
Sementara itu, harga rumah di beberapa kota tumbuh lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya, terutama di Kota Surabaya, yang tumbuh dari 0,73 persen (yoy) menjadi 1,09 persen (yoy). Akselerasi harga yang cukup besar juga terjadi di Kota Balikpapan dan Pekanbaru, dari masing-masing sebesar 1,22 persen (yoy) dan 2,47 persen (yoy) menjadi 1,49 persen (yoy) dan 2,64 persen (yoy).
Secara triwulanan, IHPR di pasar primer pada Triwulan IV 2024 tumbuh sebesar 0,19 persen (qtq), lebih rendah dari 0,27 persen (qtq) pada triwulan sebelumnya. Perlambatan harga rumah ini disebabkan oleh pertumbuhan harga tipe rumah kecil dan menengah pada triwulan IV 2024, masing-masing sebesar 0,23 persen (qtq) dan 0,17 persen (qtq), lebih rendah dari 0,50 persen (qtq) dan 0,40 persen (qtq) pada Triwulan III 2024.
Di sisi lain, perkembangan harga rumah tipe besar pada Triwulan IV 2024 relatif stabil, yakni sebesar 0.19 persen (qtq).
Secara spasial, IHPR di 18 kota tumbuh positif secara triwulanan, meski tercatat melambat di 11 kota yang disurvei BI. Perlambatan harga property residensial terbesar terpantau di Kota Pekanbaru dari tumbuh 1,35 persen (qtq) pada Triwulan III 2024 menjadi 0,26 persen (qtq) pada Triwulan IV 2024, diikuti oleh Kota Medan dari 0,68 persen (qtq) menjadi 0,10 persen (qtq), dan Kota Bandung dari 0,65 persen (qtq) menjadi 0,12 persen (qtq).
Penjulan Properti Residensial
Penjualan properti residensial di pasar primer pada Triwulan IV secara tahunan mengalami penurunan. Pada Triwulan IV, penjualan properti residensial mencatat kontraksi pertumbuhan sebesar 15,09 persen (yoy), lebih dalam dibandingkan kontraksi pada triwulan sebelumnya sebesar 7,14 persen (yoy). Perkembangan tersebut didorong oleh penurunan penjualan rumah tipe kecil dan menengah, yang masing-masing tercatat kontraksi sebesar 23,70 persen (yoy) dan 16,61 persen (yoy).