Jakarta,corebusiness.co.id-Prompt Manufacturing Index (PMI) Bank Indonesia triwulan IV 2025 mencatat kinerja industri pengolahan meningkat. Pengolahan dari subindustri kertas menempati peringkat teratas.
Seiring perkembangan teknologi digital, penggunaan kertas semakin berkurang, terutama dalam keperluan administrasi bisnis. Efiensi menjadi pertimbangan kaum modern untuk beralih ke sistem paperless (tanpa kertas).
Paperless turut menggerus industri pengolahan kertas dan subindustri produk turunannya. Banyak pelaku usaha di sektor ini kolaps, meskipun masih ada yang berusaha bertahan.
Namun, kabar mengejutkan datang dari Bank Indonesia (BI). Bank sentral RI melaporkan kinerja lapangan usaha (LU) industri pengolahan pada triwulan IV 2025 meningkat dan berada pada fase ekspansi (indeks >50%). Peningkatan tecermin dari Prompt Manufacturing Index (PMI) Bank Indonesia (BI).
PMI-BI triwulan IV 2025 sebesar 51,86 persen, lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan sebelumnya sebesar 51,66 persen.
Yang mengejutkan, peningkatan PMI-BI terdongkrak dari subindustri kertas dan barang dari kertas serta percetakan dan reproduksi media rekaman. Industri ini mencatat indeks tertinggi sebesar 56,71 persen.
Ibarat orang mati suri, industri kertas berhasil bangkit kembali dari maut yang membelitnya.
“Berdasarkan komponen pembentuknya, peningkatan PMI-BI didorong oleh ekspansi pada mayoritas komponen, yaitu volume produksi, volume persediaan barang jadi, dan volume total pesanan,” kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso dalam keterangan tertulis, dikutip Rabu (21/1/2026).
Ramdan menyebutkan, komponen volume total pesanan sebanyak 53,31 persen, volume persediaan barang jadi 53,46 persen, dan jumlah tenaga kerja 48,80 persen meningkat dibanding kuartal sebelumnya. Sementara komponen yang mencatat penurunan secara kuartalan adalah volume produksi, yakni 53,46 persen, dan kecepatan penerimaan barang input sebesar 49,32 persen.
Secara terperinci, indeks volume total pesanan naik menjadi 53,31 persen dari 52,82 persen. Volume persediaan barang jadi juga meningkat menjadi 53,46 persen dari 52,68 persen dan jumlah tenaga kerja meningkat tipis dari 48,70 persen menjadi 48,80 persen.
Indeks produksi turun, namun masih tetap di ambang ekspansi. Angkanya turun menjadi 53,46 persen dari 53,62 persen. Indeks kecepatan penerimaan barang input juga melemah menjadi 49,32 persen dari 49,35 persen.
Berdasarkan sublapangan usaha, sambung Ramdan, sebagian besar masih berada di zona ekspansi. BI mencatat subindustri kertas dan barang dari kertas serta percetakan dan reproduksi media rekaman mencatat indeks tertinggi. Kemudian diikuti industri barang galian bukan logam serta industri makanan dan minuman yang masing-masing meningkat ke level 54,33 persen dan 54,06 persen.
Berikutnya, industri furnitur serta industri tekstil dan pakaian jadi juga meningkat dengan indeks masing-masing sebesar 52,35 persen dan 50,19 persen, dari sebelumnya 43,88 persen dan 48,29 persen.
“Perkembangan tersebut sejalan dengan hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) Bank Indonesia yang mengindikasikan kinerja kegiatan LU Industri Pengolahan tetap kuat dengan nilai Saldo Bersih Tertimbang (SBT) sebesar 1,18 persen,” ujar Ramdan.
BI memperkirakan sektor industri pengolahan tetap meningkat dan berada di zona ekspansi pada kuartal I 2026. PMI-BI diperkirakan mencapai 53,17 persen. Mayoritas komponen diprediksi tetap ekspansif. Komponen volume total pesanan sebesar 55,05 persen mencatat indeks tertinggi.
Kemudian disusul volume produksi (54,82 persen), volume persediaan barang jadi (54,22 persen), dan kecepatan penerimaan barang input (50,38 persen).
Mayoritas Sub-LU juga diprakirakan BI berada pada fase ekspansi, dengan indeks tertinggi pada industri kulit, barang dari kulit dan alas kaki, industri furnitur, industri logam dasar, serta industri makanan dan minuman. (Rif)