160 x 600 PASANG IKLAN
160 x 600 PASANG IKLAN
160 x 600 PASANG IKLAN
160 x 600 PASANG IKLAN

Produksi Nikel Dibatasi, Harga Naik, Menteri Bahlil akan Terapkan pada Batubara

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dalam Bahlil saat memaparkan Capaian Kinerja Kementerian ESDM Tahun 2025 di Jakarta, Kamis (8/1/2026).
750 x 100 PASANG IKLAN

Jakarta,corebusiness.co.id-Pembatasan produksi bijih nikel dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 mampu mengerek harga di tingkat global. Menteri ESDM Bahlil pun bakal menerapkan kebijakan yang sama pada batubara.

Harga bijih nikel di bursa berjangka London Metal Exchange (LME) pada Kamis siang (8/1/2026), pukul 14.30 WIB,  terpantau tembus US$ 18.440 per dry metric ton (dmt) dari harga penawaran US$ 18.450 per dmt.

Tren transaksi jual-beli bijih nikel di LME mulai merangkak naik dibandingkan periode pertengahan hingga akhir Desember 2025. Harganya rerata di kisaran US$ 14.500 per dmt hingga US$ 15.000-an per dmt. Tengok saja harga mineral logam acuan (HMA) dan harga batubara acuan (HBA) periode pertama Januari 2026 yang diterbitkan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, pada 31 Desember 2025. HMA Nikel domestik dipatok US$ 14.630 per dmt.

Untuk diketahui, HMA Nikel adalah harga logam nikel dalam cash seller and settlement yang dipublikasikan LME rata-rata dari tanggal 5 sampai tanggal 25 satu bulan sebelum periode Harga Patokan Mineral (HPM). Jika tren harga bijih nikel terus bertengger di atas US$ 18.000 per dmt, maka HMA Nikel domestik pun turut terdongkrak naik.

750 x 100 PASANG IKLAN

Menukil Bloomberg, meroketnya harga nikel global pada awal Januari 2026, didorong oleh penyesuaian kebijakan produksi di Indonesia serta meningkatnya aktivitas pasar dari China.

Di tengah pergerakan harga komoditas tersebut, sejumlah emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) juga menyampaikan aksi korporasi dan pembaruan kinerja.

Di pasar modal domestik, berdasarkan proyeksi konsensus, dari tiga emiten nikel besar yang tercatat di BEI, yakni PT Vale Indonesia Tbk (INCO), PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL), dan PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), MBMA diproyeksikan mencatatkan pertumbuhan laba bersih tertinggi pada periode 2025F–2026F.

Proyeksi pertumbuhan laba bersih MBMA diperkirakan mencapai 316% secara tahunan, disusul INCO sebesar 106% dan NCKL sebesar 20%. Secara nominal, laba bersih 2026F diperkirakan sebesar US$144 juta untuk MBMA, US$160 juta untuk INCO, dan Rp10 triliun untuk NCKL.

750 x 100 PASANG IKLAN

Dari sisi pasokan, penguatan harga nikel dipengaruhi oleh rencana Pemerintah Indonesia untuk menurunkan produksi bijih nikel guna menyeimbangkan pasokan dan permintaan.

Berdasarkan RKAB 2026, Kementerian ESDM merencanakan produksi bijih nikel 250 juta ton, lebih rendah dibandingkan RKAB 2025 yang produksinya 379 juta ton.

Diterapkan pada Batubara

Ternyata, strategi Menteri Bahlil Lahadalia on the right track. Harga bijih nikel global pelan-pelan merangkak naik. Sehingga ada peluang untuk mengerek HMA Nikel domestik.

Bahlil pun mencoba menerapkan strategi di nikel ini untuk komoditas batubara. Ia akan merevisi produksi batubara dalam RKAB 2026. Idem seperti bijih nikel, produksi batubara akan dikurangi.

750 x 100 PASANG IKLAN

“Produksi (batubara) akan kita turunkan supaya harga bagus dan tambang ini kita harus wariskan kepada anak cucu kita. Jadi, jangan cara berpikir kita mengelola sumber daerah alam itu seolah-olah harus selesai semua sekarang. Bangsa ini harus berjalan terus, lingkungan kita harus jaga aspek-aspek keadilan juga kita harus jaga,” tutur Bahlil dalam Konferensi Pers Capaian Kinerja Kementerian ESDM Tahun 2025 di Jakarta, Kamis (8/1/2026).

Bahlil menjelaskan bahwa dominasi Indonesia dalam pasokan batubara global turut memengaruhi ketidakseimbangan pasar. Saat ini, volume perdagangan batubara dunia mencapai sekitar 1,3 miliar ton, dengan Indonesia menyumbang porsi yang sangat besar.

“Batubara yang diperdagangkan di global itu kurang lebih sekitar 1,3 miliar ton. Dari 1,3 miliar ton, Indonesia mensuplai 514 juta ton atau sekitar kurang lebih sekitar 43%. Akibatnya apa? supply dan demand itu tidak terjaga yang pada akhirnya membuat harga batubara turun,” paparnya.

Belajar dari kondisi tersebut, pemerintah memutuskan untuk menata ulang kuota produksi melalui revisi RKAB agar lebih selaras dengan kebutuhan nasional maupun internasional. Salah satu langkah konkretnya adalah memangkas target produksi batubara nasional.

“Realisasi produksi batubara nasional yang mencapai 790 juta ton pada tahun 2025 akan kita pangkas menjadi kurang lebih 600 juta ton,” ucapnya.

Sepanjang tahun 2025, pemanfaatan batubara untuk kebutuhan dalam negeri (Domestic Market Obligation/DMO) sebesar 32% atau 254 juta ton dari total produksi. Sementara sisanya, 514 juta ton dimanfaatkan untuk kebutuhan ekspor.

Saat ini, Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara (Minerba) tengah menghitung secara detail kuota produksi untuk masing-masing perusahaan tambang melalui sistem RKAB. Pemerintah mengharapkan para pelaku usaha mulai menyesuaikan rencana kerja mereka dengan kebijakan baru tersebut. Selain itu, langkah ini diarahkan untuk mendukung pengembangan ekosistem hilirisasi yang lebih berkeadilan dan berkelanjutan.(Syarif)

 

750 x 100 PASANG IKLAN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait
930 x 180 PASANG IKLAN
DELTA SYSTECH INDONESIA

Tutup Yuk, Subscribe !