IMF Nilai Indonesia masih Aman
Di tengah kondisi global yang tidak menentu, kabar optimisme bagi Indonesia datang dari IMF. Indonesia dinyatakan sebagai salah satu negara “bright spot” dalam perekonomian global. Indonesia dinilai memiliki fundamental kuat, kebijakan yang kredibel, serta ketahanan ekonomi yang terjaga di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
IMF dan investor global mengapresiasi konsistensi Indonesia dalam menjaga stabilitas makroekonomi melalui sinergi kebijakan fiskal dan moneter yang solid, disiplin dalam mempertahankan defisit di bawah 3% dari PDB, serta respons kebijakan yang adaptif dan forward-looking dalam menghadapi tekanan eksternal.
“Di tengah dinamika global yang semakin kompleks, Indonesia mampu mengelola keseimbangan antara stabilitas dan pertumbuhan secara optimal, dengan tetap menjaga mmomentum pertumbuhan yang didukung oleh kuatnya permintaan domestik,” kata Managing Director IMF, Kristalina Georgieva, dalam pertemuan dengan Gubernur Bank Indonesia, Menteri Keuangan RI, dan anggota DPR RI pada IMF Spring Meetings di Washington, D.C, seperti disampaikan Direktur Departemen Komunikasi BI, Anton Pitono, dalam keterangan tertulis, Rabu (15/4/2026)
Anton menyampaikan, dalam rangkaian IMF Spring Meetings tersebut, BI melanjutkan outreach dengan para investor global untuk menekankan bahwa perekonomian Indonesia tetap berada pada jalur yang tepat dan terkelola dengan baik di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
Menurutnya, dengan pertumbuhan ekonomi yang tetap solid didukung oleh permintaan domestik yang kuat, inflasi yang terjaga dalam sasaran, serta pemulihan intermediasi perbankan, Indonesia menunjukkan ketahanan yang konsisten di tengah tekanan eksternal.
“BI juga menekankan bahwa respons kebijakan yang ditempuh tidak lagi bersifat konvensional, melainkan melalui bauran kebijakan yang terintegrasi dan adaptif, mengombinasikan kebijakan moneter yang berfokus pada stabilitas, kebijakan makroprudensial yang pro pertumbuhan, serta penguatan sistem pembayaran untuk mendukung aktivitas ekonomi dan digitalisasi,” tuturnya.
Di tengah dinamika global yang semakin kompleks, kata dia, BI menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas melalui pengelolaan nilai tukar yang fleksibel namun terukur, penguatan instrumen moneter untuk menjaga daya tarik aset domestik, serta pengelolaan likuiditas yang hati-hati agar tetap mendukung pertumbuhan.
“Sinergi erat dengan pemerintah dalam menjaga disiplin fiskal, termasuk komitmen mempertahankan defisit di bawah 3% dari PDB serta realokasi belanja ke sektor produktif, turut memperkuat kredibilitas kebijakan nasional,” imbuh Anton.
Dalam jangka menengah, Indonesia juga menegaskan arah transformasi struktural menuju ekonomi bernilai tambah lebih tinggi melalui hilirisasi dan pengembangan sektor berbasis teknologi.
Secara keseluruhan, disampaikan Anton, rangkaian pertemuan ini memperkuat keyakinan investor bahwa Indonesia tidak hanya berdaya tahan, tetapi juga semakin adaptif dan kredibel dalam menjaga stabilitas serta mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan di tengah tantangan global. (Rif)