Jakarta,corebusiness.co.id–PT Pertamina Hulu Energi (PHE) terus memperkuat komitmennya dalam menjaga ketahanan energi nasional melalui percepatan pengembangan lapangan minyak dan gas bumi (migas) di tengah dinamika geopolitik global dan volatilitas harga minyak.
Industri migas global belum aman. Perang AS-Israel versus Iran sejak 28 Februari 2026 masih berkecamuk hingga detik ini, bahkan telah menyebar ke seluruh Timur Tengah. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran tentang jalur pelayaran di sekitar Semenanjung Arab dan Laut Merah. Konflik tersebut tidak lagi terkonsentrasi di Teluk Persia dan sekitar Selat Hormuz, tetapi sudah meluas ke Laut Merah dan Selat Bab el-Mandeb, salah satu titik hambatan terpenting di dunia untuk aliran minyak mentah dan produk olahan.
Penutupan Selat Hormuz saja sudah mengganggu pasokan minyak mentah ke negara-negara importir. Termasuk Indonesia. Selat Hormuz yang menjadi jalur minyak dan produk petroleum dari Irak, Arab Saudi, Qatar, Kuwait, dan Uni Emirat Arab, sebagian besar masih ditutup Iran.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia menyebutkan, penutupan Selat Hormuz membuat 20,1 juta barel per hari pasokan minyak mentah terhambat. Indonesia sendiri, sekitar 20 persen hingga 25 persen impor minyak mentah mandek.
“Dari total impor crude kita yang dari Middle East itu kurang lebih sekitar 20 persen sampai 25 persen. Selebihnya kita ambil dari Afrika, Angola, Amerika, kemudian dari beberapa negara lain seperti Brasil,” kata Bahlil dalam konferensi pers Perkembangan Terkini Timur Tengah dan Implikasi Terhadap Sektor ESDM, di Jakarta.
Berdasarkan data ESDM, sepanjang 2025 Pertamina mengimpor 135,33 juta barel minyak mentah, dengan sekitar 19 persen atau 25,36 juta barel di antaranya berasal dari Arab Saudi. Selebihnya, pasokan minyak mentah Indonesia berasal dari berbagai sumber, antara lain Afrika, Amerika Latin, Amerika Serikat, Malaysia, dan sejumlah negara lainnya. Selain itu, Indonesia juga memiliki kerja sama jangka panjang dengan Singapura dan Malaysia untuk pasokan produk BBM.
Penutupan Selat Hormuz ikut mengerek naik harga minyak mentah dunia. Senin ini, 6 April 2026, harga minyak mentah Brent berjangka naik $1,71, atau 1,6 persen, menjadi $110,74 per barel. Sementara harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS berjangka naik $0,71, atau 0,6 persen, menjadi $112,25 per barel.
Untuk menjaga ketahanan pasokan BBM dalam negeri, Pemerintah Indonesia ancang-ancang melakukan diversifikasi sumber energi dengan membuka opsi pasokan minyak mentah dan BBM dari kawasan selain Timur Tengah. Langkah ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto kepada Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, untuk memperluas sumber impor minyak dari berbagai negara guna menjaga kesinambungan pasokan dalam negeri.
Keberlanjutan Produksi Migas Nasional
Sementara itu, di tengah dinamika geopolitik global dan volatilitas harga minyak, Pertamina melalui Pertamina Hulu Energi (PHE) terus mempercepat pengembangan lapangan migas untuk memastikan keberlanjutan produksi nasional, sekaligus menjawab peningkatan kebutuhan energi dalam negeri.
“Di tengah ketidakpastian global, percepatan pengembangan lapangan migas menjadi langkah strategis untuk memastikan ketahanan energi nasional, sekaligus menjaga keberlanjutan pasokan energi bagi masyarakat dan industri,” kata Direktur Pengembangan dan Produksi PHE, Mery Luciawaty, dalam forum diskusi internasional Offshore Technology Conference (OTC) Asia 2026 di Kuala Lumpur, Malaysia, pada Rabu (1/4/2026), melalui keterangan tertulis.
Mery menyampaikan, sebagai Subholding Upstream Pertamina, PHE saat ini mengelola 20 basin dengan total produksi mencapai sekitar 1 juta barel setara minyak per hari (MMBOEPD). PHE berkontribusi sekitar 65 persen terhadap produksi minyak nasional dan 36 persen produksi gas nasional dari 27 persen wilayah kerja migas domestik.
Namun, dalam menjalankan aktivitas produksi migas, ungkap Mery, PHE menghadapi beberapa tantangan dalam pengembangan lapangan, yaitu decline rate yang cukup tinggi untuk minyak sebesar 24 persen, decline rate gas 21 persen, serta asset integrity menjadi major challenge–karena 65 persen aset PHE memiliki usia di atas 30 tahun.

“Challenge lainnya, operational cost PHE cukup tinggi dikarenakan produksi di PHE sudah berada di late stage of development, di mana dalam peningkatan produksi PHE melakukan enchanced oil recovery (EOR), yaitu steamflood yang membutuhkan dukungan dari kehandalan listrik, serta aktivitas chemical oil recovery yang membutuhkan biaya lebih tinggi dibandingkan conventional drilling,” tuturnya.
Sementara tantangan terkait komersialisasi, lanjutnya, salah satunya kondisi lapangan stranded gas yang berada di remote area. Lantaran itu diperlukan teknologi seperti GTL atau mini LNG untuk meningkatkan keekonomian dari asset tersebut.
Mery menyebutkan, untuk mendukung peningkatan produksi, PHE menjalankan berbagai strategi utama. Antara lain melalui percepatan pematangan proyek (project maturation), salah satu contohnya untuk proyek eksplorasi dengan melibatkan tim pengembangan sejak dini dalam menentukan rencana pengembangan, serta optimalisasi pengembangan lapangan marginal melalui pendekatan terintegrasi dan efisiensi biaya.
PHE juga terus mendorong penerapan inovasi teknologi untuk pengembangan lapangan deepwater, migas nonkonvensional, chemical enhanced oil recovery (CEOR), serta pengembangan ekosistem carbon capture, utilization and storage (CCUS) sebagai bagian dari strategi jangka panjang perusahaan. (Rif)