160 x 600 PASANG IKLAN
160 x 600 PASANG IKLAN
160 x 600 PASANG IKLAN
160 x 600 PASANG IKLAN

Dinamika Ekspor NEV China Berubah: Beberapa Negara Pilih PHEV, Indonesia?

Foto: dorleco.com
750 x 100 PASANG IKLAN

Jakarta,corebusiness.co.id-Shanghai Metal Market (SMM) melaporkan bahwa selama selama setahun terakhir, terjadi pergeseran signifikan dalam komposisi ekspor kendaraan listrik baru (new energy vehicle/NEV) China. NEV kategori plug-in hybrid vehicle (PHEV) tumbuh jauh lebih cepat daripada battery electric vehicle (BEV). Khususnya di pasar Eropa. Bagaimana di Indonesia?

Sebagai informasi, BEV adalah kendaraan yang sepenuhnya menggunakan tenaga listrik dari baterai dan tidak menghasilkan emisi. Sementara PHEV adalah gabungan mesin bensin dan motor listrik, sehingga bisa diisi ulang dan beroperasi dengan listrik maupun bahan bakar.

SMM menganalisis, pergeseran komposisi ekspor dari BEV ke PHEV bukanlah anomali jangka pendek, maupun sekadar cerminan preferensi konsumen. Sebaliknya, kondisi ini merupakan hasil faktor struktural yang mencakup kebijakan, infrastruktur, dinamika biaya, dan perilaku pengguna akhir di pasar luar negeri.

Dari sisi kebijakan, SMM mengungkapkan, hambatan regulasi yang lebih rendah untuk PHEV dinilai menjadi variabel penting dalam keputusan ekspor kendaraan listrik (electric vehicle/EV). Di pasar seperti Eropa, langkah-langkah perdagangan yang menargetkan BEV China—termasuk investigasi antisubsidi dan penyesuaian tarif potensial—telah meningkatkan ketidakpastian seputar ekspor BEV.

750 x 100 PASANG IKLAN

Sebaliknya, PHEV sering kali tidak sepenuhnya tunduk pada kerangka regulasi yang sama, sehingga menghasilkan risiko kepatuhan dan tarif yang lebih rendah dalam jangka pendek. Bagi produsen mobil, perbedaan ini penting. Strategi ekspor dioptimalkan tidak hanya untuk potensi permintaan, tetapi juga untuk prediktabilitas regulasi. Dalam konteks ini, PHEV menawarkan jalur yang relatif lebih aman untuk mempertahankan volume luar negeri sambil mengurangi risiko penurunan yang digerakkan oleh kebijakan.

Dari realitas infrastruktur, fasilisitas pengisian daya masih sangat tidak merata di berbagai pasar global. Lain halnya di China. Kota-kota besar di China menikmati jaringan pengisian daya yang padat dan andal. Sementara banyak wilayah luar negeri—termasuk di beberapa bagian Eropa, Asia Tenggara, dan pasar berkembang—terus menghadapi kesenjangan dalam ketersediaan pengisian daya publik, cakupan pengisian cepat, dan transparansi harga.

“BEV pada dasarnya bergantung pada kesiapan infrastruktur. Ketika akses pengisian daya tidak pasti, kecemasan penggunaan menjadi hambatan adopsi yang material,” demikian dilaporkan SMM, Senin (26/1/2026).

Sebaliknya, PHEV memisahkan elektrifikasi dari kelengkapan infrastruktur. Mereka memungkinkan konsumen mengandalkan jaringan bahan bakar yang ada untuk penggunaan jarak jauh atau darurat, sambil tetap menikmati manfaat berkendara listrik dalam skenario perkotaan dan jarak pendek. Model energi jalur ganda ini secara signifikan meningkatkan penerimaan pasar di wilayah-wilayah di mana pengembangan infrastruktur tertinggal dari ambisi elektrifikasi kendaraan.

750 x 100 PASANG IKLAN

Berikutnya perilaku konsumen. Seiring transisi NEV dari adopsi dini ke penetrasi pasar massal, pengambilan keputusan konsumen menjadi lebih pragmatis. Pembeli luar negeri semakin fokus pada kepastian penggunaan, keandalan, dan fleksibilitas, alih-alih spesifikasi teknis utama.

Di banyak pasar ekspor, frekuensi berkendara jarak jauh lebih tinggi, kondisi iklim lebih bervariasi, dan keakraban dengan kepemilikan EV masih terbatas. Dalam kondisi ini, BEV sering dianggap canggih secara teknologi, namun membatasi secara operasional.

PHEV, dengan menawarkan propulsi listrik dan berbahan bakar, mengurangi persepsi risiko dan menurunkan hambatan perilaku untuk adopsi. Dimensi psikologis ini—sering diremehkan dalam diskusi teknologi—memainkan peran kritis dalam membentuk permintaan ekspor.

Sedangkan dari struktur biaya dan fleksibilitas harga, SMM menganalisis, PHEV tidak selalu menawarkan biaya manufaktur absolut yang lebih rendah daripada BEV. Namun, mereka menyediakan fleksibilitas harga yang lebih besar. Dengan menghindari paket baterai yang sangat besar, PHEV mengurangi paparan terhadap volatilitas biaya material baterai sambil tetap memberikan proposisi nilai elektrifikasi.

Di pasar-pasar di mana subsidi sedang dihapuskan atau ditata ulang, PHEV sering mempertahankan kelayakan parsial melalui insentif berbasis emisi, keuntungan pajak, atau kebijakan akses perkotaan. Hal ini memungkinkan produsen mobil memposisikan PHEV lebih kompetitif di berbagai segmen harga.

750 x 100 PASANG IKLAN

Namun demikian, menurut SMM, hal Ini bukan berarti penolakan terhadap BEV sebagai solusi jangka panjang, melainkan penyesuaian taktis terhadap kondisi perdagangan saat ini. Seiring membaiknya infrastruktur pengisian daya luar negeri, kerangka regulasi yang stabil, dan konsumen yang semakin terbiasa dengan kepemilikan BEV, kendaraan listrik murni kemungkinan akan mendapatkan kembali momentum.

Namun, dalam fase saat ini—yang ditandai dengan ketidakpastian kebijakan, asimetri infrastruktur, dan perilaku konsumen yang hati-hati—PHEV berfungsi sebagai teknologi transisi yang efektif, menyeimbangkan tujuan elektrifikasi dengan kendala dunia nyata.

SMM berpandangan, struktur ekspor industri NEV China yang terus berkembang menggarisbawahi pelajaran yang lebih luas: elektrifikasi global tidak berjalan seragam, dan adopsi teknologi harus disesuaikan dengan kondisi lokal.

Menurutnya, PHEV saat ini unggul di pasar ekspor dibanding BEV bukan karena lebih maju, tetapi karena lebih sesuai dengan tahap infrastruktur, kebijakan, dan kesiapan konsumen saat ini. Dalam arti ini, persaingan antara BEV dan PHEV bukan tentang keunggulan teknologi melainkan kecocokan kontekstual. Seiring pasar global terus berevolusi, strategi ekspor—dan teknologi yang mendukungnya—akan tetap dibentuk oleh kendala dunia nyata daripada titik akhir yang teridealisasi.

Tren BEV dan PHEV di Pasar Indonesia

Di Indonesia, NEV kategori BEV justru jauh lebih diminati daripada PHEV. Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat penjualan whole sales (dari produsen ke distributor) BEV tahun 2025 mencapai 103.931 unit. Sementara penjualan PHEV hanya 5.270 unit.

“Produksi mobil BEV sepanjang tahun 2025 sebanyak 24.727 unit, sedangkan produksi PHEV sebanyak 6.024. Posisi kedua, baik dari penjualan maupun produksi mobil terbanyak kedua ditempati NEV kategori hybrid electric vehicle (HEV), masing-masing 65.934 unit dan 97.462 unit,” kata Ketua Pengembangan Pasar Gaikindo, Jongkie D. Sugiarto kepada corebusiness.co.id.

Gaikindo juga mencatat tren penjualan whole sales PHEV dan BEV sejak 2019 hingga 2024. Penjualan PHEV tahun 2019 sebanyak 25 unit, sementara penjualan BEV nol. Tahun berikutnya, 2020, penjualan BEV melonjak 125 unit meninggalkan capaian penjualan PHEV yang hanya 8 unit. Sejak tahun itu angka penjualan BEV terus terkerek naik.

Penjualan BEV tahun 2021 melesat mencapai 687 unit, PHEV hanya mampu menjual 46 unit. Tahun 2022, angka penjualan BEV semakin jauh meninggalkan PHEV, masing-masing 10.327 unit dan 10 unit. Tahun 2023, penjualan PHEV mengalami kenaikan, yakni 128 unit, begitupun penjualan BEV mencapai 17.051 unit. Berikutnya penjualan tahun 2024, penjualan BEV meroket mencapai angka 43.188 unit, PHEV mampu menjual 136 unit.

Jika ditilik dari penjabaran analisis SMM, baik dari sisi kebijakan, infrastruktur, dinamika biaya, perilaku konsumen, Indonesia dinilai lebih siap menerima NEV kategori full tenaga listrik dari baterai? (Syarif)

 

750 x 100 PASANG IKLAN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait
930 x 180 PASANG IKLAN
DELTA SYSTECH INDONESIA

Tutup Yuk, Subscribe !