160 x 600 PASANG IKLAN
160 x 600 PASANG IKLAN
160 x 600 PASANG IKLAN
160 x 600 PASANG IKLAN
750 x 100 PASANG IKLAN

Penjualan Properti Residensial Triwulan IV 2024 Terjun Bebas, BI Ungkap Penyebabnya

750 x 100 PASANG IKLAN

Jakarta,corebusiness.co.id-Kenaikan harga bangunan, masalah perizinan, suku bunga KPR, adalah bagian dari faktor-faktor terjadinya kontraksi lebih dalam penjualan rumah tipe residensial pada Triwulan IV 2024 dibandingkan triwulan sebelumnya.

Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Bank Indonesia (BI) menunjukkan harga properti di pasar primer tetap tumbuh terbatas. Hal ini tercermin dari Indeks Harga Properti Residensial (HPR) pada Triwulan IV 2024 yang secara tahunan tumbuh sebesar 1,39 persen (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan pada triwulan sebelumnya sebesar 1,46 persen (yoy).

Perkembangan tersebut dipengaruhi oleh perlambatan kenaikan harga pada rumah tipe kecil dan besar, yang masing-masing tumbuh sebesar 1,84 persen (yoy) dan 1,31 persen (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan 1,97 persen (yoy) dan 1,33 persen (yoy) pada Triwulan III 2024.

Sementara itu, harga rumah tipe besar menunjukkan peningkatan dari 1,04 persen menjadi 1,46 persen pada Triwulan IV 2024.

750 x 100 PASANG IKLAN

Secara spasial, IHPR di 18 kota mengalami peningkatan secara tahunan, dengan 10 kota tercatat mengalami perlambatan pertumbuhan. Perlambatan pertumbuhan terbesar terjadi di Kota Pontianak dan Banjarmasin dari masing-masing sebesar 3,34 persen (yoy) dan 1,57 persen (yoy) pada Triwulan III 2024, menjadi 2,82 persen (yoy) dan 1,29 persen (yoy) pada Triwulan IV 2024.

Sementara itu, harga rumah di beberapa kota tumbuh lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya, terutama di Kota Surabaya, yang tumbuh dari 0,73 persen (yoy) menjadi 1,09 persen (yoy). Akselerasi harga yang cukup besar juga terjadi di Kota Balikpapan dan Pekanbaru, dari masing-masing sebesar 1,22 persen (yoy) dan 2,47 persen (yoy) menjadi 1,49 persen (yoy) dan 2,64 persen (yoy).

Secara triwulanan, IHPR di pasar primer pada Triwulan IV 2024 tumbuh sebesar 0,19 persen (qtq), lebih rendah dari 0,27 persen (qtq) pada triwulan sebelumnya. Perlambatan harga rumah ini disebabkan oleh pertumbuhan harga tipe rumah kecil dan menengah pada triwulan IV 2024, masing-masing sebesar 0,23 persen (qtq) dan 0,17 persen (qtq), lebih rendah dari 0,50 persen (qtq) dan 0,40 persen (qtq) pada Triwulan III 2024.

Di sisi lain, perkembangan harga rumah tipe besar pada Triwulan IV 2024 relatif stabil, yakni sebesar 0.19 persen (qtq).

Secara spasial, IHPR di 18 kota tumbuh positif secara triwulanan, meski tercatat melambat di 11 kota yang disurvei BI. Perlambatan harga property residensial terbesar terpantau di Kota Pekanbaru dari tumbuh 1,35 persen (qtq) pada Triwulan III 2024 menjadi 0,26 persen (qtq) pada Triwulan IV 2024, diikuti oleh Kota Medan dari 0,68 persen (qtq) menjadi 0,10 persen (qtq), dan Kota Bandung dari 0,65 persen (qtq) menjadi 0,12 persen (qtq).

750 x 100 PASANG IKLAN

Penjulan Properti Residensial 

Penjualan properti residensial di pasar primer pada Triwulan IV secara tahunan mengalami penurunan. Pada Triwulan IV, penjualan properti residensial mencatat kontraksi pertumbuhan sebesar 15,09 persen (yoy), lebih dalam dibandingkan kontraksi pada triwulan sebelumnya sebesar 7,14 persen (yoy). Perkembangan tersebut didorong oleh penurunan penjualan rumah tipe kecil dan menengah, yang masing-masing tercatat kontraksi sebesar 23,70 persen (yoy) dan 16,61 persen (yoy).

Sementara itu, penjualan rumah tipe tumbuh 20,44 persen (yoy) pada Triwulan IV 2024.

Secara triwulanan, penjualan rumah juga menurun. Penjualan rumah primer pada Triwulan IV 2024 mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 6,62 persen (qtq), berlanjut dari kontraksi pada triwulan sebelumnya sebesar 7,62 persen (qtq). Kontraksi pertumbuhan penjualan rumah pada Triwulan IV 2024 terjadi pada rumah kecil dan menengah, masing-masing sebesar 11,94 persen (qtq) dan 9,13 persen (qtq).

Di sisi lain, penjualan rumah tipe besar menunjukkan peningkatan sebesar 14,12 persen (qtq).

750 x 100 PASANG IKLAN

Berdasarkan hasil survei, sejumlah faktor yang menghambat perkembangan dan penjualan properti residensial adalah kenaikan harga bangunan (21,40 persen), masalah perizinan (15,05 persen), suku bunga KPR (14,31 persen), proporsi uang muka yang tinggi dalam pengajuan KPR (10,59 persen), perpajakan (9,71 persen), dan lainnya (15,05 persen).

Sementara dari sisi pembiayaan, survei menunjukkan bahwa sumber utama pendanaan untuk pembangunan properti residensial masih berasal dari dana internal pengembang, dengan pangsa mencapai 74,38 persen. Dari sisi konsumen, mayoritas pembelian rumah di pasar primer dilakukan melalui skema pembiayaan Kredit Pemilikan Rumah (KPR), dengan pangsa sebesar 72,54 persen dari total pembiayaan. (Rif)

750 x 100 PASANG IKLAN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait
930 x 180 PASANG IKLAN
PT. ANINDYA WIRAPUTRA KONSULT

Promo Tutup Yuk, Subscribe !