
SPR mempunyai perkumpulan Solidaritas Alumni Sekolah Pemberdayaan Rakyat Indonesia (SASPRI). Di perkumpulan ini, mereka makin intens berinteraksi dengan jaringan yang sudah terbangun sejak dimulainya SPR, seperti komunitas akademisi, birokrat, dan pelaku usaha. Para alumni harus membentuk koperasi produsen dan juga berkolaborasi dengan perguruan tinggi untuk bicarakan mendayagunakan kawasan riset dan inovasi teknologi di tingkat kecamatan. Secara rutin dan berjenjang, sertifikasi SASPRI dilakukan untuk meningkatkan kinerja koperasi produsen secara lebih profesional dan mengoptimalkan kawasan riset dan inovasi teknologi untuk kegiatan riset perguruan tinggi.
SASPRI saat ini masih beranggotakan 47 komunitas di seluruh Indonesia. Konsep atau model pemberdayaan rakyat seperti itu tadinya hanya diterapkan pada komunitas peternakan. Namun model itu telah diterapkan juga bagi komunitas permukiman, pertanian, dan perikanan.
Para alumni sekolah pemberdayaan rakyat tersebut terus dituntun, didampingi, dan dibimbing lebih lanjut dalam perkumpulan SASPRI. Dalam rangka peningkatan kapasitas organisasi dan tata kelola SASPRI, pada 17 Januari 2025, telah diselenggarakan Kongres Luar Biasa (KLB) SASPRI-Nasional dengan agenda pembahasan Anggaran Rumah Tangga baru dan kesiapan berpartisipasi dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
KLB yang dihadiri 47 wali SASPRI di Indonesia diharapkan dapat memberi landasan kuat untuk meningkatkan kemampuan diri dan membuat mereka makin profesional. Terwujudnya komunitas 86 persen yang tangguh, mandiri dan berdaulat dalam semangat gotong royong diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan pemerintah dan pelaku usaha untuk bermitra strategi dengan mereka. Itu merupakan salah satu cara mempersiapkan mereka untuk dapat ikut berpartisipasi mewujudkan Indonesia Emas 2045. Jangan sampai seorang pun ketinggalan. No one left behind! (Muladno. Profesor Fakultas Peternakan IPB. Ilmuwan Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI). Wali Utama Solidaritas Alumni SPR Indonesia (SASPRI-Nasional)