160 x 600 PASANG IKLAN
160 x 600 PASANG IKLAN
160 x 600 PASANG IKLAN
160 x 600 PASANG IKLAN

Peran Indonesia sebagai ‘Mother Country’ Kopi Domestikasi di Penjuru Dunia.

Ketua Umum Coffee Lovers Indonesia, Jamil Musanif. Foto: Ist
750 x 100 PASANG IKLAN

Jakarta,corebusiness.co.id-Minuman dari racikan bijih kopi disukai oleh masyarakat dunia dan Indonesia. Bahkan minuman kopi menjadi teman pendamping bagi mereka yang membutuhkan inspirasi. Ketua Ketua Umum Coffee Lovers Indonesia (CLI) Jamil Musanif menyibak asal usul tanaman kopi di Bumi Nusantara.

Bagi para penikmatnya, kopi memiliki arti tersendiri. Kopi tak hanya sekadar minuman saja, tetapi juga mengandung filosofi yang mendalam, terutama tentang kehidupan. Dengan meneguk minuman kopi terlebih dahulu, mungkin bisa menenangkan pikiran sebelum memulai aktivitas pada hari itu. Tak hanya itu, banyak yang menyebut kopi bisa mendatangkan inspirasi.

Bagi pecinta kopi, satu hari tidak minum kopi ibarat hidup tanpa arti. “Hidup ini seperti secangkir kopi, di mana pahit dan manis bertemu dalam kehangatan,” demikian salah satu kata bijak bagi penikmat minuman kopi.

Tanaman kopi yang banyak dibudidayakan petani di berbagai daerah di Indonesia, menjadi sumber penyediaan bahan baku minuman kopi. Apalagi Indonesia dikenal sebagai produsen kopi terbesar keempat di dunia setelah Brasil, Vietnam, dan Kolombia. Menurut catatan Kementerian Pertanian tahun 2022-2025, Indonesia memproduksi sekitar 789.000 ton per tahun. Dari total produksi tersebut, 150.000 ton adalah arabika, sementara 600.000 ton lainnya robusta. Keunikan kopi Indonesia terletak pada ragam cita rasanya yang mencerminkan karakteristik geografis dan tradisi lokal.

750 x 100 PASANG IKLAN

Ekspor bersih diperkirakan meningkat dari 420.000 ton pada 2024 menjadi 427.000 ton pada 2025. Sementara konsumsi domestik turun dari 368.000 ton menjadi 361.000 ton. Pada Januari-September 2024, ekspor kopi mencapai 342.000 ton atau senilai 1,49 miliar dollar AS (Rp 23 triliun), dengan tujuan utama ke Amerika Serikat, Mesir, Jerman, dan Malaysia.

Sekilas Sejarah Kopi di Bumi Nusantara

Ketua Umum Coffee Lovers Indonesia (CLI) Jamil Musanif menuturkan, semua tanaman pertanian yang kita kenal sekarang, seperti padi, tebu, sayuran, tembakau, bunga, tanaman hias, dan lainnya, asal mulanya adalah tumbuhan liar di hutan. Kemudian, oleh peradaban manusia tumbuh-tumbuhan liar tersebut dicoba dibudidayakan dan dikembangkan secara lebih terprogram.

“Tentu demikian pula halnya dengan tanaman Kopi. Orang-orang pertanian menyebut aktivitas terssebut dengan istilah domestikasi,” kata Jamil Musanif kepada corebusiness.co.id, Rabu (14/1/2026).

Jamil Musanif menerangkan, nenek moyang atau plasmanutfah kopi diyakini berasal dari vegetasi yang tumbuh liar di hutan-hutan Afrika hingga Asia Barat, antara lain di Ethiopia hingga Yaman. Seiring waktu produk dari tumbuhan kopi primitif itu kemudian menjadi sesuatu yang tampil modern dan bergengsi, mengisi setiap zona bentang alam di seluruh dunia. Produktivitasnya pun berlipat ganda dari tumbuhan aslinya.

750 x 100 PASANG IKLAN

Menurut catatan Jamil Musanif, pada paruh akhir abad ke-17 eksponen kolonial Belanda membawa benih kopi primitif atau setengah primitif itu dari negara Yaman ke Bumi Nusantara untuk dilakukan percobaan-percobaan dan pengembangannya mulai di daerah Batavia, kemudian di Jawa Barat dan Jawa Timur.

Para researcher Belanda dan tentunya dibantu oleh para ilmuan dan peneliti kopi pribumi berhasil melakukan domestikasi dan pengembangan secara genetik lebih lanjut dari benih kopi yang semula dari hutan dan atau dari pekarangan-pekarangan penduduk di Afrika dan Asia Barat itu, menjadi tanaman kopi domestikasi yang unggul dari berbagai segi, termasuk dalam hal cita rasa.

“Mereka menyebutnya kopi Arabika, dan hingga sekarang dikenal sebagai kopi Arabika. Produknya ketika itu dikenal sebagai Java Coffee,” imbuhnya.

750 x 100 PASANG IKLAN

Pada awal abad ke-18, masih menurut Jamil Musanif, benih kopi yang istimewa dari Jawa itu dibawa ke Amsterdam. Dan, kemudian Wali Kota Amsterdam pernah memberikan benih kopi yang terkenal dari Jawa itu kepada Raja Lois XIV di Paris.

“Sejak itu benih kopi domestikasi dan unggul dari Jawa melalui jalur Amsterdam, Paris, dan lainnya menyebar ke hampir seluruh penjuru dunia, seperti Martinique, Jamaica, Caribia, Amerika Tengah, Amerika Selatan, Brazil, Filipina, Hawai, Uganda, dan negara lainnya,” urai mantan Direktur Pengembangan Usaha dan Investasi Kementan tersebut.

Dari fakta tersebut, Jamil Musanif menyatakan, maka peran Indonesia dapat dikatakan sebagai ‘Mother Country’ bagi keberadaan kopi domestikasi atau kopi budidaya di seluruh belahan dunia.

“Researchers Belanda di Nusantara pada waktu itu dan dilanjutkan oleh para pemerhati kopi di Indonesia juga melakukan koleksi berbagai varietas kopi lainnya. Sehingga Indonesia mempunyai varietas kopi yang lengkap, yaitu Arabika, Robusta, Liberika, dan Exelsa,” imbuhnya.

Di sisi lain, karena cita rasa kopi ternyata sangat dipengaruhi oleh sifat dan ciri lingkungan mikro di mana ia tumbuh, maka mengingat Indonesia terdiri dari 17.000-an pulau dengan variasi lingkungan mikro yang jauh lebih banyak, sehingga Indonesia mempunyai ribuan varian cita rasa.

Disampaikan, berdasarkan uji cita rasa kopi dengan metode Coffee Lovers Preference Taste (CloPT) terhadap 23 contoh kopi olahan dari berbagai daerah pada 2023, sebanyak 17 di antaranya termasuk gold class atau sangat disukai konsumen.

Ia menyatakan, dari uraian tersebut menunjukkan fakta bahwa selain sebagai ‘Mother Country’ untuk kopi domestikasi dunia, Indonesia juga memiliki ribuan varian cita rasa kopi yang istimewa (gold class coffee).

“Dengan dua fakta tersebut serta reputasi pengembangan kopi di Indonesia, maka Indonesia layak disebut sebagai surganya pencinta kopi (the paradise for coffee lovers). Dunia internasional perlu mengerti akan hal itu,” pungkasnya. (Rif)

750 x 100 PASANG IKLAN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait
930 x 180 PASANG IKLAN
DELTA SYSTECH INDONESIA

Tutup Yuk, Subscribe !