
Jakarta,corebusiness.co.id-Referendum untuk mendorong pembukaan kembali Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) terakhir Taiwan, Maanshan, Sabtu kemarin gagal mencapai ambang batas hukum yang sah.
Plebisit (pemungutan suara) yang didukung oleh oposisi, mempertanyakan apakah PLTN Maanshan harus dibuka kembali jika “dikonfirmasi” tidak ada masalah keselamatan.
Reaktor nuklir terakhir Taiwan, Maanshan, ditutup pada Mei 2025 setelah 40 tahun beroperasi, mengakhiri era tenaga nuklir di pulau tersebut. Pemerintah Taiwan ingin beralih ke energi terbarukan dan gas alam cair.
Dilansir Reuters, partai kecil di Taiwan, Partai Rakyat Taiwan (TPP) mengusulkan referendum awal tahun ini. Mendapat dukungan dari partai lebih besar, Kuomintang (KMT), mereka berhasil meloloskan undang-undang untuk pemungutan suara tersebut, dengan menyatakan bahwa Taiwan membutuhkan pasokan listrik yang andal dan tidak terlalu bergantung pada impor.
Menurut data Komisi Pemilihan Umum Pusat, sekitar 4,3 juta orang memilih mendukung pembukaan kembali PLTN tersebut dalam referendum, dan 1,5 juta orang menolak. Namun, persyaratan untuk referendum yang sah tidak terpenuhi, karena partisipasi pemilih terdaftar (sekitar 5 juta) tidak mencapai 25 persen dari total suara.
Pemerintah Taiwan menyatakan terdapat kekhawatiran besar terkait keselamatan terkait pembangkitan tenaga nuklir di Taiwan yang rawan gempa dan penanganan limbah nuklir.
Presiden Taiwan, Lai Ching-te mengatakan kepada wartawan pada Sabtu malam bahwa meskipun referendum gagal, ia memahami ekspektasi masyarakat terhadap beragam pilihan energi.
“Jika di masa depan, teknologinya menjadi lebih aman, limbah nuklir berkurang, dan penerimaan masyarakat meningkat, kami tidak akan mengesampingkan energi nuklir canggih,” kata Lai.