
“Pada 2025, kami menargetkan pengeboran yang lebih masif termasuk kegiatan stimulasi sumur, reaktivasi lapangan idle, serta penerapan Enhanced Oil Recovery (EOR), Improved Oil Recovery (IOR), dan onstream proyek hulu migas,” kata Kepala SKK Migas Djoko Siswanto seperti dikutip dalam keterangannya.
Djoko mengklaim target lifting 2025 bukan sekadar rencana di atas kertas. Target itu merupakan kontrak komitmen dari Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) yang mencerminkan reputasi masing-masing.
Sementara itu, PT Pertamina sebagai BUMN yang bergerak di bidang migas menargetkan produksi minyak mencapai 748 BOPD pada tahun 2025. Target ini sebagai bagian dari upaya meningkatkan ketahanan energi nasional melalui optimalisasi sektor hulu dan investasi strategis.
Wakil Direktur Utama Pertamina, Wiko Migantoro dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VI DPR RI di Jakarta, mengatakan bahwa hal itu telah masuk dalam Rencana Jangka Panjang Pembangunan (RJPP) di 2025.
“Kalau di RJPP kita tahun depan target produksi kita adalah 748 ribu barel oil per day, di mana domestik 417 ribu barel oil per day dan sisanya kita harapkan bisa dapat dari internasional,” kata Wiko, seperti dikutip Antara.
Pertamina bahkan memproyeksikan produksi minyak di tahun 2029 hingga 914 ribu BOPD. Dari target itu, produksi domestik mencapai 480 ribu BOPD.
Pertamina optimistis target tersebut dapat tercapai dengan penambahan sumber minyak dari lapangan baru maupun optimalisasi sumur eksisting. (Rif)