Jakarta,corebusiness.co.id-Data pertumbuhan ekonomi kuartal IV 2025 secara resmi baru akan dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) pada Februari 2026. Namun, sudah muncul prediksi angka-angka versi pemerintah dan nonpemerintah.
Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa, misalnya, optimistis pertumbuhan ekonomi kuartal IV 2025 sebesar 5,5 persen year-on-year (yoy). Sementara secara tahunan (full year) ekonomi tumbuh 5,2 persen.
Purbaya mengakui bahwa ekonomi Indonesia pada awal tahun hingga bulan ke-9 mengalami perlambatan. Dalam pelbagai kesempatan ia kerap mengingatkan pertumbuhan uang primer (M0) yang lambat menjadi penyebab ekonomi Indonesia yang tersendat sepanjang 2025. Menurutnya, seharusnya pertumbuhan uang primer idealnya mampu tumbuh 20 persen yoy. Sementara MO baru terserap 13,3 persen.
“(Base money) 13,3 persen pertumbuhannya di bulan September, tapi Oktober turun lagi ke 7 persen. Wah saya bilang, kalau gitu masih kurang. Makanya saya tambah lagi Rp 76 triliun ke perekonomian hari Jumat lalu. Jadi ada gas lagi sedikit ekonomi,” ujarnya di The Westin Jakarta, Kamis (20/11/2025).
Untuk diketahui, sebelumnya Kementerian Keuangan (Kemenkeu) telah menempatkan dana Rp 200 triliun ke lima bank pada 12 September lalu. Meskipun per 22 Oktober baru disalurkan sekitar 84 persen atau Rp 167,6 triliun.
Penambahan penempatan dana di perbankan nasional, dimaksudkan Purbaya, sebagai upaya mendongkrak pergerakan dunia usaha. Purbaya ingin sektor-sektor ekonomi yang sebelumnya stagnan dapat kembali berfungsi dengan maksimal untuk mendorong perekonomian.
“Fokus saya adalah menjaga fondasi perekonomian. Capital market akan ikut karena size of company akan bertumbuh juga,” terangnya.
Ia berpandangan, pasar modal yang berkembang akan menciptakan peluang bagi perusahaan-perusahaan besar untuk tumbuh dan berkontribusi lebih besar terhadap perekonomian.
Sementara Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal IV 2025 di kisaran 4,7 persen–5,5 persen. Perry juga optimistis perekonomian Indonesia ke depan akan lebih baik dengan pertumbuhan lebih tinggi dan berdaya tahan, meskipun dalam bayang-bayang ketidakpastian global yang tinggi.
Perry menyebut, indikator tumbuhnya ekonomi kuartal IV 2025 di antaranya dari sektor konsumsi rumah tangga yang membaik didukung oleh belanja sosial pemerintah, serta keyakinan rumah tangga terhadap kondisi penghasilan dan ketersediaan lapangan kerja yang terus meningkat. Perkembangan ini mendorong meningkatnya penjualan eceran pada berbagai kelompok barang.
“Secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi 2025 diprakirakan berada dalam kisaran 4,7 persen hingga 5,5 persen, dan meningkat menjadi 4,9 persen hingga 5,7 persen pada 2026,” kata Perry dalam konferensi pers, Rabu (17/12/2025) melalui daring.
BI memutuskan konsisten mempertahankan BI Rate atau suku bunga acuan di level 4,75 persen, suku bunga Deposit Facility sebesar 3,75 persen, dan suku bunga Lending Facility sebesar 5,50 persen.
Keputusan ini, kata Perry, sebagai upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah masih tingginya ketidakpastian global dengan tetap memperkuat efektivitas transmisi pelonggaran kebijakan moneter dan makroprudensial yang telah ditempuh selama ini untuk menjaga stabilitas dan mendorong perekonomian nasional.
Disampaikan, pelonggaran kebijakan makroprudensial diperkuat dengan meningkatkan efektivitas implementasi pemberian likuiditas kepada perbankan untuk mempercepat penurunan suku bunga dan meningkatkan pertumbuhan kredit/pembiayaan ke sektor riil, khususnya sektor-sektor prioritas pemerintah.
Konservatif
Lebih rendah dari target pemerintah, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO), Shinta Widjaja Kamdani, memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal IV-2025 akan berada di kisaran 5,1 persen hingga 5,3 persen.
Shinta menilai capaian akhir tahun akan menjadi penentu, sejalan dengan adanya momentum musiman akhir tahun, yakni Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru), yang akan menjadi pendorong utama roda perekonomian di penghujung tahun.
“Natal dan Tahun Baru biasanya akan membantu mendongkrak perekonomian Indonesia di penghujung tahun,” kata Shinta dalam Konferensi Pers di kantor DPN APINDO, Jakarta, Senin (8/12/2025), seperti dikutip.
Sinta juga menyoroti tren perbaikan ekonomi secara kuartalan. Disebutkan, di kuartal I ekonomi tumbuh 4,78 persen, kuartal II naik 5,12 persen, namun kuartal III turun menjadi 5,04 persen.
Menurut Shinta, tambahan dorongan dari percepatan belanja pemerintah serta injeksi Saldo Anggaran Lebih (SAL) dan Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SiLPA) Rp276 triliun akan semakin memperkuat pertumbuhan di penghujung tahun.
“Pertumbuhan kuartal keempat diperkirakan akan mencapai 5,1 sampai 5,3 persen,” ujarnya.
Ia menegaskan prediksi pengusaha cenderung lebih konservatif dibandingkan pemerintah yang menargetkan antara 5,5 persen hingga 5,6 persen.
Lebih konservatif, Head of Macroeconomic & Financial Market Research PT Bank Mandiri (Persero), Dian Ayu Yustina memprediksi ekonomi Indonesia secara full year tumbuh 5 persen hingga 5,1 persen.
“Dengan melihat berbagai perkembangan leading indikator yang sudah kita amati sampai selama periode Oktober-November, kami masih melihat ekonomi Indonesia ini cukup resilient, perkiraannya pertumbuhan ekonomi ini akan berkisar antara 5 persen hingga 5,1 persen pada tahun ini,” ungkap Dian dalam Macro Economic Outlook 4Q-2025 secara virtual, Rabu (3/12/2025).
Sementara pertumbuhan ekonomi kuartal IV 2025, diperkirakan Dian akan tumbuh di kisaran 5,08 persen. Menurutnya, angka itu terutama didorong di periode Natal dan Tahun Baru (Nataru). (Rif)