekitar 3,5 persen.
Peneliti IDEAS Tira Mutiara mengatakan, potensi ekonomi kurban tersebut berasal dari sekitar 1,90 juta rumah tangga pekurban dengan estimasi total hewan kurban mencapai 1,59 juta ekor. Jumlah tersebut diperkirakan terdiri dari sekitar 493 ribu ekor sapi serta 1,09 juta ekor kambing dan domba.
“Simulasi juga mempertimbangkan preferensi jenis dan bobot hewan kurban, mulai dari sapi utuh hingga skema patungan satu per tujuh sapi serta kambing dan domba dengan berbagai kategori bobot,” kata Tira dalam keterangannya, Rabu (27/5/2026).
IDEAS mencatat nilai ekonomi kurban tahun ini sedikit melemah dibandingkan tahun lalu yang mencapai Rp 27,10 triliun. Penurunan tersebut diperkirakan terjadi akibat berkurangnya jumlah rumah tangga pekurban serta menurunnya minat terhadap hewan kurban berbobot besar.
“Masyarakat kini cenderung memilih hewan kurban dengan harga lebih terjangkau di tengah tekanan ekonomi domestik,” ucap Tira.
Tira mengutarakan, kondisi tersebut menjadi sinyal mulai tertekannya daya beli masyarakat akibat kenaikan harga pangan, biaya hidup, dan harga ternak dalam beberapa tahun terakhir.
Menurutnya, pertumbuhan ekonomi nasional yang masih berada di atas 5 persen belum sepenuhnya tercermin dalam aktivitas kurban karena pertumbuhan tersebut belum secara langsung meningkatkan kemampuan rumah tangga untuk berkurban. Fenomena ini, kata dia, menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi belum sepenuhnya merata.
IDEAS menilai ibadah kurban tetap memberikan dampak sosial dan ekonomi yang besar, terutama dalam memperluas akses konsumsi protein hewani bagi masyarakat miskin dan rentan. Namun, persoalan utama dalam pelaksanaan kurban dinilai masih berkaitan dengan ketimpangan distribusi daging antarwilayah.
Lembaga penelitian (think tank) yang fokus pada isu kemiskinan dan demografi di bawah naungan Yayasan Dompet Dhuafa juga mencatat masih banyak daerah mengalami defisit distribusi daging kurban, sementara surplus terbesar terkonsentrasi di wilayah perkotaan di Pulau Jawa.
“Kondisi tersebut tidak terlepas dari ketimpangan ekonomi nasional. Wilayah dengan tingkat pendapatan tinggi dan konsentrasi kelas menengah atas Muslim cenderung menjadi pusat surplus kurban, sedangkan daerah miskin dan terpencil mengalami kekurangan distribusi,” terangnya.
Karena itu, IDEAS mendorong pemerintah memperkuat tata kelola distribusi kurban melalui pembangunan rumah potong hewan halal dan higienis, cold storage, gudang beku, kendaraan logistik berpendingin, hingga integrasi data nasional surplus dan defisit kurban.
“Perlu ada pemetaan daerah surplus dan defisit, pembangunan hub pemotongan terstandar, serta penguatan koordinasi antar lembaga agar distribusi daging kurban lebih efektif dan tepat sasaran,” Tira menyarankan.
Selain itu, IDEAS menilai konsep green kurban perlu diperkuat melalui pengurangan sampah plastik, penggunaan kemasan ramah lingkungan, serta optimalisasi pemotongan di rumah potong hewan modern agar distribusi lebih efisien dan higienis. (Rif)