Rusia Senasib dengan Iran
Sementara itu, Pengamat Ekonomi Energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Fahmy Radhi, mengutarakan, meskipun AS dan sekutunya mengembargo impor minyak mentah dari dua perusahaan minyak terbesar Rusia, yaitu Rosneft dan Lukoil, namun Presiden Rusia, Vladimir Putin tidak bergeming.
Menurut data energi AS, Rusia adalah produsen minyak mentah terbesar kedua di dunia pada tahun 2024 setelah AS. Rosneft dan Lukoil bersama-sama menyumbang lebih dari 5 persen produksi minyak global.
“Putin merasa yakin minyaknya masih akan dibeli oleh negara-negara lain. Karena, Rusia menawarkan harga jual minyak dengan diskon cukup tinggi, artinya lebih murah dari rata-rata harga pasar internasional. Negara-negara seperti Tiongkok dan India tetap saja membeli minyak dari Rusia,” kata Fahmy kepada corebusiness.co.id.
Fahmy mengatakan bahwa AS dan sekutunya tidak bisa mendikte negara lain tidak membeli atau mengimpor minyak mentah dari Rusia.
“AS paling hanya memperingatkan saja, tidak bisa dia mengatur negara-negara lain agar tidak membeli minyak dan gas dari Rusia,” ucapnya.
Ia mencontohkan Iran, bertahun-tahun diembargo AS, dan melarang negara-negara sekutunya berhubungan dagang dengan Iran. Faktanya, ungkap Fahmy, Prancis masih saja menjalin kerja sama perdagangan dengan Iran. Salah satunya Iran impor persenjataan dari Prancis. Sebagai imbalannya, Prancis membeli minyak dengan harga murah dari Iran.
“Jadi, logika ekonomi tidak bisa dipatahkan dengan logika politik,” pungkas Fahmy. (Rif)