Berdasarkan sublapangan usaha, sambung Ramdan, sebagian besar masih berada di zona ekspansi. BI mencatat subindustri kertas dan barang dari kertas serta percetakan dan reproduksi media rekaman mencatat indeks tertinggi. Kemudian diikuti industri barang galian bukan logam serta industri makanan dan minuman yang masing-masing meningkat ke level 54,33 persen dan 54,06 persen.
Berikutnya, industri furnitur serta industri tekstil dan pakaian jadi juga meningkat dengan indeks masing-masing sebesar 52,35 persen dan 50,19 persen, dari sebelumnya 43,88 persen dan 48,29 persen.
“Perkembangan tersebut sejalan dengan hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) Bank Indonesia yang mengindikasikan kinerja kegiatan LU Industri Pengolahan tetap kuat dengan nilai Saldo Bersih Tertimbang (SBT) sebesar 1,18 persen,” ujar Ramdan.
BI memperkirakan sektor industri pengolahan tetap meningkat dan berada di zona ekspansi pada kuartal I 2026. PMI-BI diperkirakan mencapai 53,17 persen. Mayoritas komponen diprediksi tetap ekspansif. Komponen volume total pesanan sebesar 55,05 persen mencatat indeks tertinggi.
Kemudian disusul volume produksi (54,82 persen), volume persediaan barang jadi (54,22 persen), dan kecepatan penerimaan barang input (50,38 persen).
Mayoritas Sub-LU juga diprakirakan BI berada pada fase ekspansi, dengan indeks tertinggi pada industri kulit, barang dari kulit dan alas kaki, industri furnitur, industri logam dasar, serta industri makanan dan minuman. (Rif)