160 x 600 PASANG IKLAN
160 x 600 PASANG IKLAN
160 x 600 PASANG IKLAN
160 x 600 PASANG IKLAN

Trump Bebaskan Tarif Impor Pertanian, Tawarkan Keringanan bagi Petani

750 x 100 PASANG IKLAN

Jakarta,corebusiness.co.id-Eksportir pertanian India sedikit bahagia atas keputusan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump telah menandatangani perintah eksekutif yang membebaskan berbagai produk pertanian dari tarif timbal balik, menyusul laporan dari otoritas AS.

Perintah tersebut, yang dirilis secara mendadak oleh Gedung Putih, muncul di tengah meningkatnya jumlah konsumen dan pelaku usaha AS yang frustasi terhadap kenaikan harga di bawah pemerintahan Trump.

Keputusan ini menandai perubahan sikap dari Presiden Trump, yang sebelumnya bersikeras bahwa tarif diperlukan untuk melindungi keamanan nasional dan tenaga kerja AS. Arahan tersebut menyatakan bahwa pembebasan tarif berlaku untuk produk pertanian tertentu yang masuk ke AS untuk konsumsi atau dikeluarkan dari gudang untuk konsumsi mulai pukul 12:01 pagi Waktu Standar Timur pada Kamis.

Daftar yang dikeluarkan oleh pemerintahan Trump menunjukkan bahwa sejumlah produk pertanian tidak lagi dikenakan tarif 10 persen secara menyeluruh maupun berdasarkan negara asal.

750 x 100 PASANG IKLAN

Dalam arahan tersebut, Trump menyatakan bahwa ia memutuskan untuk mengubah cakupan produk yang dikenakan tarif global berdasarkan rekomendasi dari para pejabat, status negosiasi dengan mitra dagang AS, serta mempertimbangkan permintaan domestik dan kapasitas produksi.

Menukil Antaranews, Kamar Dagang AS menyambut baik keputusan Trump untuk “menghapus tarif atas kopi, pisang, daging sapi, dan barang impor lainnya yang menjadi kebutuhan pokok keluarga Amerika,” dengan menyatakan bahwa penghapusan tarif ini akan membantu menurunkan biaya bagi masyarakat.

“Jutaan dolar yang dikumpulkan pemerintah federal dari tarif tambahan atas produk-produk ini telah menyebabkan kenaikan harga bagi pelaku usaha dan keluarga,” kata pernyataan tersebut.

Eksportir pertanian India termasuk di antara yang diuntungkan oleh kebijakan Presiden Trump yang membebaskan puluhan produk pangan dari rezim tarif timbal baliknya. Beberapa analis berpendapat bahwa kebijakan ini dapat membantu memulihkan permintaan yang hilang.

Berbeda dengan pemasok Uni Eropa dan Vietnam yang menghadapi bea masuk 15–20 persen, eksportir teh, kopi, rempah-rempah, dan kacang mete India terpukul lebih keras setelah Trump menggandakan tarif hingga 50 persen untuk impor barang-barang India tertentu, termasuk pungutan sebesar 25 persen yang bersifat menghukum mulai akhir Agustus untuk pembelian minyak Rusia oleh India.

750 x 100 PASANG IKLAN

Para pengusaha raksasa kilang minyak India telah memangkas secara drastis impor minyak mentah dari Rusia terkait sanksi AS terhadap India. Sejumlah sumber sektor perminyakan India, mengatakan, langkah tersebut diambil demi mengurangi tekanan perang tarif 50 persen yang dilancarkan AS.

India saat ini tercatat sebagai pembeli terbesar minyak Rusia setelah serangan Rusia ke Ukraina, Februari 2022. India mengimpor sekurangnya 1,7 juta barel minyak per hari (bpd) dari Rusia setidaknya dalam sembilan bulan pertama tahun 2025.

Terpisah, pengamat ekonomi energi dari Universitas Gadjah Mada, Fahmy Radhi, berpandangan, India hanya mengurangi kuota, namun tidak menghentikan impor minyak mentah dari Rusia. Karena, Rusia menawarkan harga jual minyak dengan diskon cukup tinggi, lebih murah dari rata-rata harga pasar internasional.

“Negara-negara seperti Tiongkok dan India tetap saja membeli minyak dari Rusia. Bahkan setahu saya, negara di Eropa seperti Prancis masih membeli minyak dari Rusia, dengan pertimbangan harganya lebih ekonomis,” ungkap Fahmy kepada corebusiness.co.id.

750 x 100 PASANG IKLAN

Fahmi menyatakan kedua negara tersebut tidak takut dengan ancaman AS. Jika Tiongkok dan India menyatakan ingin menghentikan impor dari Rusia, menurut dia, itu hanya bahasa diplomasi saja. Jika harganya lebih murah, kedua negara itu tetap impor minyak dari Rusia.

Peluang bagi Eksortir Pertanian

Direktur jenderal Federasi Organisasi Ekspor India (FIEO), Ajay Sahai mengatakan bahwa antara $2,5 miliar dan $3 miliar ekspor akan mendapatkan manfaat dari pembebasan tarif ini.

“Perintah (Trump) ini membuka ruang bagi produk premium, khusus, dan bernilai tambah. Dan eksportir yang beralih ke segmen bernilai lebih tinggi akan lebih terlindungi dari tekanan harga dan dapat memanfaatkan peningkatan permintaan konsumen,” kata Ajay seperti dikutip Reuters.

Para pejabat yang terlibat dalam kebijakan perdagangan dan ekspor pertanian mengatakan pengecualian ini juga merupakan sinyal positif bagi perundingan dagang AS-India yang sedang berlangsung dan dapat meredakan tekanan ekspor yang dipicu oleh kenaikan tarif tahun ini.

Ekspor barang-barang India ke AS turun hampir 12 persen year-on-year pada September menjadi $5,43 miliar setelah tarif dinaikkan. Ekspor pertanian India, yang diperkirakan mencapai $5,7 miliar dari total ekspor India ke AS sebesar $87 miliar pada tahun 2024, termasuk di antara yang terdampak.

“Langkah ini menguntungkan petani dan eksportir teh, kopi, kacang mete, serta buah dan sayur India,” ujar seorang pejabat senior yang terlibat dalam kebijakan ekspor pertanian India tanpa menyebut nama.

Ajay Srivastava, pendiri kelompok lobi Global Trade Research Initiative, mengatakan ekspor pertanian India ke AS—yang berfokus pada beberapa rempah-rempah bernilai tinggi dan produk niche—akan mencatat keuntungan terbatas mengingat lemahnya pangsa pasar India pada komoditas utama yang dikecualikan seperti tomat, jeruk, melon, pisang, dan jus buah.

Pergeseran tarif akan sedikit memperkuat posisi India di sektor rempah-rempah dan hortikultura khusus, serta membantu memulihkan sebagian permintaan AS yang hilang setelah kenaikan tarif,” tambah Srivastava.

“Pemasok dari Amerika Latin, Afrika, dan Asean kemungkinan akan memperoleh keuntungan yang lebih besar,” ujar Srivastava, seraya menambahkan belum jelas apakah ekspor India akan dibebaskan dari tarif timbal balik 25 persen atau tarif penuh 50 persen.

Kendati demikian, ungkapnya, para eksportir khawatir bahwa faktor-faktor lain akan menghambat potensi keuntungan, seperti biaya pengiriman yang tinggi, persaingan yang ketat dari Vietnam dan Indonesia, serta persyaratan kualitas AS yang lebih ketat.

Pemerintah Indonesia, meskipun sudah diturunkan tarif impornya oleh Presiden Trump dari 32 persen menjadi 19 persen, pada 7 Juli 2025, tidak ingin buru-buru menandatangani kesepakatan dagang tersebut.

Sebelumnya, negara seperti Malaysia dan Kamboja sudah terlebih dahulu merampungkan negosiasi dengan AS. Sementara Indonesia tetap ingin ada kepastian posisi tawar yang saling menguntungkan.

Salah satu pembahasan utama adalah usulan tarif nol persen untuk sejumlah komoditas unggulan Indonesia yang tidak diproduksi di AS, seperti kelapa sawit, kakao, dan karet. Pemerintah Indonesia memastikan masih ada negosiasi dengan pihak AS untuk tarif dagang pada beberapa komoditas hingga ada penandatangan kesepakatan ini.

Menteri Perdagangan (Mendag), Budi Santoso mengatakan, negosiasi lanjutan antara Indonesia dan AS sedang dalam penentuan waktu yang tepat.

“Mau dijadwalkan perundingan berikutnya, ya mungkin tinggal menunggu. Rencananya waktu itu minggu depan, tetapi tadi dilaporkan, cuma belum dikasih tanggalnya,” kata Budi saat ditemui wartawan di kantor Kementerian Perdagangan (Kemendag), Jumat,  7 November 2025.

Budi menjelaskan negosiasi tersebut tidak bisa dilakukan setiap hari, karena Pemerintah AS juga melakukan perundingan yang sama dengan negara lainnya. (Rif)

750 x 100 PASANG IKLAN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait
930 x 180 PASANG IKLAN
DELTA SYSTECH INDONESIA

Tutup Yuk, Subscribe !