Oleh: Arnaldo JR Soares
SAAT Domingos Soares berada di ambang hembusan napas terakhirnya, ia tidak berbicara tentang hal-hal remeh. Tidak tentang harta, tidak pula tentang kepentingan pribadi. Kepada anak-anaknya, ia menitipkan satu pesan yang berat namun jernih: lanjutkan perjuangan.
Pesan itu bukan amanah yang ringan. Terlebih di tengah keadaan yang serba rumit dan penuh prasangka seperti hari ini. Namun justru di saat-saat terakhir hidup, ketika waktu menjadi sangat berharga, manusia tidak akan menggunakannya untuk hal yang sia-sia. Ia tidak berkata, “jaga ibumu” atau “urus adikmu”–bukan karena itu tidak penting, tetapi karena ada sesuatu yang lebih besar yang ingin ia pastikan tidak ikut mati bersamanya.
Ia ingin agar perjuangan tetap hidup. Mungkin dalam hatinya terngiang kata-kata Arnaldo dos Reis Araujo: “Tiada bangsa yang berjuang demi masa depan yang lebih buruk.”
Kata-kata itu bukan seruan emosional, melainkan penanda arah. Apakah itu berarti soal Timor Timur akan kembali? Itu pertanyaan yang terlalu jauh dan bukan inti pembahasan hari ini. Perjuangan yang dimaksud bukan pertama-tama tentang tanah, batas wilayah, atau simbol politik. Fokus utamanya adalah rakyat. Karena tanah tanpa rakyat hanyalah ruang kosong. Dan perjuangan tanpa keberpihakan pada manusia akan kehilangan jiwanya.
Itulah makna pesan terakhir Domingos Soares: bahwa perjuangan sejati tidak diwariskan lewat kemarahan, melainkan lewat tanggung jawab untuk terus memikirkan rakyat–hari ini, esok, dan seterusnya.
Ayahanda saya, Domingos Soares sendiri bukan sekadar seorang manusia, melainkan sebuah kisah tentang kesetiaan, keberanian berpikir, dan cinta yang tulus kepada Bumi Loro Sa’e–tanah yang begitu mendarat daging dalam jiwanya. Domingos Soares adalah seorang Timoris sejati.
Kecintaannya pada tanah kelahiran tidak pernah pudar, bahkan ketika ia menuntut ilmu jauh di Portugal. Di negeri orang, kerinduannya menjelma puisi. Dengan nama pena Kolly, ia menulis bait-bait cinta untuk tanah airnya—puisi yang lahir dari kegelisahan, harapan, dan keyakinan akan martabat bangsanya.
Ayah saya, Domingos Soares adalah seorang pejuang yang setia dan berani. Pejuang lintas benua yang pertama kali mewakili rakyatnya untuk disemayamkan di TMP Kalibata dan kami mensyukuri hal tersebut sedal jiwa kari.
Sejak awal perjuangan beliau di Portugal pada tahun 1974, ia aktif dalam gerakan para perwira muda untuk menumbangkan rezim Salazar di Portugal. Kemudian mulai berperan dalam integrasi wilayah Timor Portugis ke dalam NKRI dan bergabung menjadi aktivis yang aktif dalam memperjuangkan ide integrasi melalui partai APODETI di Portugal.
Beliau selalu memberikan salam perjuangan setia dan kesetiaan. Baginya, perjuangan adalah ibarat dua kutub dari sebuah dunia, yaitu dunia pengabdian yang diuntai dalam satu kata: keikhlasan. Dan semua bermuara pada pesan terakhir yang disampaikan beliau sebelum maut menjemput: “Nino dan Carlos lanjutkan perjuangan saya. Jika generasi saya bisa dikatakan gagal, maka perjuangan ini akan berhasil di masa generasi kalian. Lanjutkan perjuangan saya.”
Di hadapan jasad beliau, saya sebagai anak bersumpah untuk melanjutkan perjuangan beliau. Perjuangan yang layak saya lanjutkan karena tidak ada bangsa yang berjuang untuk masa depan yang lebih buruk dan karena sejatinya. Integrasi bukanlah semata mengganti warna kulit penjajah dari putih menjadi berwarna, melainkan integrasi adalah keinginan luhur untuk berkehidupan kebangsaan yang bebas sebagaimana termaktub di dalam Pembukaan UUD’45. Konstitusi kita.
Beliau telah berpulang pada hari yang spesial, 24 Januari 2026, pukul 14.30 WIB, yaitu 38 tahun setelah berpulangnya Arnaldo dos Reis Araujo pada tahun 1988, pioneer integrasi sekaligus mertua beliau yang baru saja dianugerahi Bintang Mahaputra Utama pada Agustus 2025. Beliau meninggal pada usia 74 tahun, seusia dengan Arnaldo dos Reis Araujo pada saat berpulang.
Saya sebagai anak mohonkan maaf sebesar-besarnya jika ada salah kata dan perbuatan yang telah beliau lakukan. Semoga maaf dari saudara akan menyuburkan benih dan komitmen perjuangan yang telah beliau tanam, contohkan dan teladankan seumur hidup beliau dan beliau jalankan dengan penuh keikhlasan dan komitmen.
Komitmen yang telah dilakukan secara konsekuen dan bahkan beliau rela untuk tidak pulang ke Timor Leste pada saat ibu yang sangat dicintai berpulang ke dalam tangan Tuhan. Ia tidak pernah menyangkal asal-usulnya, yang disampaikan di hadapan publik, dengan tenang dan jujur. Perbedaan haluan politik tak pernah membuatnya kehilangan jiwa Timorisnya. Suatu teladan bahwa perjuangan hendaknya selalu setia. Karena dari kesetiaaanlah kita bisa berkaca apakah komitmen perjuangan itu adalah suatu kehendak yang luhur atau hanya arus liar sejarah semata.
Selamat jalan pejuang sejati. Saya bersumpah untuk melanjutkan perjuangan Ayah.