160 x 600 PASANG IKLAN
160 x 600 PASANG IKLAN
160 x 600 PASANG IKLAN
160 x 600 PASANG IKLAN

Insentif Impor Kendaraan Listrik CBU Distop, Periklindo Beberkan Dampaknya

Ilustrasi: PT Sokonindo Automobile hadirkan varian DFSK dan SERES di GIIAS 2025 ICE BSD City, Tangerang, dengan Mengusung tema “Innovate to Elevate for Indonesia. Foto: Syarif/corebusiness.co.id, Selasa (29/7/2025)
750 x 100 PASANG IKLAN

Dampak Penghentian Insentif

Terpisah, Wakil Ketua Bidang Pengembangan dan Penelitian Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik Indonesia (Periklindo), Prabowo Kartoleksono berpandangan, akan ada beberapa dampak dari kebijakan insentif tersebut. Pertama, bea masuk dan harga jual akan meningkat. Tanpa insentif, kendaraan listrik CBU akan dikenakan bea masuk, Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM), dan pajak impor lainnya.

“Ketika ada pembebanan tersebut, dampaknya harga jual EV CBU bisa naik antara 20 hingga 40 persen, membuatnya kurang kompetitif dibanding produk yang dirakit lokal (CKD/IKD),” kata Prabowo kepada corebusiness.co.id.

Kedua, terjadi penurunan daya saing produk impor. Produk dari merek asing yang belum berinvestasi lokal dan diproduksi lokal, akan kehilangan daya saing harga. Sementara merek seperti Wuling, Hyundai, dan DFSK– yang sudah punya pabrik di Indonesia–akan lebih diuntungkan dibanding pesaing CBU murni.

750 x 100 PASANG IKLAN

Ketiga, tekanan untuk realisasi investasi lokal. Pemerintah hanya akan melanjutkan dukungan fiskal jika perusahaan menunjukkan komitmen lokalisasi untuk pembangunan pabrik, perakitan, ekosistem baterai, dan SDM.

“Dengan demikian, perusahaan EV asing dipaksa mempercepat pembangunan fasilitas perakitan (CKD/IKD), menjalin kemitraan lokal, transfer teknologi. Sebagai contoh, BYD dan VinFast sudah menyatakan niat membangun pabrik di Indonesia,” jelasnya.

Keempat, akan ada perubahan strategi pemasaran dan model produk. Pabrikan asing perlu memilih model EV yang layak untuk produksi lokal agar efisien secara biaya. Mereka akan fokus pada model yang populer dan massal seperti City car (BYD Dolphin, Wuling Air EV), MPV medium, dan SUV kecil.

“Kemungkinan juga produsen asing akan menunda masuknya model flagship high-end, karena dinilai tak efisien diproduksi lokal,” ucapnya.

750 x 100 PASANG IKLAN

Kelima, terjadi peningkatan investasi industri pendukung. Dorongan lokal produksi juga mempercepat pembangunan industri baterai, ekosistem komponen lokal, lapangan kerja baru, dan kolaborasi lokal, misalnya dengan BUMN atau swasta lokal, menjadi strategi utama.

Kendati demikian, secara umum Periklindo penjualan EV di Indonesia diprediksi akan melonjak signifikan pada 2026. Terutama untuk BEV roda empat dan roda dua.

Periklindo mengestimasi penjualan EV tahun 2026 untuk jenis BEV antara 100 ribu hingga 120 ribu unit, atau meningkat tiga kali lipat dibanding tahun 2024. Jenis motor listrik, estimasi penjualannya antara 600 ribu hingga 800.00 unit, atau meningkat empat hingga lima kali lipat dibanding tahun 2024. Kemudian penjualan kendaraan komersial antara 10.000 hingga 20.000 unit, atau naik pesat, karena segmen baru. (Syarif).

 

750 x 100 PASANG IKLAN

Pages: 1 2Show All
750 x 100 PASANG IKLAN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait
930 x 180 PASANG IKLAN
DELTA SYSTECH INDONESIA

Tutup Yuk, Subscribe !