Keberlanjutan Produksi Migas Nasional
Sementara itu, di tengah dinamika geopolitik global dan volatilitas harga minyak, Pertamina melalui Pertamina Hulu Energi (PHE) terus mempercepat pengembangan lapangan migas untuk memastikan keberlanjutan produksi nasional, sekaligus menjawab peningkatan kebutuhan energi dalam negeri.
“Di tengah ketidakpastian global, percepatan pengembangan lapangan migas menjadi langkah strategis untuk memastikan ketahanan energi nasional, sekaligus menjaga keberlanjutan pasokan energi bagi masyarakat dan industri,” kata Direktur Pengembangan dan Produksi PHE, Mery Luciawaty, dalam forum diskusi internasional Offshore Technology Conference (OTC) Asia 2026 di Kuala Lumpur, Malaysia, pada Rabu (1/4/2026), melalui keterangan tertulis.
Mery menyampaikan, sebagai Subholding Upstream Pertamina, PHE saat ini mengelola 20 basin dengan total produksi mencapai sekitar 1 juta barel setara minyak per hari (MMBOEPD). PHE berkontribusi sekitar 65 persen terhadap produksi minyak nasional dan 36 persen produksi gas nasional dari 27 persen wilayah kerja migas domestik.
Namun, dalam menjalankan aktivitas produksi migas, ungkap Mery, PHE menghadapi beberapa tantangan dalam pengembangan lapangan, yaitu decline rate yang cukup tinggi untuk minyak sebesar 24 persen, decline rate gas 21 persen, serta asset integrity menjadi major challenge–karena 65 persen aset PHE memiliki usia di atas 30 tahun.

“Challenge lainnya, operational cost PHE cukup tinggi dikarenakan produksi di PHE sudah berada di late stage of development, di mana dalam peningkatan produksi PHE melakukan enchanced oil recovery (EOR), yaitu steamflood yang membutuhkan dukungan dari kehandalan listrik, serta aktivitas chemical oil recovery yang membutuhkan biaya lebih tinggi dibandingkan conventional drilling,” tuturnya.
Sementara tantangan terkait komersialisasi, lanjutnya, salah satunya kondisi lapangan stranded gas yang berada di remote area. Lantaran itu diperlukan teknologi seperti GTL atau mini LNG untuk meningkatkan keekonomian dari asset tersebut.
Mery menyebutkan, untuk mendukung peningkatan produksi, PHE menjalankan berbagai strategi utama. Antara lain melalui percepatan pematangan proyek (project maturation), salah satu contohnya untuk proyek eksplorasi dengan melibatkan tim pengembangan sejak dini dalam menentukan rencana pengembangan, serta optimalisasi pengembangan lapangan marginal melalui pendekatan terintegrasi dan efisiensi biaya.
PHE juga terus mendorong penerapan inovasi teknologi untuk pengembangan lapangan deepwater, migas nonkonvensional, chemical enhanced oil recovery (CEOR), serta pengembangan ekosistem carbon capture, utilization and storage (CCUS) sebagai bagian dari strategi jangka panjang perusahaan. (Rif)